Kampung dan Kota; Antara Kenyataan dan Khayalan

Dalam senin pagi saya mengajak seorang teman pergi ke kampus. Sambil terus membaca buku ia tidak merespon ajakanku. Kampus memang relatif dekat dengan kosan, langsung berdiri saya keluar menuju kampus. Di depan kampus, saya bertemu dua orang teman, mereka mengajak saya pergi ke kantin. “mumpung belum ada dosen kita sarapan sebentar”. Begtu ajaknya. Ajakan coba saya tolak, tapi mereka bersikeras. Ajakan tidak bisa lagi saya tolak. Di dalam kantin, beberapa mahasiswa/i terlihat serius dalam obrolan. Terdengar suara keras dari arah mereka “kamu kampungan bro…”. Serempak suara tertawa memenuhi ruang kantin mengejek teman mereka.

Sebagai anak yang berasal dari kampung, saya agak tersindir dengan lagak teman-teman mahasiswa itu. Saya terlibat dalam tawa penyindiran itu. Bagi saya, sekalipun yang ditertawakan adalah teman mereka, tapi saat itu sayalah yang mereka tertawai. Mereka bukan saja menertawakan temannya, tapi sesungguhnya mereka telah menertawakan kata “kampung” itu sendiri. Kata “kampung” menjadi bahan ejekan untuk seseorang yang berlagak (berpenampilan) sederhana, pakaian yang tidak bermerek, dan berpikiran yang seperti pikiran kebanyakan orang-orang di kampung. Diam-diam saya marah keras karena saya juga seorang anak kampung.

Pikiran saya mencari-cari sebab apa yang membuat mereka dan banyak orang berpikiran demikian. Padahal mereka mahasiswa, terpelajar, dan berpendidikan. Tapi cara berpikir demikian masih bersarang dalam kepala mereka. Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Bila benar adanya, lantas pada ruang mana lagi yang kita percayai untuk mendidik kita (pikiran dan jiwa) mendidik generasi, mendidik bangsa. Bukankah dunia pendidikan adalah satu-satunya dunia yang dipercayai negara dan banyak masyarakat untuk mendidik bangsa dan anak-anak untuk menjadi lebih baik (berpikiran sehat, berjiwa bersih, dan bersikap mulai) terhadap hidup dan sesama?

Saya juga ingat sewaktu di Malioboro, seorang tua dengan anaknya membeli sebuah mainan anak kecil. Anaknya menolak untuk tidak membeli, sang bapak menawarkan satu permainan lagi, tetap sama, sang anak menolak. Ternyata sang anak lebih tertarik pada sebuah mainan yang ada di tangan seorang bocah kecil di sampingnya. Sebuah permainan yang dianyam dari kulit pohon dan dibentukkan menjadi seperti bola kecil. Akhirnya Sang bapak mengetahui keinginan sang anak, “oh, kamu lebih suka yang ini (sambil menunjuk pada permainan bola kecil milik seorang bocah), waduuh itu jelek, yang ini lebih bagus.. kamu jangan kampungan…”. Bapak ini mengeluarkan bahasa yang sama, sindiran yang sama, pikiran yang sama. “Kampungan”.

“Kampungan”, kata itu menjadi momok dalam pikiran kebanyakan orang. Ia terus menjadi bahan sindiran dan ejekan. Seperti kita sama tahu, “kampungan” berasal dari kata “kampung”, maka mereka yang selalu menjadikan bahasa kampungan sebagai bahan sindiran dan ejekan, berarti mereka telah menganggap kampung sebagai tempat dan ruang yang tidak seharusnya kita tempati, tidak layak, tidak menjamin apa-apa, dan banyak “tidak” lainnya. Dan sering kita dapati dalam banyak tuturan orang, mereka selalu melawankan antara kata “kampung dan kota”.

***

Tulisan ini hendak melihat dan menceritakan dua situasi ruang yang sering menjadi objek pembicaraan orang. Tepatnya ruang hidup orang. Yakni Kampung dan Kota. Di mana-mana orang sering membicarakan tentang perkembangan dan perubahan, ketertinggalan, kekunoan, yang kemudian disandingkan dengan dua ruang di atas. Bahkan ‘perkembangan’ dan ‘perubahan’ seperti telah merasuk jauh di dasar kesadaran semua orang, seakan menjadi satu keyakinan utuh dan niscaya dalam hidup.

Namun masing-masing orang punya perspektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Kota seakan mendapatkan predikat berkembang, maju, dan kampung adalah yang kuno atau tertinggal. Dua kosa kata itu–perkembangan dan perubahan sebagai kota–kemudian tampil sabagai sosoknya di berbagai media, dalam menggambarkan suatu dunia yang berkembang maju dan disaat yang sama menegaskan satu dunia yang tertinggal. Tampil dalam bentuk teks, gambar atau iklan-iklan di majalah, televisi dan ragam media lainnya. Terkadang daerah-daerah tertentu menjadi objek (contoh kota) seperti Jakarta, Bandung, Karawang, dan kota lain yang pada kenyataannya selalu lahir problem sosial. Pengetahuan masyarakat (sosial) telah ditentukan oleh berbagai media tersebut.

Dua kosa kata itu (perkembangan dan perubahan) tidak hanya marak dibicarakan di masyarakat tapi juga di negara, di elit pemerintah kita. Sehingga disusunlah berbagai kebijakan yang mengarah pada dua kosa kata tersebut. Dibuat dan dimuat dalam bentuk draf-draf tebal. Dan konsep perkembangan dan perubahan itu sesungguhnya diciptakan oleh negara itu sendiri. Yang kemudian dikomsumsi oleh masyarakat luas. Dan selanjutnya masyarakat seakan diberi harapan tentang satu ‘dunia masa depan’ yang entah wujudnya seperti apa.

Iya, siapa yang tak mau pada perubahan, siapa pula yang tak ingin berkembang. Saya yakin dan percaya manusia manapun pasti menginginkan dua hal tersebut. Tapi, orang-orang sering lupa tak mau bertanya, seperti apakah perkembangan yang dimaksud, atau perubahan seperti apa yang diinginkan, apa yang akan dirubah. Mungkin kita sengaja tak mau tahu, atau mungkin karena kita telah ditipu oleh satu model pengetahuan yang lain. Sehingga—karena sesuai dengan pengetahuan yang kita konsumsi—kita setuju-setuju saja dengan apa yang umumnya berlaku saat ini. Dan kemudian menganggap semua baik-baik saja.

Seorang bijak pernah berkata “perkembangan yang menyengsarakan manusia adalah kebodohan dan perubahan yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri adalah kesesatan”[1].

Perkataan seorang bijak diatas menyentuh konteks kita sekarang. Bagaiman tidak, manusia-manusia kini lebih mengejar keuntungan sendiri. Keakrabah yang dahulu begitu intim telah dibuang jauh-jauh, tinggal permusuhan. Teman, sahabat, keluarga, semua hanya jadi kebanggaan ucapan bibir, tak lagi punya bobot dalam batin. Padahal, ikatan-ikatan itu yang akan membimbing, memandu kita lalaui jalan hidup yang baik. Padahal dari semua itulah kita bisa hidup. Semua itu kini hanya jadi fatamorgana. Dipandang sesaat dan hilang sudah. Orang kota digusur rumahnya atas nama pembangunan, tersingkir lalu jadi miskin. Orang-orang di kampung terseret dari ruang hidupnya, karena diusir melalui ragam macam kebijakan yang berlaku: konsesi lahan tambang, hutan yang di kapling oleh perusahan dan lain-lain. Tanah jadi sempit, akhirnya mereka terusir lagi, pergi ke kota, menambah kantong kemiskinan kota. Kampung diusahakan, direncanakan, dan terus dirubah esensinya agar menjadi kota.

Mengapa terjadi demikian. Kenapa semua relasi-relasi itu kehilangan hakekatnya? Seperti bagaimanakah perkembangan dan perubahan itu dimaksudkan. Mengapa kota dipandang begitu megahnya, seakan-akan ia adalah masadepan ummat manusia. Sedang kampung seperti sebuah ruang-hidup yang tak menjanjikan malah menyengsarakan. Kampung seperti tak memberikan penghidupan untuk masadepan.

Tapi sejenak marilah kita tengok kehidupan dalam dua ruang ini, kampung dan kota.

Saya masih ingat dahulu di kampung saya, Mabapura, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, sewaktu masih duduk di bangku SD, kami sekeluarga hidup di kebun. Kebun kami dekat dengan sebuah sungai. Untuk makan dan minum kami langsung dari tanaman-tanaman di kebun dan air dari sungai. Bila air sungai puas kita minum, air buah kelapa jadi gantinya. Pohon kelapa berjejeran hampir satu hektar lahan kebun di tumbuhi pohon kelapa. Bapak saya memang sengaja menanam pohon kelapa dengan banyaknya untuk kebutuhan ekonomi uang, demi biaya sekolah anak-anaknya. Tidak hanya kami sekeluarga, tapi cara hidup seperti ini hampir seluruh orang kampung kala itu, sama. Bila pagi menjelang, saya bersama saudara-saudara bergegas mandi di kali untuk pergi ke sekolah. Jarak kebun dan sekolah memang relatif jauh, tapi bagi kami jarak bukan penghalang atau hambatan, kami tak pernah mengeluh tentang itu. semua berjalan dengan senang hati tanpa beban.

Kehidupan kampung seperti ini saya yakin seluruh kampung di nusantara, sama. Sekalipun berbeda dari sisi luaranya. Tapi batinnya, semangatnya, kebahagiaan dan kesederhanaan hidup itu, sama. Sama-sama bersahabat dengan alam nyata. Sama-sama saling rasa merasai dalam satu rumah kosmos.

Ya, memang begitulah ruang kampung itu menampilkan sosoknya, situasinya. Dan ”Bila kita mendengar kata kampung, maka yang terlintas di benak adalah debur ombak, pepohonan yang lebat, gonggongan anjing, sahutan burung di ranting, orang-orang yang sederhana[2]”. Di kampung, kita benar-benar merasakan keeratan hubungan orang-orang melalui interaksi sapa-menyapa dalam bentuk tolong-menolong, gotong-royong dan lain sebagainya. Keeratan hubungan orang dengan alamnya: mencuci pakaian di sungai, berenang di laut bebas bersama ikan-ikan dan terumbu karang, bertani di kebun dan sawah, menyusuri hutan belantara mencari rusa dan hewan lainnya. Betapa kehidupan di kampung tampil dengan apa adanya. Kehidupan yang berjalan dengan kerendahan hati, tak mau ingin yang berlebihan. Orang kampung akan mengambil ikan di laut (memancing) sekedar makan sehari atau dua hari untuk keluarga. Berburu hewan di hutan hanya dengan secukupnya. Tidak dengan rakus menjerat hewan-hewan hutan dengan serakah. Di kampung, alam dan manusia sama-sama saling isi-mengisi, berkelindan satu dengan yang lain. Sama-sama saling lengkap melengkapi dalam kebutuhan hidup. Tak ada kompetisi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Sama-sama saling merawat dan menjaga, sama-sama saling intim dan bahagia. Semuanya, tak ada ego yang berlebihan.

Tapi sekali lagi, dalam hidup sekarang ini, sangat sulit, dan sulit sekali bagi kita mempertahankan hakekat kampung seperti terurai diatas. Kini, kehidupan kampung akan terus dikebiri demi memenuhi kepentingan mereka yang mengatur semua relasi dan sistem yang ada. Kehidpan kampung terus dikejar untuk dieksploitasi sumberdayanya (eksploitasi alam dan manusia). Semua telah diatur sedemikian rupa dan sedemikian canggihnya oleh penguasa dan pengambil kepentingan. Semua intitusi-institusi formal (pendididkan, dan ruang diskursus lainnya) telah diatur berdasarkan kepentingan segelintir orang saja.

Dalam dunia kampus misalnya, kita diharuskan mengambil jurusan yang kita sukai, dan apabila satu jurusan telah diambil, maka jurusan yang lain tidak lagi bisa. Yang berjurusan sosiologi tidak bisa belajar jurusan teknik arsitek, yang jurusan teknik sipil tidak bisa belajar jurusan bahasa. Dan semuanya begitu sebaliknya. Dalam belajar, pikiran kita dibatasi. Potensi kita dipenjarakan. Kita benar-benar dibatasi dalam belajar. Dan semua itu berakhir dengan meraih satu kertas kecil. Ijazah. Kemudian setelah itu kita dituntut untuk bekerja dalam ruang-ruang formal yang juga telah diatur dan berada dalam sistem yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan individu semata. Bukan untuk kepentigan bersama, kepentingan alam dan manusia, manusia dengan manusia.

Akhirnya, produk dari pendidikan (pengetahuan) kita adalah eksploitasi besar-besaran. Tragisnya, kita mengeksploitasi (alam) diri kita sendiri sebagai makhluk paling mulia diantara makhluk lainnya. Kita telah bergeser antara dunia nyata dan khayal. Kita terpontang-panting antara kenyataan dan khayalan.

***

Saya tak pernah yakin, terserah anda bagaiman, bahwa hidup mengajak kita senantiasa bermewah-mewahan, gaya-gayaan, dan sebatas pemuasan diri-sendiri. Saya juga tak percaya bahwa kemenangan dan kemerdekaan hidup ialah mengedepankan keinginan yang berlebihan dan kepentingan sendiri-sendiri. Saya hanya percaya: kebebasan, kemerdekaan, kebahagiaan, serta segala menuju kedamaian hanyalah ketika jalan kesederhanaan kita lalui.

Dengan kesederhanaan, kejahatan bisa luluh, kebengisan jadi kasih. Dengan kesederhanaan, segala masalah datangkan solusi. Dengan kesederhanaan semua jadi hikmah. Diri yang sederhana adalah kekayaan melimpah, kemewahan tiada bandingannya, bahkan dengan seisi dunia.

Bagaimana kesederhanaan dapat kita rengkuh, bila kenyataan hidup ini hari begitu pekat dan sesaknya. Cermin yang mana akan kita pakai melihat diri yang sederhana. Bila orang-orang kini saling melempar caci-maki. Cermin kita retak sudah. Bagaimana kesederhanaan dapat dicapai, sedang kita masih saja rakus terhadap diri sendiri, terhadap alam semesta.

[1] Mahatma Gandhi, dalam Semua Manusia Bersaudara

[2] Surya Saluang dalam Majalah Salawaku edisi 1 2014

Jogja, 12 Desember 2014

Rachmat Marsaoly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s