Kehilangan Kampung

Ibunya berdiri menunggu di depan rumah. Punggungnya agak membungkuk karena beban saloi yang ia gendong di belakangnya. Lama menunggu dan karena berat, perlahan saloi ia turunkan di sebuah tempat duduk. Dari dalam saloi dikeluarkannya berbagai perlengkapan alat-alat mancing: gumala, nilon, air dalam gelong lima liter, dua parang dan satu kuda-kuda.

“Mon… Bamoon, Ayo, nak… kau lama sekali”

“Ia, Bu, sebentar… aku masih terima telepon dari teman kuliah di Jakarta” sahut Mon dari dalam kamarnya.

Sabantar terus.. ah, kau ini.. sabantar matahari mo panas, angin kancang, dan laut bagelombang”. Jawab ibu dengan nada Halmahera kental, sambil kedua tangannya mengupas kulit buah pinang dengan pisau kecilnya.

Terdengar bunyi pintu kamar yang diseret dari dalam rumah. Rupanya Mon sudah selesai telponan, ia mengunci kamarnya. Wajah dan langkah Mon malas dari dalam menuju teras depan.

Dengan wajah heran, ibu memandang tubuh Mon dengan rinci. “Hei, Mon, kita mau mancing di laut bukan di tempat pernikahan. Ganti pakaianmu. Buka celana panjang dan kemejamu itu. Pakai pakaian lama yang ibu taruh dalam lemari”.

“Ah, tidak masalah, Bu, pakai pakaian ini juga” keluh Mon.

“Jangaaan…!” tegas ibunya bernada setengah marah.

Satu persatu ia buka pakaian lama dalam lemarinya. Satu pakaian lamanya sewaktu sma kelas tiga ditarik keluar dari tumpukan pakaian, dan ditatapnya dengan wajah lemah. Perasaanya seperti diaduk. Bukan karena pakaian itu menyimpan memori semasa sma, bukan pula karena itu pakaian favoritnya. Tapi melihat pakaian itu, dan bahkan semua pakaian lamanya, Bamon canggung, malu. Nanti kalau dilihat orang dibilang payah, tertinggal. Bukan anak yang datang dari kota. Mon merasa terasing dari semua pakaian lamanya. Tak biasa.

“Mon… cepat Mon, hari sudah mulai panas. Oh, iya, jangan lupa bawa juga linggis yang ada di dapur, di bawah tungku. Sabantar kita akan mampir ke pulau mengambil biya batu karang”.

Tak ada sahutan Mon dari dalam. Ibu menyusulnya. Sama saja. Mon tak ada. Ia pergi entah kemana. Hingga masuk ke dapur. Pintu dapur yang telah dikunci dua jam lalu, kini terbuka setengah. Ibu curiga, barangkali Mon keluar lewat pintu belakang.

Akhir-akhir ini Mon selalu begini. Setiap kali diajak ke laut, setiap itu pula Mon penuh alasan tak jelas. Dan pergi tanpa pesan seutas. Tanpa pamit. Tingkahnya mulai aneh.

Ibu Mon gelisah, sedikit marah, tapi di mana harus menemukan Mon. Susah. Ibu membalikkan badannya. Keluar ke teras depan. Duduk lagi bersama peralatan-peralatan mancingnya. Bingung, Mon di mana. Pandangannya menyapu jalanan. Pada siapa saja yang lewat, ia menanyakan Mon. Tak ada yang melihatnya. Dalam hatinya berkata, bagaimanapun, hari ini kita harus makan ikan. Ya, harus pergi mancing. Sudah tiga hari tak ada ikan di rumah. Hanya mie goreng dan ikan kaleng. Padahal kita ‘kan tinggal di pesisir, kita orang laut, kita bangsa nelayan. Batinnya.

Hari mulai terik, angin kancang bertiup, riak-riak air laut terlihat memutih. Bagelombang. Ibu Mon masih duduk bersama barang perlengkapan mancing. Pinang yang dikupas tadi ia makan dengan buah sirih dan kapur. Dikunyanya hingga merah tua seisi mulutnya. Nikmat. Tapi duduknya tak tenang, mulai berhati gelisah. Apalagi cuaca laut mulai berubah. Bagelombang. Memang, orang laut sudah teruji mapan pada cuaca laut demikian. Tapi jumlah umur yang sudah mencapai lima puluh tujuh tahun itu cukup menghilangkan setengah keberanian seorang ibu Mon.

Yang mengherankan baginya adalah tindakan Mon itu. “Tak pernah Mon bertindak begini, sebelumnya”. Cetusnya heran. “Sebelum Mon kuliah di Jakarta, ia adalah anak yang penurut, patuh pada orang tua. Kenapa tiba-tiba pulang-pulang dari Jakarta, ada perubahan drastis dari seluruh sikapnya, bahkan cara berpakaianya”. Ibu Mon mengenang. Heran.

Ah, Mon pasti tidak berniat ikut ke laut. Seperti biasa, ia pasti sudah berkumpul bareng teman seagkatannya sekarang. Duganya dalam hati. Lalu siapa yang siap mengganti Mon hari ini. Lama pikirannya mencari-cari siapa yang akan mengikutinya mancing. Kepalanya diangkat, pandangannya ke laut lepas. Tak sabar ingin ke laut lagi. Lumayan lama tidak mancing, ambil biya batu karang, dan bakar ikan di pulau. Padahal rumah dekat pantai, hanya lima belas langkah lebih sedikit, kaki sampai di bibir pantai. Setiap kali ia pandangi laut luas itu, selalu terbayang, terkenang suaminya dahulu, sebelum suami bekerja sebagai karyawan tambang. Mereka adalah sepasang suami istri petani dan nelayan. Seluruh hidup, entah kebutuhan harian hingga bulanan, dicurahkan seutuhnya pada kebun, pada laut. Ia berharap, hari ini suaminya tiba-tiba pulang dan menemaninya pergi mancing, seperti saat-saat itu. Saat-saat ketika mereka mendayung bersama, mencari ikan bersama, menggali biya bersama, menghadang badai bersama, dan seluruhnya bersama. Tapi ia sadar. Ini bukan kerja di kebun atau laut, bisa pulang semau hati.

Ini kerja di perusahan. Peraturannya minta ampun. Berlapis-lapis. Bertingkat-tingkat. Ketat sekali. Mana mungkin ia akan pulang secepat itu. Dan ya, memang, semuanya memang tak bisa lagi. Lalu matanya tertutup sejenak, menarik nafas panjang, dikeluarkannya pelan. Dadanya yang sesak jadi longgar kembali. Pikirannya yang melayang-layang tak jelas dikendalikannya lagi. Ia beranjak dari tempat duduk itu dengan kejenuhan yang bersarang di dadanya. Dan dimasukkannya semua peralatan mancing ke saloi. Keadaan memutuskan, tak jadi mancing hari ini. Lalu dibawa masuk semua barang-barang ke dalam rumah. Seisi rumah sepi. Suaminya pergi kerja, Mon belum juga pulang di rumah, adik Mon masih di sekolah.

Di luar rumah, matahari mulai beranjak ke tengah. Teriknya menguasai kampung Wefli. Menyinari apa saja. Jalanan kampung sepi dari orang-orang. Hanya beberapa suara sepeda motor yang lewat di jalan depan rumah. Lalu suaranya menghilang.

Karena tak jadi mancing, keinginan lain muncul dalam hatinya. Ia ingin ke kebun. Tapi sayang, keinginan itu seperti angin lalu, pupus. Karena tiba-tiba ia juga teringat dua hari lalu ke kebun, betapa sepinya. Tetangga-tetangga kebun pun tak pernah terlihat. Karena itu ia takut sendiri. Apalagi sekarang matahari sudah sangat terik. Pergi ke kebun dan laut mesti pada saat hari masih sangat pagi. Dan Ibu Mon cuma bisa duduk di dapur dengan hati penuh gundah sambil memenugkan keadaan.

Dalam permenungannya, muncul di kepalanya: kampung Wefli yang sudah sepi dari suara babatan parang ke rumput, suara cangkul ke tanah, dan kuda-kuda ke rerumputan kecil. Sepi dari suara riang anak-anak menangkap ikan di sungai. Tentang pohon-pohon pala di seberang lembah yang tak lagi terurus samasekali akan masuk ke dalam area konsesi perusahan. Lautnya yang sunyi dari perahu. Sunyi dari suara dayung nelayan.

Padahal dulu, setiap pagi-sore, laut ditaburi perahu nelayan. Lima pulau di depan kampung Wefli, dalam setiap bobanenya hampir dipenuhi orang yang singgah mencari tempat teduh, istirahat, bakar ikan hasil pancingan, dan anak-anak yang memang suka berperahu ke pulau. Kini, beberapa pulau telah dikeruk habiskan perusahan. Bobane-bobane yang penuh gaku, dihancurkan.

Ibu Mon sadar, semua suara dan pemandangan itu kini hilang ditelan suara traktor yang mengeruk punggung gunung dan pulau untuk nikel, dan suara klakson mobil-mobil raksasa di jalan-jalan perusahan yang menggusur kebun warga. Ya, semua itu hilang saat orang kampung berbondong-bondong menjual kebunnya ke perusahan, dan melamar kerja di perusahan. Saat orang-orang mengiming-imingkan kampungnya jadi kota.

Kemudian ia teringat perkataan suaminya saat akan melamar di perusahan waktu lalu.  “kerja di perusahan mudah mendapat uang, Bu.. apalagi gajinya yang sangat besar. Jadi jangan heran, banyak orang kampung melamar kerja di sana, tak peduli model kerjanya seperti apa dan bagaimana. Yang terpenting bisa kerja di perusahan agar cepat bisa memegang uang jutaan rupiah. Tidak seperti di kebun dan laut yang kerjanya susah dan lama baru bisa dapat uang. Lagi pula, kehadiran tambang ini akan membawa kemajuan di kampung kita. Seperti yang dikatakan perusahan dan pemerintah itu. Iya, ‘kan, Buu…?”.

Kenapa bisa terjadi… kenapa bisa begini… ibu Mon berontak dalam hati. Masih tidak puas dengan perubahan-perubahan itu.

Ia terbangun dari permenungannya saat pandangannya menyentuh piring dan gelas yang berhamburan di atas lantai dapur. Cepat-cepat ia bangkit dari duduknya, langsung menuju piring dan gelas yang dipakai sarapan pagi tadi. Ia cuci bersih. Selesai. Dan tak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Ia duduk lagi, termenung lagi. Setiap kali memenungkan keadaan kampung, setiap itu pula hatinya marah, lalu kecewa, kemudian sedih, dan hanya bisa menerima keadaan, akhirnya. Begitu seterusnya. Padahal, tubuh ibu Mon tidak biasa begini. Tak biasa mengerjakan pekerjaan santai. Apalagi hanya duduk-duduk. Ibu Mon telah terbiasa dengan pekerjaan kebun dan laut sejak anak-anak hingga dewasa. Bahkan setelah menikah. Tapi kini, semua serba santai, kaku. Dan aktifitas serba santai menjenuhkan ini baru ia alami setelah suaminya harus menghabiskan hampir seluruh waktunya di perusahan tambang, bekerja sebagai karyawan. Suami akhirnya jarang di rumah, mereka jarang bersama-sama. Kebersamaan datang jika tiba libur kerja. Itu pun hanya sehari. Selain itu hanya beberapa jam saja.

“Apakah semua istri karyawan tambang merasakan hal sama seperti aku?” ia keluh kesah.

Ditambah dengan sifat dan sikap Mon yang sudah berubah. Mon tidak lagi seperti dahulu yang senang ikut ibu-bapak kemana-mana. Ke kebun, ke laut. Perasaannya dikoyak, sesak.

“Yah, begitulah anak kuliahan, apalagi kuliahnya di kota, kebiasaan anak sekolahan sekarang megang buku dan laptop. Bukan kail, jala, parang atau cangkul”. Batinnya mencoba membenarkan keadaan.

Suara perempuan memberi salam dari teras depan. Itu suara Jisma, adik perempuan Mon yang kini sudah smp. Ia baru pulang sekolah. Setelah menyalami tangan ibunya, ia menuju kamar menggantikan pakaian seragam, sambil memanggil-manggil kakaknya.

“Kakak… Kak Mon, kak Mooon. Kakak di mana, Bu?”

“Ibu tak tahu kakakmu di mana. Pagi tadi Ibu mengajak dia mancing di laut dan ambil biya batu karang. Awalnya dia mau ikut, tapi saat ibu menunggunya di luar, tiba-tiba dia menghilang”.

Jisma memang dekat sangat dengan kakanya. Setiap kakanya pulang kampung, Ji selalu senang. Bahagia. Kakak kandung satu-satunya yang ia miliki di dunia.

“Ma, aku lapar!”

“Maaf, nak, siang ini kita cuma bisa makan nasi dan mie goreng. Andaikan tadi kakakmu ikut. Pasti siang ini kita makan biya batu karang dan ikan rebus”.

“Iya, tidak apa-apa, Bu. Malah aku lebih suka mie goreng atau nasi bungkus dari perusahan yang biasa dibawa bapak. Ketimbang ikan rebus dan biya batu karang”.

“Kenapa dengan ikan rebus dan biya batu karang, Nak?”

“Kata kak Mon, itu makanan ‘kampungan’. makanan itu tidak modern, makanan yang ketinggalan zaman, katanya.  Hehehe…”

Mendengar jawaban anaknya, ia tak lagi menjawab. Tenggorokannya sesak. Hatinya terguncang, seperti dikoyak. Sedih, marah. Kenapa mereka memandang makanan kampung itu jelek. Padahal makanan-makanan itulah yang membesarkan kalian sejak kecil. Makanan para orang tua-tua kalian sejak dahulu. Makanan para leluhur kalian. makanan yang dapat membuat kalian selalu menghargai dan menghormati kampung. Karena kampung adalah juga ibu bagi kalian. Ia hanya bisa melontarkan nasehat itu dalam dirinya sendiri. Sebab bukan hanya anaknya yang dimarahi, tapi juga keadaan kampungnya yang disalahkan. Bahkan bisa jadi pada dirinya sendiri.

***

Di sebuah pagi, seorang teman Mon bertanya, “hei Mon, kenapa kau tak ikut ibumu pergi ke kebun?”

“Gengsi dong…” Jawab Mon sontak. Serius. “Masak ke kebun? Aku kan calon sarjana, tidak cocok kerja di kebun. Cocoknya kantor bro… kantooor..”

Berkuliah selama bertahun-tahun itu, membuat tubuh Mon tidak lagi terbiasa menjamah kerja-kerja kampung. Mon yang selama bertahun-tahun di Jakarta hanya bisa memegang bolpoin, laptop dan kertas, kini tangannya tak lagi akrab dengan parang, cangkul, nilon, dayung, dan alat-alat kerja kampung lainnya. Tubuhnya benar-benar terasing dari semua itu. Bukan sekedar tubuh, pikirannya yang diisi dengan berbagai hal baru selama di kota, membuatnya telah berjarak dengan semua hal kampung. Matarantai dan memori kampung dalam dirinya putus dan hilang perlahan.

Dan setiap hari, hati ibu Mon gundah. Selalu gelisah dengan kesunyian, kesepian, ketidakceriaannya dalam kampung, dalam rumah, yang ia alami dan lalui dari hari ke hari. Dalam kesepiannya, selalu ia berkata “aku telah kehilangan kampungku. Kami kehilangan kampung”.

Dan semua orang tak pernah tahu yang ia rasakan. Sendiri.

Rachmat Marsaoly
Mabapura, 1 Februari 2016

Keterangan:

Saloi: tempat menaruh peralatan kebun dan laut bagi petani dan nelayan yang terbuat dari anyaman rotan

Gumala: Kail

Nilon: Tali penghubung untuk kail

Kuda-kuda: Alat pemotong rerumputan kecil di kebun

Sabantar: Sebentar

Mo: Akan

Kancang: Kencang

Bagelombang: Bergelombang

Sagu tumang: Sagu yang telah dimasak, dipotong kecil-kecil berbentuk segia empat panjang

Biya batu karang: Kerang yang menempel di batu karang

Bobane: Tempat-tempat yang biasa di singgahi orang kampung sejak para leluhur dan mempunyai ragam cerita. Juga dipercayai sebagai tempat keramat orang kampung.

Gaku: Kekayaan yang melimpah. Kekayaan alam, kekayaan harta karun, dan kekayaan ghaib (ilmu metafisik).