Maluku dalam Kolonialisme

Maluku zaman kolonial

Maluku: sebuah negeri maritim di negeri timur Indonesia. Suatu negeri dikenal dengan negeri Seribu Pulau. Ia punya ragam sosial budaya dan kandungan sumber daya alam yang melimpah. Itu sebabnya di masa silam Kepulauan Maluku selalu dikejar-kejar oleh berbagai negara asing. Maluku menjadi mata rantai perdagangan dunia di masa itu. Dengan rempah-rempah (cengkeh dan pala) sebagai komoditi yang paling utama, turut mewarnai sejarah dunia. Dalam banyak literatur sejarah menyebutkan, dari abad ke-7 pelaut China Dinasti Tang kerap berlayar ke Maluku mencari rempah-rempah. Kemudian pada abad ke-9 pedagang Arab juga menemukan Maluku setelah terombang-ambing mengarungi samudera Hidia. Selanjutnya pada abad ke-14 merupakan era perdagangan rempah-rempah di Maluku. Berbagai macam negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris berlomba-lomba merebutnya. Negeri yang di dalam sejarah sering disebut sebagai negeri yang di janjikan ini mengundang banyak penggemar kekayaan berbondong-bondong menyerbunya karena hasil alamnya berlimpah.

Tak pelak pada abad ke 14 sekitar tahun 1512 armada Portugis yang dipimpin oleh Antonio de Abreu mencapai Banda dari Malaka untuk melihat dan mengambil hasil kekayaan alam Maluku. Kemudian pada tahun selanjutnya 1513 armada kedua menyusul di bawa pimpinan kapten Antonio de Miranda Azevedo berhasil masuk Kepulauan Maluku dan mendirikan pos dagang pertama di Ternate dan Bacan. Dan di tahun yang berbeda 08 november 1521 pimpinan armada Spanyol Fernando Magalhaes berlayar dari Filipina ke Tidore. Dari sanalah di mulai perdagangan rempah-rempah besar-besaran dan sistematis. Puncaknya, di tahun 1596 (akhir abad ke-14), Cornelius de Houtman dari Belanda memulai pelayaran lagi ke Maluku. Dan masih pada tahun yang sama, disusul lagi oleh armada Inggris di bawa pimpinan Henry Middleton. Di sini pula terjadi persaingan sengit antara berbagai negara-negara dunia. Namun, akhir persaingan itu dimenangkan oleh Belanda. Dan pada tahun 1602 Belanda membentuk VOC, untuk mengelola monopoli dagang mereka atas rempah-rempah Maluku[1]. Inilah yang disebut sebagai Kapitalisme rempah-rempah.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, monopoli kekayaan Maluku oleh para kolonial senantiasa berlangsung. Para kolonial perlahan-lahan merubah sistem dan tatanan adat Orang Maluku. Perlawanan dan pemberontakan digencarkan. Maluku sempat mengalami masa gemilang beberapa waktu. Tapi setelah raja-raja Maluku tersebut runtuh, cerita lama berulang kembali. Maluku tak dapat menembus dinding tebal yang bernama kolonial. Setiap pemberontakan rakyat Maluku selalu saja redup karena Raja-raja Maluku dibuat tunduk di bawa pemerintah kolonial, dan Orang Maluku dijadikan budak mereka.

Tiba pada tahun 1797, Sultan Nuku muncul sebagai tokoh yang mengobarkan perlawanan terhadap VOC. Saat itu ia berupaya menaklukkan seterunya di Ternate dengan menjalin kerja sama dengan EIC (East Indian Company) milik Inggris yang bisa menjadi tandingan bagi VOC. Perlawanan Nuku kepada VOC Belanda diikuti oleh kelompok-kelompok dari Raja Ampat, Salawati, Misol, Waigeo, Seram Timur, tanjung Onin dan Papua. Namun, VOC tak tinggal diam. Dalam menaklukkan kekuatan-kekuatan lokal di Maluku, pada awal abad ke-17, VOC mengambil alih tradisi hongi dan memodernkannya dengan kapal-kapal VOC yang dipersenjatai dengan alat yang lebih baik. Satu armada hongi terdiri atas 46 kora-kora ditambah dengan puluhan kapal VOC, yang keseluruhannya bisa dari 100 kapal. Armada sebesar itu tujuannya satu, menebar teror dan menunjukkan kekuatan VOC kepada semua pihak di Maluku[2]. Menurut sejarah, hubungan orang-orang Papua dengan Tidore telah terjalin dalam waktu yang panjang jauh sebelum abad ke-16.

Tidak seperti para sultan dan raja Maluku sebelumnya yang patuh terhadap penjajah. Nuku selalu membuat perlawanan yang tak henti-hentinya. Hingga akhirnya perjuangan Nuku (1790-1805) __beserta pejuang-pejuang Maluku yang lain__ berakhir. Sistem kolonial hadir kembali dan di pentaskan lagi di masa-masa selanjutnya, hingga kini.

Sekilas tentang perjalanan sejarah Maluku di atas merupakan bukti Maluku adalah pusat hegemoni pertama di Indonesia (sebelum Indonesia bagian barat).

Maluku zaman nasional

Sekitar akhir abad ke-18 ketika pusat hegemoni bergeser ke arah barat (dari komoditas rempah Maluku ke komoditas kayu jati, nila, tebu, kelapa sawit dan tembakau), Maluku tak lagi di soroti. Eropa mulai menyoroti Indonesia bagian barat terutama Pulau Sumatera dan Jawa. Di sanalah Belanda merintis perkebunan yang ada di pulau Jawa dan Sumatera.

Masuk pada abad ke-19 Kolonialisme Belanda hampir menggenjot habis kekayaan yang ada di Pulau jawa dan Sumatera dengan mengadakan sistem Tanam Paksa. Sedemikian rupa, kemudian Belanda mulai merancang pusat-pusat pembangunan berupa dibangunnya rel kereta, Jawa dan Sumatera. Termasuk di bangunnya Jl. Raya Pos Deandels pada tahun 1808-18011. Semua ini dibuat tidak lain hanya untuk mempercepat arus investasi.

Berlanjut pada abad ke-20 kebangkitan nasionalisme Indonesia mulai terlihat, yang berpusat di Jawa. Dan abad itu pula Maluku menjadi pusat persembunyian para anti kolonialisme. Seperti yang diceritakan dalam Orang-orang Kalah, bahwa ketika para pejuang Indonesia berhasil mengalahkan kolonialisme, dan pada 17 agustus 1945 Indonesia menyatakan diri merdeka, tak lama kemudian pada tanggal 25 april 1950 para intelektual Maluku yang dipimpin oleh Dr. Soumokil memproklamirkan Negara Republik Maluku Selatan (RMS) dan menyatakan diri terpisah dari Republik Indonesia. Pergerakan untuk memerdekakan RMS ini didukung penuh oleh pihak Belanda. Namun Jakarta berhasil menundukkan itu.

Dan selama hampir dua dasawarsa (atau sekitar tahun 1960-an) Kepulauan Maluku praktis dipertimbangkan pada tingkat Nasional dalam kerangka kepentingan strategi geopolitik dan geomiliter semata-mata. Kepulauan Maluku menjadi sangat penting ketika Jakarta menjadikannya jumping point merebut Papua barat dari Belanda pada awal tahun 1960-an. Maluku menjadi barak tahanan politik besar dunia, ketika puluhan ribu anggota PKI diasingkan ke pulau Buru oleh pemerintah Orde Baru Indonesia[3].

Pada masa berkuasanya Orde Baru Indonesia kemudia memberlakukan sistem ekonomi dengan model ekonomi pertumbuhan yang diadopsi dari teori ekonomi Ww. Rostow (baca: Teori Pertumbuhan). Salah satu praktik model ekonomi ini adalah dibukannya ruang industri dengan sangat meluas di berbagai wilayah Indonesia.

Maluku kembali dimasukkan dalam agenda-agenda pembicaraan nasional, setelah Orde Baru melancarkan ekspansi modal dan kekuasaanya. Pada tahun 1970-an, penangkapan ikan tuna di perairan Maluku mulai beroperasi efektif. Berbagai macam konsesi perusahaan kayu dan tambang di buka di berbagai wilayah timur Indonesia termasuk Maluku. Dan untuk memperluas ekspansi maka didukung pula dengan dikeluarkannya Peraturan Direktur Jenderal Agraria dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 1967 Tentang Penggunaan Tanah di Daerah Transmigrasi dan Hak-hak atas Tanah untuk para Transmigran dan Keluarganya. Dan berbagai macam peraturan pemerintah Orde Baru lainnya.

***

Sekarang bila kita hendak bercerita sambil bertanya tentang bagaimanakah wajah Kepulauan Maluku hari ini, maka isi cerita yang tertuang di dalamnya adalah sebuah proses penyingkiran dan penghancuran sistem dan budaya orang-orang asli Maluku dari ruang hidup (tanah) mereka sendiri. Sebuah drama tragis yang dimainkan oleh sebuah ‘sistem baru’ yang hadir merubah sistem dan budaya orang Maluku. Beragam macam postulat tentang pembangunan, kemajuan dan kesejahteraan yang adalah juga baru hadir di tengah-tengah masyarakat, membuat mereka seperti merasa baru hidup kembali, hidup yang sebenar-benarnya, lalu kemudian mula-mula hadirlah asumsi bahwa kehidupan yang dahulu bukanlah kehidupan yang baik, tertinggal, dan terbelakang. Inilah yang sangat mengherankan. Dengan sangat tiba-tiba, tanpa secara aktual diperbicarakan model perspektif tentang kemajuan dan kesejahteraan ini di kantor, sekolah, warung-warung, di beranda-beranda rumah, hingga (barangkali) di dalam kamar. Dengan sangat serentak menerima postulat-postulat ini. Kemajuan yang sejatinya adalah sebuah kemunduran, kesejahteraan yang sesungguhnya ketertindasan. Semua hal (kemajuan dan kesejahteraan dll) yang menggenjot sadar orang Maluku hari ini, sebenarnya telah berperan lama dalam sejarah panjang dari Maluku zaman kolonial hingga Maluku zaman nasional.

Kepulauan Maluku yang dikenal dengan kepulauan rempah-rempah, masih tetap tumbuh subur di sebagian wilayah Maluku, cengkeh dan pala masih berbunga dan berbuah lebat, nelayan dan petani masih asyik memanen hasil laut dan kebunnya, para petani cengkeh dan pala masih menikmati itu, masih tetap memproduksinya demi kebutuhan ekonomi mereka. Tapi, ada ironi di sana. Negeri yang asas ekonominya adalah rempah-rempah, nelayan dan petani, kini hanya sebagian kecil Orang Maluku yang menikmati itu, yang masih memperhatikan sektor riil (pala cengkeh, pertanian dan nelayan) untuk kebutuhan ekonomi mereka, dan masih menghidupi budaya asalnya. Dan betapa sengit bila kita memandang nasib orang-orang demikian di negeri Maluku hari ini. Mereka di pojoki, di musuhi dan kemudian di marjinali oleh sebuah ‘sistem baru’ yang mengganggu tatanan hidup mereka. Dengan ‘senjata ampuh’ mereka “pembangunan dan modernisasi”, iming-iming kemajuan dan khayalan kesejahteraan.

Dan sekarang predikat ‘Maluku pulau rempah-rempah’ seperti tenggelam dalam lautan modernisasi dan globalisasi di republik ini, dan kemudian hadir di permukaan menyandang predikat sebagai ‘Maluku pulau tambang’. Sampai saat ini, berita tentang kemajuan dan kesejahteraan masih mengaung keras dalam sadar orang Maluku. Segala yang dapat melenakan orang Maluku dengan konsep-konsep baru tentang kesejahteraan selalu didukung dan dipertahankan bahkan diperkuat lagi oleh negara sendiri melalui berbagai reformasi UU dll sebagainya. Terlihat jelas bahwa konsep-konsep baru ini seperti telah menjadi ideologi yang kuat mengakar. Apa yang terjadi selama puluhan bahkan ratusan tahun itu samasekali tidak dimengerti dengan jelas oleh orang Maluku sendiri. Nyaris, dari dahulu hingga kini orang Maluku bukanlah pelaku utama dalam desain pembangunan dan konsep kemajuan itu. Bahkan yang menyebut orang Maluku sangat jauh tertinggal dalam konteks pembangunan bukanlah orang Maluku melainkan orang-orang yang menduduki tempat di dalam ruang-ruang penciptaan konsep-konsep baru itu. Sedemikian tertinggalnya Maluku itu dalam perspektif pembangunan, sehingga banyak sekali perencanaan-perencanaan yang diatur dalam sistem dan agenda-agenda negara. Semua sistem yang ada hari ini adalah sebuah sistem yang dirancang sedemikian rupa dari zaman kolonial hingga post kolonial (Orde Baru). Kecuali di masa Orde Lama.

‘’Maluku belumlah dikatakan Maluku yang sejahtera bila pembangunan belumlah merata’’. Kata-kata itu senantiasa diulang kembali, dan terus diulang dalam banyak agenda negara. Kata-kata ini kemudian merembes masuk kedalam ruang sadar Orang Maluku pada umumnya. Dari anak-anak umur dini hingga pada orang tua. Sehingga kata-kata itu sendiri mencari tempat dan waktunya dalam mentransformasikan bentuk nyatanya dalam realitas riil.

Maluku, sejak pada zaman kolonial hingga nasional, adalah sebuah pulau yang terus dikejar SDA dan ‘membunuh mati’ SDMnya. Maluku, dari beberapa pergantian orde, pasca reformasi hingga sekarang selalu saja, dalam pandagan konsep pembangunan modern belumlah sempurnah. Maluku selalu menjadi cacat dalam pandangan pembangunan itu. Ia mesti diubah senantiasa dan didesain selalu. Hingga akhirnya demi mencapai Maluku yang sebenarnya, ia seperti harus mengorbankan dirinya agar di ‘mutilasi’. Padahal sebaliknya, Maluku benar-benar mengalami aberasi yang jauh dari wajah asalnya dan watak ekologinya yang sebenarnya. Tapi, sampai sekarang belum ada suatu status Maluku yang jelas terlihat, kecuali pengalienasian Orang Maluku dari ruang hidup, pemarjinalan orang-orang Maluku dari sumber-sumber hidupnya. Itu semua dijalankan demi mencapai tujuan pembangunan modern. Adalah sebuah pengerukan sumber daya alam habis-habisan oleh beragam macam koorporasi raksasa, hingga yang tetek bengeknya. Dari perusahaan berlevel multinasional, perusahaan negara (BUMN), hingga pada yang swasta.

Bila kembali kita membuka sejarah Orang Maluku, bagaimana mereka menjaga negerinya dari serbuan kolonial, sungguh tak ada celah kosong di sana, kecuali semuanya bersatu-padu dalam perlawanan dan perjuangan mempertahankan kearifan ekologisnya sendiri, memperkuat sistem adat istiadatnya agar terjaga murni. Tapi, bagaimanakah wajah sejarah kita hari ini, seperti apa kearifan ekologisnya dan bangunan-bangunan artistik yang sarat nilai filosofis. Seperti apakah asas tenurial Orang Maluku itu. Maka tak bisa kita berharap banyak masih dapat melihat kesejatian wajah sejarah Maluku itu. Praktik kehidupan sosial-budaya orang Maluku hari ini tak berbanding lurus dengan ajaran luhurnya yang sebenarnya.

Semakin hari di Maluku semakin diterpa badai eksplorasi dan eksploitasi. Janji-janji kemajuan dan kesejahteraan berbarengan dengan pengerukan sumber daya alam Maluku. Industrialisasi merajalela. Koorporasi raksasa dengan bebas menancapkan kukuhnya di tanah Maluku. Orang Maluku yang tak mengerti apa-apa dengan ‘dunia baru’ (industrialisasi) yang tiba-tiba masuk itu dan hanya mampuh mengikuti semua yang ada tanpa mampuh bertanya kembali, merefleksikan ulang tentang eksistensi ‘dunia baru’ (industrialisasi) tersebut. Lahan-lahan pertanian dan perikanan dijual habis kepada pihak perusahan dengan harga murah. Ruang hidup Orang Maluku nyaris hilang. Krisis hari ini berlanjut tanpa siapa di yang pandang.

***

Apa yang mesti dilakukan Orang Maluku atau bahkan Indonesia pada umumnya adalah memandang ruang hidupnya (tanah) sebagai bagian dari dirinya. Di manapun ruang hidup yang ia tempati. Membangun intensitas kesadarannya di setiap hari. Sebab, kapitalisme mutakhir justru bekerja dalam keseharian manusia untuk mengakumulasi ruang kesadarannya. Dan karena setiap manusia memiliki relasi yang niscaya dengan alam yang ia tempati. Dibantu dengan membangun diskursus di setiap masing-masing kampung (tempat). Melakukan riset sejarah dan membuka luas konektivitas ruang belajar dalam mengkritisi situasi sosial hari ini.

[1] Sumber: Orang-orang Kalah: Kisah Penyingkiran Masyarakat Adat Kepulauan Maluku (Roem Topatimasan: editor, P.M. Laksono :pengantar)

[2] Sumber: Pemberontakan Nuku, Persekutuan Lintas Budaya di Maluku Papua Sekitar 1780-1810(penulis: Muridan Widjojou, penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta)

[3] Sumber: Orang-orang Kalah :Kisah Penyingkiran Masyarakat Adat Kepulauan Maluku (Roem Topatimasan: editor, P.M. Laksono :pengantar)

Jogja, 19 Maret 2013

Rachmat Marsaoly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s