Alam Hanyalah Barang Dagangan?

Bumi makin jauh dari tapak manusia

langit bagai jatuh di pundak mereka

diam juga tak bisa kini menuai arti

karena gerak-gerik sang petani di atas belati

para nelayan perlahan kehilangan kemudi

Sesiapa di batas ladang bertahan

hantu dari negeri seberang tak di kenal

datang mengganggu nasib orang kecil

apa artinya tanah, Bila bumi makin jauh dari tapak manusia

apa arti lautan bila nelayan jauh dari ikan

apa artinya langit, bila siang dan malam jadi sia-sia

lalu di manakah kemanusiaan jika alam dipandang hanyalah barang dagangan?

SAINS, Malabar-Bogor 2015

R-M

Di Rahim Sepi

Tiba-tiba pelita kamarku padam
seisi kamar berubah menjadi kelam
perlahan aku bangun dari pembaringan
tepat di depan cermin
wajah tak jelas ku saksikan
wujudku hanya bayangan
yang hadir di keremangan

Sedang kamar tak kunjung terang
tak juga tenang
di dalam bayang-bayang
tangan meraba-raba mencarinya
pintu hati yang entah dimana
membuat diri tak berdaya

Oh pintuku, hatiku jangan kau tutupi
keluarkanlah aku dari sepi kamarku
dari sepi hatiku

ku lemparkan pandanganku keluar jendela
pepohonan serempak diam
tanpa kata atau bahasa
dedaunan yang berguguran
tak mau menyentuh tanah
seakan menyaksikan kesepianku
segumpal udara malam menyambar wajahku
ku hirup ia beraroma wangi tubuhmu
dan aku terkenang kepadamu

Di sepi kamarku kau kosong
di mata duniaku kau hilang
tapi hadirlah engkau
dalam diam batinku
di rahim sepiku
RM, Jogja 05042013

Seruan Kearifan Lokal

Aku dilahirkan dari garba ibunda

tumbuh besar riang bermain di atas tanahmu

ku saksikan megah lukisan Tuhan di negeriku

lautan tenang, pulau-pulau berjubah hijau berjejeran

memberi senyum damai padaku dan negeriku

Terdengar bunyi genderang dengan syair Lala

membatin dalam diri masyarakat

meruang melintasi cakrawala hingga Arsy Tuhan

lalu menjelma jadi tarian-tarian sufistik

membuat negeriku bak negeri Sulaiman dengan kerajaan jin

Tetapi, damai negeriku cuma sesaat

pulau-pulau berjubah hijau

berubah merah menyesatkan

senyum damai kebahagiaan, berubah kebencian yang dahsyat

Mereka yang datang di waktu pagi

dengan bebas mengambil tahta negeriku

menancapkan hak di atas keringat

dan darah para leluhur

Syair–syair Tauhid terkubur

di antara impitan karya-karya raksasa

setiap kemegahan yang didirikan

dibangun dengan biaya darah

dan daging mereka yang terpinggirkan

air mata negeriku tumpah lagi

Oh,  Gisbayo merintih mengenang penderitaan leluhur

kau menangis melihat penguasa dzalim bermain-main

Wahai para merpati muda

kepakkan sayap putihmu

menuju ruang pengetahuan dan spritual

hingga kembali engkau dengan kedua sayap hikmahmu

janganlah takut pada kejatuhan dan reruntuhan

karena dari kejatuhan ada kebangkitan

dari reruntuhan terbangun menara-menara tinggi

Lihatlah dirimu

lihatlah negerimu

berapa banyak sudah berdusta kau padanya

berapa banyak sudah berkorban kau untuknya

saat ini negerimu tidak butuh uang

negerimu tidak butuh pembangunan

karena telah muak ia dengan uang-uang korup

telah muak dengan ketidakadilan pembangunan

Lihatlah dirimu

lihatlah negerimu

berikanlah bunga hikmah padanya

lalu tancapkan tongkat Musa di atasnya

bangunan kesadaran bangunlah di dalamnya

karena itu buat ia senyum kembali

Mengapa harus pasrah jadi burung kecil

bangunlah sarang di bukit yang tinggi

lebih tinggi dari persemayaman sang garuda

biarkan sarang dibalut kilat dan petir

agar lebih layak kita gumuli perjuangan hidup

dan jiwa raga menyala dalam api kehidupan dan cinta

Yogyakatra, Umbulharjo, 04–Januari–2012

Kehidupan Puisi

Ini kehidupan adalah air yang mengalir
Deras dan lambat itulah nasibnya
Adalah kesunyian masing-masing tulis Chairil
Hanya aku, tanpa kamu, kita atau mereka

Ini kehidupan adalah udara yang mengelus perlahan
Tanpa henti tanpa ragu menghidupkan raga
Tapi sayang, nafas terkadang sesak

Ini kehidupan adalah puisi
Kata-kata yang tak pernah berselisih
Adalah suatu diksi dari nyawa, kata Umbu
Puisi selalu mengisi di segala sisi
Puisi tak pernah mengadu

Tapi sayang, puisi sering tersisih
Di mata orang yang tak tahu puisi
padahal hidup tak pernah berselisih
dengan puisi-puisi
Yogya, 07 Feb, 2013 (Semesta Cafe)

Di Tanah Penjajah

Di tanah penjajah

langit manusia menjalar kabut

mengundang gemuruh berkali-kali

umur bukan lagi tangga hidup yang dihormati

apalagi merenungkan ribuan rahmat diatas bumi

Tanah tandus, kering kerontang, air tak mengalir

manusia sia-sia

Semua terbakar ego dan libido

udara sesak, pepohonan dan gunung berlarian

satu per satu gubuk-gubuk bermunculan

mengundang kemelaratan

tumbuh subur dengan kesiksaan

Kekayaan, kemiskinan, perkotaan, pabrik, trotoar, perumahan

semuanya penjajahan

pantun dan syair-syair para petani, nelayan

dipotong-potong, diganti, dibuang, jauh-jauh

hingga pantun dan syair-syair itu kembali lagi dengan

rupa yang lain, maksud yang buruk, dan takdir yang ganas

Selamat Pagi Halmahera Timur yang celaka

Mabapura, 05-05-2014

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Pulang Kampung

Dan kami hampir tak mengenal apa-apa kini

Suara-suara yang menabrak sukma hari ini

Di penuhi muatan basa-basi, dan rasa sakit hati

Sebab kami tak lagi mengenal bahasa

Dan meninggalkan majelis rasa

Hingga robohnya bangunan budaya

Beberapa bulan lalu, saya meninggalkan kota

Dengan kokoh niat menuju kampung kita

Pulang kampung adalah perjalanan menempuh makna

Menyapa damai dan bersenggama dengan bahagia

Tapi kawan, kini kita dapat apa dari bahasa itu, “pulang kampung”

Siapa yang akan membimbing kita menuju kampung

Menuju bahasa yang tak biasa, dua kata yang siapapun ia

Pasti mengenalnya, berdamai dengannya…

Alam dan manusia, mungkin akan sia-sia

Lihat saja pulau-pulau bersejarah itu

Atau pantai-pantai yang penuh kenangan di situ

Ditebang, digusur, dikeruk, dikotori

Tanpa penghormatan dan kemuliaan

Tanpa belas kasih kemanusiaan

Lihat pula seorang ibu tua di bawa terik itu

Menggendong anaknya dan mengais rejeki di tebing-tebing batu

Sedang di samping kiri dan kanan mereka, berdiri rumah-rumah ber-AC

Pulang kampung kini bukan  lagi bahasa kita

Kata-kata itu bagai sembilu

Bagai angin lalu

Yang menusuk-nusuk qalbuku

Saya bernasib pilu, berlapis luka, dan dikepung duka

 

Lalayon kini tak lagi mendapakan tempatnya

Kabata kini berlarian entah di mana, entah kemana

Belantara hutan dan gugusan gunung-gunung

Tidak untuk di keruk oleh tangan-tangan serakah

Tidak juga untuk penjilat tahta

Kawan, kini saya tak dapat pulang kampung

Sebab Haltim bukan kampung saya dahulu

Perahu Haltim telah ditenggelamkan kedalam lautan modernis

Sepanjang mata dan rasa memandang, hanya pemandangan miris

Bila dahulu modal kampung adalah keikhlasan dan kekeluargaan

Kini dirubah jadi transaksi untung rugi

Dan mengundang petaka

Maka dengan puisi ini saya bersaksi: bahwa sejarah dan budaya

Adalah jati diri ummat manusia, hakekat semesta raya

Bila hilang salah satu, hilang seluruhnya

Sungguh kawan, ini hari saya tak lagi pulang kampung…

Apakah dan Siapakah yang mesti di selamatkan?

Kampungkah?

Kotakah?

Manusiakah?

Atau alam?

Terimakasih!

Mabapura, 06-06-2014
Rachmat Marsaoly

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Sudah kuduga

Sudah kuduga, kalian akan bersujud pada penguasa

Do’a kalian tak lebih sebagai berhala

Tak peduli nasib siapa diiris sembilu

Tak mendengar suara siapa mengetuk pintu

Siapa mereka di tebing-tebing batu

Mengais rezeki dengan wajah pilu

Apa arti lautan, bila nelayan tak lagi akrab dengan ikan

Apa arti daratan, bila petani haknya dihilangkan

Apakah itu kemerdekaan?

Apakah ini kedaulatan?

Di jalanan, puluhan wajah anak-anak kusaksikan

Untuk mereka, adakah masadepan?

Sedang tanah dijual-belikan

Dan gugusan pulau-pulau juga gunung di kerukhabiskan

Adakah itu harapan?

Sedang gerak-gerik kita dikawal preman penguasa

Dan nasib kita diatur semau mereka

Wahai, apakah itu budaya

Gedung-gedung prostitusi di pelihara

Perempuan-perempuan dijual murah

Para lelaki bertampik sorak memberi harga

Dimana kemanusiaan

semua sudah kuduga

RM, Mabapura 12062014

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Stasiun

Kawan, berjalanlah, melangkahlah sejauh dan seluas semesta alam

Karena hidup sejatinya perjalanan

Tapi berhentilah engkau sejenak di setiap stasiun hidup

Sebab di sana wajah cinta kau pahami

Perpisahan dan perjumpaan kau jumpai

RM, Jogja Stasiun Lempuyangan

22112013

Yang tak Terurus

Di atas yang tak terurus

Ada cerita mengalir lurus

Ada kisah tersimpan mulus

Tentang hidup krisis agraris

Tentang makna yang nyaris habis

Di atas yang tak terurus

Segala konsep dan hayal memuja kapitalis

Ruang dan gerak di jarah habis

Masyarakat nasibnya miris

Ini hidup yang riuh egois

Jogja, 26102013
RM

Ya Jou[1]

Ya Jou, badai dunia menerpaku
kaku langkahku
rapuh melangkah
kepada-Mu
terjebak selalu pada eksistensi keegoisanku
terpenjara pada pengetahuanku

Jauh pandang mencari-Mu
padahal dekat-Mu memenuhiku
bersemayam dan berkedudukan dalam diriku

Ya Jou, hingga hari mulai senja
masih kucicip manis kebathilan
masih kuhirup udara kemaksiatan
padahal kasih-sayang-Mu sungai tanpa muara
dalam hidup matiku mengalir senantiasa

Ya Jou, padaku tancapkan pisau cinta-Mu
Padaku siramilah anggur kenikmatan
Matikanlah aku dalam samudera Ar-Rahimmu
Jogja-2012
Rachmat Marsaoly

[1] Jou, dalam bahasa daerah orang Halmahera (Maluku) berarti Tuhan