Kehilangan Kampung

Ibunya berdiri menunggu di depan rumah. Punggungnya agak membungkuk karena beban saloi yang ia gendong di belakangnya. Lama menunggu dan karena berat, perlahan saloi ia turunkan di sebuah tempat duduk. Dari dalam saloi dikeluarkannya berbagai perlengkapan alat-alat mancing: gumala, nilon, air dalam gelong lima liter, dua parang dan satu kuda-kuda.

“Mon… Bamoon, Ayo, nak… kau lama sekali”

“Ia, Bu, sebentar… aku masih terima telepon dari teman kuliah di Jakarta” sahut Mon dari dalam kamarnya.

Sabantar terus.. ah, kau ini.. sabantar matahari mo panas, angin kancang, dan laut bagelombang”. Jawab ibu dengan nada Halmahera kental, sambil kedua tangannya mengupas kulit buah pinang dengan pisau kecilnya.

Terdengar bunyi pintu kamar yang diseret dari dalam rumah. Rupanya Mon sudah selesai telponan, ia mengunci kamarnya. Wajah dan langkah Mon malas dari dalam menuju teras depan.

Dengan wajah heran, ibu memandang tubuh Mon dengan rinci. “Hei, Mon, kita mau mancing di laut bukan di tempat pernikahan. Ganti pakaianmu. Buka celana panjang dan kemejamu itu. Pakai pakaian lama yang ibu taruh dalam lemari”.

“Ah, tidak masalah, Bu, pakai pakaian ini juga” keluh Mon.

“Jangaaan…!” tegas ibunya bernada setengah marah.

Satu persatu ia buka pakaian lama dalam lemarinya. Satu pakaian lamanya sewaktu sma kelas tiga ditarik keluar dari tumpukan pakaian, dan ditatapnya dengan wajah lemah. Perasaanya seperti diaduk. Bukan karena pakaian itu menyimpan memori semasa sma, bukan pula karena itu pakaian favoritnya. Tapi melihat pakaian itu, dan bahkan semua pakaian lamanya, Bamon canggung, malu. Nanti kalau dilihat orang dibilang payah, tertinggal. Bukan anak yang datang dari kota. Mon merasa terasing dari semua pakaian lamanya. Tak biasa.

“Mon… cepat Mon, hari sudah mulai panas. Oh, iya, jangan lupa bawa juga linggis yang ada di dapur, di bawah tungku. Sabantar kita akan mampir ke pulau mengambil biya batu karang”.

Tak ada sahutan Mon dari dalam. Ibu menyusulnya. Sama saja. Mon tak ada. Ia pergi entah kemana. Hingga masuk ke dapur. Pintu dapur yang telah dikunci dua jam lalu, kini terbuka setengah. Ibu curiga, barangkali Mon keluar lewat pintu belakang.

Akhir-akhir ini Mon selalu begini. Setiap kali diajak ke laut, setiap itu pula Mon penuh alasan tak jelas. Dan pergi tanpa pesan seutas. Tanpa pamit. Tingkahnya mulai aneh.

Ibu Mon gelisah, sedikit marah, tapi di mana harus menemukan Mon. Susah. Ibu membalikkan badannya. Keluar ke teras depan. Duduk lagi bersama peralatan-peralatan mancingnya. Bingung, Mon di mana. Pandangannya menyapu jalanan. Pada siapa saja yang lewat, ia menanyakan Mon. Tak ada yang melihatnya. Dalam hatinya berkata, bagaimanapun, hari ini kita harus makan ikan. Ya, harus pergi mancing. Sudah tiga hari tak ada ikan di rumah. Hanya mie goreng dan ikan kaleng. Padahal kita ‘kan tinggal di pesisir, kita orang laut, kita bangsa nelayan. Batinnya.

Hari mulai terik, angin kancang bertiup, riak-riak air laut terlihat memutih. Bagelombang. Ibu Mon masih duduk bersama barang perlengkapan mancing. Pinang yang dikupas tadi ia makan dengan buah sirih dan kapur. Dikunyanya hingga merah tua seisi mulutnya. Nikmat. Tapi duduknya tak tenang, mulai berhati gelisah. Apalagi cuaca laut mulai berubah. Bagelombang. Memang, orang laut sudah teruji mapan pada cuaca laut demikian. Tapi jumlah umur yang sudah mencapai lima puluh tujuh tahun itu cukup menghilangkan setengah keberanian seorang ibu Mon.

Yang mengherankan baginya adalah tindakan Mon itu. “Tak pernah Mon bertindak begini, sebelumnya”. Cetusnya heran. “Sebelum Mon kuliah di Jakarta, ia adalah anak yang penurut, patuh pada orang tua. Kenapa tiba-tiba pulang-pulang dari Jakarta, ada perubahan drastis dari seluruh sikapnya, bahkan cara berpakaianya”. Ibu Mon mengenang. Heran.

Ah, Mon pasti tidak berniat ikut ke laut. Seperti biasa, ia pasti sudah berkumpul bareng teman seagkatannya sekarang. Duganya dalam hati. Lalu siapa yang siap mengganti Mon hari ini. Lama pikirannya mencari-cari siapa yang akan mengikutinya mancing. Kepalanya diangkat, pandangannya ke laut lepas. Tak sabar ingin ke laut lagi. Lumayan lama tidak mancing, ambil biya batu karang, dan bakar ikan di pulau. Padahal rumah dekat pantai, hanya lima belas langkah lebih sedikit, kaki sampai di bibir pantai. Setiap kali ia pandangi laut luas itu, selalu terbayang, terkenang suaminya dahulu, sebelum suami bekerja sebagai karyawan tambang. Mereka adalah sepasang suami istri petani dan nelayan. Seluruh hidup, entah kebutuhan harian hingga bulanan, dicurahkan seutuhnya pada kebun, pada laut. Ia berharap, hari ini suaminya tiba-tiba pulang dan menemaninya pergi mancing, seperti saat-saat itu. Saat-saat ketika mereka mendayung bersama, mencari ikan bersama, menggali biya bersama, menghadang badai bersama, dan seluruhnya bersama. Tapi ia sadar. Ini bukan kerja di kebun atau laut, bisa pulang semau hati.

Ini kerja di perusahan. Peraturannya minta ampun. Berlapis-lapis. Bertingkat-tingkat. Ketat sekali. Mana mungkin ia akan pulang secepat itu. Dan ya, memang, semuanya memang tak bisa lagi. Lalu matanya tertutup sejenak, menarik nafas panjang, dikeluarkannya pelan. Dadanya yang sesak jadi longgar kembali. Pikirannya yang melayang-layang tak jelas dikendalikannya lagi. Ia beranjak dari tempat duduk itu dengan kejenuhan yang bersarang di dadanya. Dan dimasukkannya semua peralatan mancing ke saloi. Keadaan memutuskan, tak jadi mancing hari ini. Lalu dibawa masuk semua barang-barang ke dalam rumah. Seisi rumah sepi. Suaminya pergi kerja, Mon belum juga pulang di rumah, adik Mon masih di sekolah.

Di luar rumah, matahari mulai beranjak ke tengah. Teriknya menguasai kampung Wefli. Menyinari apa saja. Jalanan kampung sepi dari orang-orang. Hanya beberapa suara sepeda motor yang lewat di jalan depan rumah. Lalu suaranya menghilang.

Karena tak jadi mancing, keinginan lain muncul dalam hatinya. Ia ingin ke kebun. Tapi sayang, keinginan itu seperti angin lalu, pupus. Karena tiba-tiba ia juga teringat dua hari lalu ke kebun, betapa sepinya. Tetangga-tetangga kebun pun tak pernah terlihat. Karena itu ia takut sendiri. Apalagi sekarang matahari sudah sangat terik. Pergi ke kebun dan laut mesti pada saat hari masih sangat pagi. Dan Ibu Mon cuma bisa duduk di dapur dengan hati penuh gundah sambil memenugkan keadaan.

Dalam permenungannya, muncul di kepalanya: kampung Wefli yang sudah sepi dari suara babatan parang ke rumput, suara cangkul ke tanah, dan kuda-kuda ke rerumputan kecil. Sepi dari suara riang anak-anak menangkap ikan di sungai. Tentang pohon-pohon pala di seberang lembah yang tak lagi terurus samasekali akan masuk ke dalam area konsesi perusahan. Lautnya yang sunyi dari perahu. Sunyi dari suara dayung nelayan.

Padahal dulu, setiap pagi-sore, laut ditaburi perahu nelayan. Lima pulau di depan kampung Wefli, dalam setiap bobanenya hampir dipenuhi orang yang singgah mencari tempat teduh, istirahat, bakar ikan hasil pancingan, dan anak-anak yang memang suka berperahu ke pulau. Kini, beberapa pulau telah dikeruk habiskan perusahan. Bobane-bobane yang penuh gaku, dihancurkan.

Ibu Mon sadar, semua suara dan pemandangan itu kini hilang ditelan suara traktor yang mengeruk punggung gunung dan pulau untuk nikel, dan suara klakson mobil-mobil raksasa di jalan-jalan perusahan yang menggusur kebun warga. Ya, semua itu hilang saat orang kampung berbondong-bondong menjual kebunnya ke perusahan, dan melamar kerja di perusahan. Saat orang-orang mengiming-imingkan kampungnya jadi kota.

Kemudian ia teringat perkataan suaminya saat akan melamar di perusahan waktu lalu.  “kerja di perusahan mudah mendapat uang, Bu.. apalagi gajinya yang sangat besar. Jadi jangan heran, banyak orang kampung melamar kerja di sana, tak peduli model kerjanya seperti apa dan bagaimana. Yang terpenting bisa kerja di perusahan agar cepat bisa memegang uang jutaan rupiah. Tidak seperti di kebun dan laut yang kerjanya susah dan lama baru bisa dapat uang. Lagi pula, kehadiran tambang ini akan membawa kemajuan di kampung kita. Seperti yang dikatakan perusahan dan pemerintah itu. Iya, ‘kan, Buu…?”.

Kenapa bisa terjadi… kenapa bisa begini… ibu Mon berontak dalam hati. Masih tidak puas dengan perubahan-perubahan itu.

Ia terbangun dari permenungannya saat pandangannya menyentuh piring dan gelas yang berhamburan di atas lantai dapur. Cepat-cepat ia bangkit dari duduknya, langsung menuju piring dan gelas yang dipakai sarapan pagi tadi. Ia cuci bersih. Selesai. Dan tak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Ia duduk lagi, termenung lagi. Setiap kali memenungkan keadaan kampung, setiap itu pula hatinya marah, lalu kecewa, kemudian sedih, dan hanya bisa menerima keadaan, akhirnya. Begitu seterusnya. Padahal, tubuh ibu Mon tidak biasa begini. Tak biasa mengerjakan pekerjaan santai. Apalagi hanya duduk-duduk. Ibu Mon telah terbiasa dengan pekerjaan kebun dan laut sejak anak-anak hingga dewasa. Bahkan setelah menikah. Tapi kini, semua serba santai, kaku. Dan aktifitas serba santai menjenuhkan ini baru ia alami setelah suaminya harus menghabiskan hampir seluruh waktunya di perusahan tambang, bekerja sebagai karyawan. Suami akhirnya jarang di rumah, mereka jarang bersama-sama. Kebersamaan datang jika tiba libur kerja. Itu pun hanya sehari. Selain itu hanya beberapa jam saja.

“Apakah semua istri karyawan tambang merasakan hal sama seperti aku?” ia keluh kesah.

Ditambah dengan sifat dan sikap Mon yang sudah berubah. Mon tidak lagi seperti dahulu yang senang ikut ibu-bapak kemana-mana. Ke kebun, ke laut. Perasaannya dikoyak, sesak.

“Yah, begitulah anak kuliahan, apalagi kuliahnya di kota, kebiasaan anak sekolahan sekarang megang buku dan laptop. Bukan kail, jala, parang atau cangkul”. Batinnya mencoba membenarkan keadaan.

Suara perempuan memberi salam dari teras depan. Itu suara Jisma, adik perempuan Mon yang kini sudah smp. Ia baru pulang sekolah. Setelah menyalami tangan ibunya, ia menuju kamar menggantikan pakaian seragam, sambil memanggil-manggil kakaknya.

“Kakak… Kak Mon, kak Mooon. Kakak di mana, Bu?”

“Ibu tak tahu kakakmu di mana. Pagi tadi Ibu mengajak dia mancing di laut dan ambil biya batu karang. Awalnya dia mau ikut, tapi saat ibu menunggunya di luar, tiba-tiba dia menghilang”.

Jisma memang dekat sangat dengan kakanya. Setiap kakanya pulang kampung, Ji selalu senang. Bahagia. Kakak kandung satu-satunya yang ia miliki di dunia.

“Ma, aku lapar!”

“Maaf, nak, siang ini kita cuma bisa makan nasi dan mie goreng. Andaikan tadi kakakmu ikut. Pasti siang ini kita makan biya batu karang dan ikan rebus”.

“Iya, tidak apa-apa, Bu. Malah aku lebih suka mie goreng atau nasi bungkus dari perusahan yang biasa dibawa bapak. Ketimbang ikan rebus dan biya batu karang”.

“Kenapa dengan ikan rebus dan biya batu karang, Nak?”

“Kata kak Mon, itu makanan ‘kampungan’. makanan itu tidak modern, makanan yang ketinggalan zaman, katanya.  Hehehe…”

Mendengar jawaban anaknya, ia tak lagi menjawab. Tenggorokannya sesak. Hatinya terguncang, seperti dikoyak. Sedih, marah. Kenapa mereka memandang makanan kampung itu jelek. Padahal makanan-makanan itulah yang membesarkan kalian sejak kecil. Makanan para orang tua-tua kalian sejak dahulu. Makanan para leluhur kalian. makanan yang dapat membuat kalian selalu menghargai dan menghormati kampung. Karena kampung adalah juga ibu bagi kalian. Ia hanya bisa melontarkan nasehat itu dalam dirinya sendiri. Sebab bukan hanya anaknya yang dimarahi, tapi juga keadaan kampungnya yang disalahkan. Bahkan bisa jadi pada dirinya sendiri.

***

Di sebuah pagi, seorang teman Mon bertanya, “hei Mon, kenapa kau tak ikut ibumu pergi ke kebun?”

“Gengsi dong…” Jawab Mon sontak. Serius. “Masak ke kebun? Aku kan calon sarjana, tidak cocok kerja di kebun. Cocoknya kantor bro… kantooor..”

Berkuliah selama bertahun-tahun itu, membuat tubuh Mon tidak lagi terbiasa menjamah kerja-kerja kampung. Mon yang selama bertahun-tahun di Jakarta hanya bisa memegang bolpoin, laptop dan kertas, kini tangannya tak lagi akrab dengan parang, cangkul, nilon, dayung, dan alat-alat kerja kampung lainnya. Tubuhnya benar-benar terasing dari semua itu. Bukan sekedar tubuh, pikirannya yang diisi dengan berbagai hal baru selama di kota, membuatnya telah berjarak dengan semua hal kampung. Matarantai dan memori kampung dalam dirinya putus dan hilang perlahan.

Dan setiap hari, hati ibu Mon gundah. Selalu gelisah dengan kesunyian, kesepian, ketidakceriaannya dalam kampung, dalam rumah, yang ia alami dan lalui dari hari ke hari. Dalam kesepiannya, selalu ia berkata “aku telah kehilangan kampungku. Kami kehilangan kampung”.

Dan semua orang tak pernah tahu yang ia rasakan. Sendiri.

Rachmat Marsaoly
Mabapura, 1 Februari 2016

Keterangan:

Saloi: tempat menaruh peralatan kebun dan laut bagi petani dan nelayan yang terbuat dari anyaman rotan

Gumala: Kail

Nilon: Tali penghubung untuk kail

Kuda-kuda: Alat pemotong rerumputan kecil di kebun

Sabantar: Sebentar

Mo: Akan

Kancang: Kencang

Bagelombang: Bergelombang

Sagu tumang: Sagu yang telah dimasak, dipotong kecil-kecil berbentuk segia empat panjang

Biya batu karang: Kerang yang menempel di batu karang

Bobane: Tempat-tempat yang biasa di singgahi orang kampung sejak para leluhur dan mempunyai ragam cerita. Juga dipercayai sebagai tempat keramat orang kampung.

Gaku: Kekayaan yang melimpah. Kekayaan alam, kekayaan harta karun, dan kekayaan ghaib (ilmu metafisik).

Acara Pelantikan Teman-teman Halteng—Sebuah Catatan untuk Kita-Generasi

Di Tamansari, tepat di gedung Aula UNISBA, tempat dilaksakannya kegiatan organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Tengah (IPM-HALTENG) yakni Pelantikan Pengurus. Acara dihadiri oleh berbagai Organisasi seperti Himpunan Pelajar Mahasiswa Maluku Utara (HIPMMU), Ikatan Pelajar Mahasiswa Muslim Maluku (IMMM), Ikatan Pelajar Mahsiswa Pulau Buru (IPMPB), dan Ikatan Pelajar Mahsiswa Halmahera Timur (IPMHT). Acara berlangsung tertib, aman tak ada hambatan.

Beberapa lama acara berlangsung, setelah acara Pelantikan Pengurus usai dilanjutkan dengan acara pementasan kebudayaan. Pidato kebudayaan oleh Bang Jamal berakhir, disusul dengan ‘barongge lala’ oleh beberapa teman Halteng. Seperti biasa, ‘barongge lala’ paling sedikit dilakukan empat orang masing-masing berpasangan, dua orang perempuan dan dua laki-laki. Tak perlu saya menjabarkan filosofi tarian Lalayon di sini. Terlalu sedikit ruang menjelaskannya. Ia memerlukan waktu tersendiri dalam mengurainya. Tarian Lala bukanlah satu tarian yang diciptakan manusia kini. Tapi lebih jauh ia merupakan satu tarian kebudayaan (pengetahuan) yang hadir dari hasil interaksi manusia (leluhur) dengan alam. Sehingga untuk memahaminya, ruang tulis ini belumlah cukup. Dengan lain kata narasi tak sanggup menjabarkannya tuntas.

Acara berikutnya tampil beragam kebudayaan Maluku (Maluku secara umum). Mulai dari tarian, hingga musik. Kemudian tampil pula teater dan baca puisi. Puisi dibacakan oleh saya sendiri. Selama acara berlangsung, suasana tepuk sorak penonton tak henti-hentinya meruang dan mengudara. Tapi yang agak berbeda saya rasakan adalah ketika tampil beberapa acara yakni teater dan pembacaan puisi, juga pada awal pembacaan pidato membuat suasana sedikit berbeda. Suasana riang gembira berubah jadi hening, intim, lalu semacam kerinduan diri pada sesuatu hal. Semacam merindukan suatu keadaan di mana sesama manusia saling berbagi pun manusia dengan alam saling isi mengisi.

Semua penonton hampir-hampir lupa menepuk tangan, tak bisa bergerak, tak juga bersorak, hanya jantung dan aliran darah yang berdenyut, dan hati yang merasa intim. Astaga, saya tak bisa menjelaskan suasana itu dengan sempurnah. Jemari tunduk tak sanggup menjelaskan suasana secara utuh dalam narasi. Suasan hanya bisa terjelaskan ketika kita terlibat dan mengalaminya sekaligus.

Suasana berubah oleh karena pidato, teater juga puisi yang menjelaskan tentang kenyataan riil hari ini. Kenyataan kehidupan masyarakat saat ini. Bukan karena pidatonya, teater atau puisinya itu, tapi karena pesan yang disampaikannya memberitahu pada kita bahwa kenyataan kebudayaan sebagai praktik hidup hari ini hampir-hampir hilang sama sekali, hampir tak ada lagi. Alam (tanah-air) sebagai diri kita, ini hari kita sendiri yang menggadaikannya dengan uang. Kita lah yang menjualnya kemana-mana (kepada korporasi atau pengusaha) demi uang—kertas yang minus nilai itu.

Dalam pidato, Bang Jamal mencoba menjelaskan falsafah hidup orang Gamrange[1]: Ngaku Rasai, Budi Bahasa, Sopan re Hormat, Akal re Wlou, dan Mitat re Miymoi yang kurang lebih penjabarannya sebagai berikut: “Ngaku Rasai atau Mengaku bersaudara bermakna manusia dengan manusia mengaku dan berpengakuan untuk bersaudara  sebagai cara menghubungkan dirinya dalam kesatuan masyarakat (social).  Budi re Bahasa atau Budi dan Bahasa berarti tuturan manusia sama dengan nalar kemanusiaan yang terkelola menjadi perilaku dan tata cara hidupnya bersama alam. Mitat re Miymoy atau Takut dan Malu yakni takut dalam merusak atau memporak-porandakan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sebagai satu daur kehidupan, untuk kemudian merasa malu terhadap kerakusan diri yang brutal sehingga malu pula mempraktikkan kerakusan dalam hidup. Olehnya Sopan re Hormat  atau Sopan dan Hormat adalah perilaku manusia yang berke-adab-an dalam menjaga keharmonisan hubungan alam dan manusia. Sehingga mengingatkan pada kita bahwa Otak re Wlow, Otak dan Hati sebagai titik pangkal keseimbangan manusia dalam kosmos akan kehidupan.

Selanjutnya pidato tersebut mencoba menjelaskan dan memberitahu hadirin bahwa dalam konteks kita sekarang ini, falsafah hidup yang sebelumnya adalah ajaran orang Gamrange, tunjuk ajar prilaku orang Halmahera, kini tak bisa dipungkiri telah terlepas jauh dari laku hidup keseharian kita. Falsafah tak lagi punya bobot dalam kehidupan. Ia hanya tinggal dalam konsep yang semu, tak ada pijakan dan tindakan sebagai objek falsafah di alam. Ia sebatas tuturan sekejap, sebatas manis bibir berargumen, sebatas tampilan citra belaka. Bahkan di berbagai kalangan organisasi daerah (Organda) falsafah digunakan, dimengerti hanya sebatas moto yang terpajang di dinding-dinding sekret atau asrama organisasi. Falsafah hidup itu telah kehilangan pijakannya dalam diri pun alam raya.

Seperti pidato, teater dan puisi juga menilik nasib kebudayaan dalam kehidupan kita sekarang ini. Teater dan puisi sama-sama mengkritisi penuh fakta kebudayaan yang di dalamnya berisi ajaran mempertahankan hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan dan hakikat kebudayaan, kini telah hancur berantakan dan putus-terpisah sama sekali.

“Pasir putih di tanjung membawa keberkahan dan keindahan alam, jejeran pulau dan gunung yang menyimpan kekayaan, sejarah dan ajaran para leluhur, kini berubah jadi kemurkaan dan kerusakan.” Begitulah tertulis dalam naskah teater yang dimainkan malam itu.

Bahwa kekayaan dan keindahan alam (kampung) dahulu begitu menyilaukan dan memberi karunia bagi orang kampung, sekarang justru mengundang kemelaratan dan membawa petaka bagi orang kampung sendiri. Bagaimana tidak, hampir semua tempat dan ruang hidup (tanah dan wilayah kelola rakyat) telah dikuasai oleh berbagai perusahan raksasa dengan konsesi-konsesinya.

Tak hanya di Gamrange (Maba-Patani-Weda), hampir seluruh tubuh Halmahera bahkan provinsi Maluku Utara dan berbagai provinsi lainnya di Republik ini dengan mengatasnamakan pembangunan semua wilayah-wilayah kelola rakyat dirubah menjadi ruang-ruang industri. Industri ekstraktif seperti pertambangan maupun industri perkebunan skala luas seperti sawit dsb. Atas nama program pembangunan yang dicanangkan pemerintah, semua wilayah kelola rakyat berubah menjadi lumbung bercokolnya berbagai korporasi asing, nasional maupun swasta, yang justru menciptakan ketergantungan ekonomi uang dan budaya praktisisme, konsumerisme, dan akhirnya menghadirkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan lebih mendasar adalah kerusakan bentang-layanan-alam (ruang-hidup).

Tak bisa disangkal, apapun yang mengenai persoalan sosial dan ekologi (selanjutnya ditulis: sosial-ekologi) hari ini kita mesti jeli dalam melihatnya. Segala persoalan ini hari bisa dikatakan ia punya tendensi dan persoalan yang berlipat-lipat. Bagaimana tidak, kolonialisme itu sekarang masih berlangsung dalam wajah dan mekanismenya yang berbeda.[2]

Berbagai kasus yang muncul dari tempat beroperasinya perusahan tak sedikit yang mengundang konflik antara perusahan dengan warga, bahkan antara perusahan dengan perusahan. Tumpang-tindih klaim lahan bermunculan antara pemilik modal dengan rakyat, antara pemerintah dengan masyarakat adat. Tumpukan kasus itu sendiri tak pernah dimuat di dalam media-media, malah ditutup-tutupi.

Di Halmahera Utara misalnya, di sana beroperasinya Perusahan asal Australia sejak tahun 1998. Tepat pada tahun 2004 masyarakat adat Kao dan Malifut telah menyadari bahaya yang mengancam eksistensinya, mereka melakukan aksi protes terhadap perusahan yang telah mengambil dan merusak kawasan hutan dan lahan mereka. Aksi pendudukan di kawasan hutan lindung Toguraci adalah salah saatu bentuk perlawanan. Masyarakat dari Desa Eti dan Dumdum Pantai, dari dua kecamatan yang berbatasan dengan lokasi tambang PT. NHM terlibat dalam aksi itu. Mereka menuntut PT Nusantara Halmahera Mineral (NHM) segera meninggalkan lokasi dan merehabilitasi kawasan hutan lindung yang telah dieksploitasi tambang. Mereka juga menuntut PT NHM mengembalikan sebagian laba yang telah diperoleh kepada masyarakat. Sebab selama 10 minggu beroperasi di Toguraci, PT. NHM telah meraih laba Rp 40 miliar lebih. Sementara saat beroperasi di Gosowong dari 1998-2002 meraih laba Rp 600 miliar. Namun, aksi damai masyarakat tersebut dihadapi dengan tindakan represif oleh aparat keamanan yang didatangkan PT. NHM ke lokasi. Pasukan ini memerintahkan masyarakat untuk meninggalkan lokasi tersebut, yang kemudian ditolak oleh masyarakat. Penolakan tersebut malah dijawab oleh tembakan. Akibatnya, seorang warga bernama Rusli Tungkapi tertembak dibagian kepala sehingga meninggal di tempat. Kasus kekerasan tersebut saat ini masih dalam tahap penyilidikan KOMNAS HAM, dan belum ada hasil akhir dari penyelidikan tersebut. [3]

Terjadi pula pencemaran air sungai dan air laut di Teluk Kao, hingga kehidupan masyarakat adat Hoana Pagu dan masyarakat lokal sekitar tambang terancam. Sekitar 29.622 ribu hektar konsesi NHM wilayah adat Suku Pagu. Dalam penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2010, menemukan masalah serius terkait keberlanjutan ekosistem di Teluk Kao. Dari penelitian itu, beragam ikan yang hidup di sana sudah tercemar, antara lain mercuri dan sianida. Berdasarkan keterangan warga dan dokumentasi oleh AMAN, pada 2010, 2011, dan 2012, pipa limbah (tailing) milik perusahaan jebol dan limbah mengalir ke Sungai Kobok dan Ake Tabobo serta beberapa anak sungai yang bermuara ke Teluk Kao. Sejak pipa jebol, masyarakat mulai ketakutan mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao. Mereka takut menggunakan air sungai, dan mulai kesulitan mencari udang, kerang dan ikan di air sungai itu. Padahal, sebelum perusahan tambang datang, ikan dan sejenisnya mudah diperoleh. Hasil perkebunan mereka seperti kelapa dan tamanan bulanan lain di sekitar Sungai Kobok tak produktif lagi. Mereka juga mengalami krisis air bersih hingga setiap bepergian ke kebun harus membawa air dari kampung. Warga beberapa desa yang mengalami krisis air bersih seperti Desa Balisosang, Bukit Tinggi, Dusun Beringin dan Kobok. Mereka harus membeli air gelong seharga Rp15.000 per gelong.[4]

Limbah Pt. NHM yang mengalir ke sungai Kobok

Limbah Pt. NHM yang mengalir ke sungai Kobok. Foto: AMAN

Seperti halnya Halmahera Utara, di Gebe-Halmahera Tengah pun terjadi penembakan oleh pihak keamanan perusahan (militer) terhadap salah seorang warga Gebe yang melakukan aksi protes terhadap Pt. Aneka Tambang (Antam) pada 2010; kriminalisasi terhadap 10 warga Weda-Halmahera Tengah saat menentang PHK sepihak Pt. WBN (2011); intimidasi serta penciptaan ruang konflik antar warga (pro-kontra) di Wasile-Halmahera Timur dan Patani-Halmahera Tengah oleh korporasi sawit pada 2014. Belum juga kasus-kasus mengenai kerusakan layanan alam beserta konflik sosial setiap kampung di Halmahera Timur.

Hampir semua media dari skala nasional hingga daerah tak ada satupun yang memuat kasus-kasus tersebut untuk dipublikasikan. Apalagi kasus-kasus yang berhubungan dengan perusahan dan pemerintah. Di saat yang sama isi dari berbagai berita yang dimuat media justru menyebarkan citra para politisi, para elit daerah bahkan keberhasilan perusahan dalam daerah, yang sesungguhnya adalah kebohongan dan dalam rangka menutupi kasus lainnya. Semua tak ada hubungannya dengan realitas objektif keadaan masyarakat. Semua pintu media ditutup rapat untuk kasus-kasus diatas.

Dengan fenomena seperti ini kita hendaknya bertanya, mengapa demikian? Bagaimanakah kita sebagai generasi atau mahasiswa/i yang ‘katanya’ menempuh pendidikan di luar kampung halaman melihat fenomena kampung yang fakta konkretnya sudah seperti ini. Bahwa, para elit daerah yang memimpin masyarakat kita hari ini dan membiarkan keadaan kampung terus diombang-ambingkan masalah demi masalah, adalah mereka yang juga kemarin pernah bersekolah atau menempuh pendidikan seperti halnya kita. Lantas kita bertanya kembali, pendidikan semacam apa untuk bisa kita percayai dalam mengurus hal-hal seperti ini. Maka, sebagai generasi yang ‘katanya’ berpendidikan sekaligus bagian dari masyarakat kampung, apa tugas kita, apa yang mesti kita lakukan? Toh, banyak mahasiswa/i yang sudah menyelesaikan sarjananya di kota lalu pulang ke kampung halaman justru melanjutkan kebohongan; membuat proposal fiktif, melakukan acara-acara seminar yang berakhir di depan pintu gedung, menjadi tim sukses salah satu caleg, melobi proyek-proyek di pemerintah dan perusahan untuk sekedar mengambil uangnya, atau malah menjadi bagian dari pengerukan sumber-sumber hidup rakyat. Bukan membuat regu-regu belajar kritis di masing-masing kampung untuk mendapatkan satu moda pengetahuan tandingan, gerakan tandingan, bahkan ekonomi tandingan (selain ekonomi keruk yang merusak alam) untuk tujuan pembalikan krisis di kampung dan penghancuran ruang-hidup rakyat.

Dari berbagai problem kampung dan rupa-rupa pertanyaan di atas membawa saya pada satu kesimpulan bahwa, keadaan kerusakan atau krisis sosial-ekologi di kampung halaman hari ini sesungguhnya telah di atur secara terstruktur dan sistematis sedemikian rupa oleh sebuah sistem melalui negara sebagai domainnya untuk mengejar keuntungan sebesar mungkin. Sebuah sistem yang merampas sumber-sumber penghidupan rakyat untuk menghasilkan komoditas-komoditas global. Sehingga perlunya dan memang menjadi sebuah kewajiban kita sebagai generasi melihat dengan lebih teliti dan belajar dengan lebih sungguh-sungguh duduk perkara suatu sistem yang serakah yakni kapitalisme sebagai suatu sistem produksi khusus[5].

Dengan adanya berbagai organisasi daerah kita bisa pula menjadikannya sebagai ruang bersama dalam proses belajar memahami persoalan kampung halaman. Jika tidak, berbagai organisasi ini justru menjadi ‘ring tinju’[6] atau arena perkelahian antar-sesama kita dalam mengejar sesuatu yang tak nyata. Dengan demikian justru kita lah yang menjadi penyambung kerusakan di kampung halaman masing-masing.

Mari! Bersama-sama pada hari ini mulai berani berbicara mengenai kerusakan kampung halaman (krisis-sosial-ekologi) dengan senantiasa konsisten terhadapnya. Sehingga kita tahu ‘bagaimana sesungguhnya menyikapi kesemua ini’ di kampung agar kebudayaan dan ajaran hidup orang kampung bisa hadir dan dipertahankan kembali.

Semoga!

[1] Gamrange berarti Tiga Negeri yakni Maba, Patani dan Weda yang punya sejarah panjang kebudayaan di Nusantara.

[2] Rujukan buku Assesment: Tenurial Orang Halmahera Timur dan Tanahnya, karya Surya Saluang dkk, sedikit mengulas mengapa kolonialisme masih bertahan.

[3] http://jopi1903.blogspot.com/2007/02/, diakses pada tgl 20 Maret 2014

[4] http://www.mongabay.co.id/2013/12/10/ diunggah pada tgl 01 Januari 2014

[5] Istilah kapitalisme sebagai suatu sistem khusus, diambil dari tulisan “Ketika Tanah Air Indonesia Porak-poranda; Di Sana Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku”, Noer Fauzi Rachman

[6] Istilah organisasi sebagai ring tinju diperkenalkan oleh Surya Saluang

*Bandung-05 Mei 2015
Rachmat Marsaoly

Halmahera: Krisis Menyejarah Sosial-Ekologi

Pulau Halmahera adalah salah satu pulau yang terletak di ujung Timur Indonesia. Halmahera merupakan pulau terbesar di seluruh Kepulauan Maluku dan bagian dari Provinsi Maluku Utara. Luas daratan Halmahera sekitar 17.780 km2[1] dan laut sekitar 95.000 km dan topografinya memisahkan basin dan pegunungan, yang mana basin Halmahera mencapai kedalaman 2.039[2].

Sebagai pulau yang daratan dan lautannya yang begitu besar dan luas tentunya menyimpan banyak sumberdaya di dalamnya. Cerita kolonialisme di Indonesia sesunggunya bermula dari pulau ini. Halmahera diincar bangsa asing sejak zaman kolonialisme sekitar abad-16. Para penjajah asing mulai berdatangan ke Halmahera, dan di sanalah dimulai kolonisasi sumberdaya alamnya yang berlimpah itu. Adalah cengkeh dan pala kala itu menjadi komoditas unggulan di pasar eropa. Penjajahan yang berlangsung sekian abad itu tidak hanya berhasil mencaplok komoditas negerinya tetapi juga mengubah, memporak-porandakan hampir semua sistem lokal dan cara pandang orang Halmahera terhadap ruang-hidupnya sendiri. Penjajahan itu berlangsung hingga para pejuang negeri berhasil mengusir penjajah sekitar abad- 19.

Setelah kemerdekaan Indonesia, cerita cengkeh dan pala di Halmahera redup. Berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan beralih pada kekuasaan Orde Baru, Halmahera mulai diperhitungkan kembali . Cerita komoditas cengkeh dan pala pun berubah menjadi cerita komoditas tambang: nikel, emas, bauksit, batubara, kelapa sawit dan komoditas pertambangan lainnya. Halmahera menjadi pulau yang penuh ramai dengan cerita pertambangannya. Halmahera menjadi tempat dari beberapa projek pertambangan yang datang mengeruk tubuh Halmahera serta pulau-pulau kecil lainnya dan mencemari air laut pun sungainya.

Halmahera meneruskan kisah yang masih sama namun dalam versi berbeda. Adalah kisah tentang pencaplokan sumberdaya alamnya. Kisah tentang penggusuran dan pengusiran orang Halmahera dari lahan-lahan kebunnya, dari sumber air yang dekat dengannya. Kisah yang bisa dikatakan jauh lebih tragis dari pada sebelumnya.

Pada tahun 1970-an hingga 90-an beberapa Kabupaten di Halmahera mulai dimasuki perusahan. Di Halmahera Tengah (Halteng) tepatnya di pulau Gebe, sebuah perusahan milik negara (BUMN) datang mengkapling dan mengeruk pulau untuk biji nikel. Kemudian disusul sebuah perusahan multinasional asal prancis Pt. Weda Bay Nikel (Pt. WBN). Sedang di Halmahera Timur (Haltim), yakni di pulau Gee sebuah perusahan kontraktor Pt Aneka Tambang tbk (Pt. Antam), Pt. Geomin melangsungkan kegiatan ekstraksi pertambangannya di sana. Dan pada 2003 di teluk Buli, Pt. Aneka Tambang juga datang mengkapling  pulau. Pada tahun selanjutnya berdasarkan Keputusan Presiden RI No. B. 143/Pres/3/1997 tertanggal 17 Maret 1997 sebuah perusahan emas milik Australia Pt. Nusa Halmahera Mineral (Pt. NHM) masuk beroperasi di Halmahera bagian Utara (Halut) di teluk Kao tepatnya di daerah Gosowong dan Toguraci. Dan masih banyak perusahan yang bercokol di atas tubuh Halmahera, mulai dari yang berpayung BUMN, Swasta, hingga perusahan multi nasional.

Di darat dan laut Halmahera menjadi penuh ramai dengan bising lalu-lalang boulduzer, traktor-traktor raksasa yang menggusur lahan-lahan warga dan mengeruk  hampir separuh tubuh pulau. Kapal-kapal ekspor pengangkut tanah merah yang keluar masuk mengganggu ruang-hidup para nelayan dan warga pesisir. Inilah berikutnya energi, sumberdaya dan budaya Halmahera mulai diambil dan dikacaukan kembali, dimarginalisasi, dijual-belikan jadi barang dagangan lagi.

Saking banyaknya perusahan yang mengeruk-hancurkan tubuh pulau membuat Halmahera sebagai pulau yang mempunyai bentang daratan yang lebih kecil dari pada lautan kini bisa dikatakan tak lagi seimbang. Sungai sebagai urat nadi pulau dan lautan yang memberi penghidupan Orang Halmahera kini masuk dalam areal penghancuran oleh perusahan. Keanekaragaman hayati di daratan maupun lautan perlahan tersingkir dan mati.

Di Haltim, satu persatu mata pencaharian orang mulai hilang karena tak lagi ada yang mau perduli, kebun-kebun yang tersisa nyaris tak diperhatikan lagi, nelayan telah jarang turun ke laut untuk mancing. Apalagi dengan bertambahnya izin pertambangan yang dikeluarkan pemerintah kepada perusahan, dan bertambah luasnya wilayah Kawasan Perusahan membuat para petani menjual hampir semua lahan perkebunan dengan uang yang tak menjanjikan keselamatan masadepannya apalagi anak cucu.

Di Halmahera Tengah, sama halnya. Masyarakat Sagea yang telah bergantung hidup ratusan tahun dari Sagu dan ikan di sungai juga laut kini mengalami kesusahan dalam mencari penghidupan demikian. Lahan-lahan sagu masuk dalam konsesi pertambangan, digusur bolduser perusahan. Warga dipaksa menjual tanah yang ditanami pala, cengkeh, jagung, coklat, sagu, ubi dan pisang kepada perusahan. Pemaksaan itu datang dari perusahan dan pemerintah sendiri. Perusahan dengan serdadu negaranya (aparat), pemerintah dengan mekanisme sosialisasi dan iming-iming lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang sejatinya hanya ilusi. Sungai besar seperti Sungai Lor perlahan tercemar limbah tambang. Seperti Sungai Sangaji di Halmahera Timur, hampir setiap musim hujan, Sungai Lor terlihat merah dan keruh karena tanah merah dari tambang.

Cerita penjualan tanah atau lahan kebun kepada perusahan adalah cerita baru yang belum pernah dilakukan Orang Halmahera sebelumnya. Cerita penjualan tanah ini sendiri punya kisah tersendiri. Semua cerita ini dimainkan dengan bersih oleh pihak perusahan.

Seorang warga kampung yang termasuk bagian dari orang perusahan PT. Antam bercerita saat kami melakukan riset kampung: “setiap kali jika perusahan mau menambah konsesi pertambangannya,  kami dikasih uang untuk membayar masyarakat yang tanah atau lahan kebunnya masuk dalam areal konsesi pertambangan. Dan apabila ada aksi massa dari masyarakat atau mahasiswa, diam-diam kami memberikan uang kepada mereka yang memotori (kordinator aksi) massa tersebut. Saya termasuk salah satu yang pernah menyokong beberapa pemuda dan mahasiswa dengan uang yang membuat aksi massa itu, tapi beberapa menerimanya dan lainnya menolak”.

Bukan hanya daratan yang menjadi kawasan perusahan, lautan juga dipagari perusahan sehingga hak atas laut setiap masyarakat menjadi terputus. Akibatnya, karena Pemerintah Daerah tak pernah mengurusi ekonomi lokal orang kampung dan hanya mementingkan ekonomi ekstraksi tambang yang ganas itu, sehingga untuk makan ikan laut saja masyarakat sangat kesusahan. Keadaan mulai terbalik drastis dari yang ‘apa adanya’ menuju ‘tak ada apa-apa’.

Kini, di setiap tempat beroperasinya perusahan, masyarakat semakin resah dengan kehadiran perusahan-perusahan itu. Sekitar tahun 2013, di Halmahera Timur, salah satu lembaga pergerakan, Salawaku Institute, melakukan aksi pemboikotan terhadap aktifitas pertambangan Pt. Aneka Tambang di Buli. Beberapa pemuda yang tergabung dari dua desa, Buli dan Mabapura bersepakat menutup semua akses aktifitas perusahan. Semua jalan-jalan utama lalu lalang kendaraan perusahan ditutupi dengan membuat tenda-tenda, mereka melakukan orasi kritik terhadap perusahan, Semua muatan orasi berisi, kecaman terhadap Antam yg menyebabkan pencemaran lingkungan, pendapatan ekonomi yang tak berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan, kedaulatan tanah dan air, dan keselamatan manusia dan alam semesta. Aparat keamanan yang diutus perusahan datang berkompi memakai truk untuk membubarkan aksi massa tersebut.

Namun, bukan malah berhenti tapi aksi massa bergerak terus hingga berakhir pada pernyataan sikap antara lain: Meminta pihak perusahan harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan krisis sosial terutama sekali keberadaan pohon mangruf di pesisir dan tanah merah yang tercemar di laut dan menggangu para nelayan, perusahan wajib menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat langkah-langkah pemulihan krisis lingkungan hidup, termasuk anggaran reboisasi, meninjau kembali Pabrik Feronikel di Mabapura yang jelas terang mengancam keselamatan manusia dan lingkungan sekitar, dan segera mempertanggungjawabkan seluruh program CSR yang telah dilakukan. Namun, sampai hari ini semua tuntutan itu tak kunjung dikerjakan oleh perusahan dan tak pernah di dengar oleh pemerintah.

Ragam kasus yang tercipta karena ulah kehadiran perusahan di Haltim sangat banyak. Terjadi intimidasi antar warga (pro/kontra) Wasile / Halmahera Timur dengan warga Patani / Halmahera Tengah di tengah hutan antara Wasile dan Patani. Konflik ini terjadi karena perebutan lahan yang masuk dalam areal konsesi pertambangan Pt Weda Bay Nikel (WBN).

Konflik serupa terjadi di awal tahun 2013 di Mabapura di dalam areal pertambangan Pt Aneka Tambang antara warga dengan Pemerintah Desa. Seorang warga bernama Yunus yang tak mau menjual lahannya kepada perusahan Pt. Minerina untuk perluasan konsesi nikel, dipaksa oleh Pemerintah Desa untuk menjualnya. Menurut keterangan warga tersebut, samasekali tak tahu dan tidak pernah ia dengar sebelumnya bahwa kebunnya masuk dalam areal perluasan konsesi, tiba-tiba tim eksplorasi perusahan masuk kebun dan melakukan pengeboran. Setelah ia mengusir orang-orang ini, tak lama kemudian datanglah Kepala Desa. Kepala Desa berdalih bahwa, kebunnya telah masuk dalam wilayah Desa Soa Sangaji dan Desa telah mengeluarkan izin untuk perluasan konsesi perusahan. Namun, warga tersebut tak menerima begitu saja, dan terjadilah adu mulut hingga pada ujungnya terjadi perkelahian. Sampai hari ini, kebun warga tersebut berhasil dipertahankan.

Masih dalam desa dan tahun yang sama, seorang warga bernama Rabo Gaibu ditangkap di dalam kebunnya oleh aparat kepolisian yang memakai mobil Perusahan Pt. Aneka Tambang (Antam). Ia dituduh telah melakukan tindakan kriminal karena membakar kebunnya yang menurut aparat polisi telah masuk dalam areal Pt. Aneka Tambang (Antam). Ia kemudian dibawa ke kantor polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun sehari setelah kejadian, sebagian warga dan keluarganya datang meminta ia dikeluarkan dari penjara. Setelah dilakukan evaluasi selama tiga hari, warga tersebut kemudian dinyatakan tak bersalah. Saat warga meminta alasan sebab ia ditangkap, anggota kepolisian ini menjelaskan bahwa mereka sendiri tak tahu menahu, mereka hanya menjalankan perintah dari pihak perusahan saja.

Di Halmahera Tengah hingga Halmahera Timur, Pt Weda Bay Nickel (WBN) yang memiliki konsesi tambang seluas 54.874 hektar adalah yang terbesar Indonesia. Sekitar 35.155 hektar berada di hutan lindung! Tak hanya konflik agraria, kerusakan bentang alam pun di depan mata. Sejak awal masuk pada 1999, perusahan sudah berkonflik dengan masyarakat adat setempat, yakni Sawai dan Tobelo Dalam. Kini, perusahan bersiap eksploitasi. Pabrik sudah dibangun. Masyarakat adat terancam tersingkir dari tanah leluhur mereka.[3]

Masyarakat adat lainnya yang juga termasuk dalam areal konsesi pertambangan dan terjadi konflik lahan antara masyarakat dan perusahan terdapat di Desa Gemaf, Kobe, Sagea, dan Lelilef. Tak hanya perampasan lahan, beberapa desa terancam direlokasi karena kampung masuk dalam konsesi perusahan. Di desa-desa masyarakat adat itu ada sekitar 140 an keluarga. “perusahan langsung masuk saja tanpa bicara atau ada kesepakatan dengan warga, karena merasa berbekal izin pemerintah”. Warga pun melawan. Protes berkali-kali tetapi tak ada yang mendengar, baik pemerintah apalagi pengusaha. Pada 2012, saking emosi, warga membakar alat-alat perusahan. Warga ditangkap dan dipenjara. Perusahan gunakan polisi dan tentara, kejaksaan dan polisi hutan untuk mengkapling sepihak wilayah yang jadi perkebunan masyarakat itu.[4]

Para aparat pemerintah yang bertindak bak penpanjangan tangan perusahan ini menakut-nakuti masyarakat dengan pasal-pasal yang bisa mempidanakan mereka. Misal, warga tak boleh masuk hutan, dibacakan aturan terkait itu. Padahal, sejak dulu kala, hutan adalah tempat bergantung hidup masyarakat, rumah untuk penghidupan bagi mereka hingga anak-cucu.

Kawasan tambang ini berada di tengah hutan primer yang masih bagus. Dan hutan terancam terbabat. Di pinggiran hutan mengalir Telaga Lor, dekat Desa Sagea. Air jernih dan bersih. Ia juga terancam tercemar. Padahal, masyarakat sekitar menggunakan air untuk kehidupan sehari-hari. Bukan itu saja, para perempuan yang akan melahirkan menggunakan air sungai ini. mereka tak pakai puskesmas, perempuan-perempuan melahirkan di air. Bagaimana jika air tercemar?

Pada 2010 lalu, di Pulau Gebe, tempat bercokolnya Pt Aneka Tambang tbk (Antam) terjadi penembakan warga Gebe oleh serdadu negara yang bertugas mengamankan tambang yang melakukan aksi protes terhadap Pt Antam. Kasus ini pun tak pernah ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat apalagi perusahan sendiri.

Kerusakan bentang alam dan kerusuhan sosial yang terjadi di Halmahera selalu berada di tempat-tempat di mana ada perusahan. Di Teluk Kao, di daerah tempat beroperasinya Pt Nusa Halmahera Mineral (NHM), terjadi pencemaran air sungai dan air laut. Hingga membuat kehidupan masyarakat Hoana Pagu dan masyarakat lokal sekitar tambang terancam. Disebutkan pula, penelitian Institute Bogor (IPB) pada 2010, menemukan masalah serius terkait keberlanjutan ekosistem di Teluk Kao. Dari penelitian itu, beragam ikan yang hidup di sana sudah tercemar, antara lain mercuri dan sianida. Berdasarkan keterangan warga dan dokumentasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 2010, 2011, dan 2012, pipa limbah (tailing) milik perusahan jebol dan limbah mengalir ke sungai Kobok dan Ake Tabobo serta beberapa anak sungai yang bermuara ke Teluk Kao.[5]

Sejak pipa jebol, masyarakat mulai ketakutan mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao. Mereka takut menggunakan air sungai, dan mulai kesulitan mencari udang, kerang dan ikan di air sungai itu. Padahal, sebelum perusahan tambang datang, ikan dan sejenisnya mudah diperoleh. Hasil perkebunan mereka seperti kelapa dan tanaman bulanan lain di sekitar Sungai Kobok tak produktif lagi. Mereka juga mengalami krisis air bersih hingga setiap bepergian ke kebun harus membawa air dari kampung. Warga beberapa desa yang mengalami krisis air bersih seperti Desa Balisong, Bukit Tinggi, Dusun Beringin dan Kobok. Mereka harus membeli air gelong seharga Rp 15.000 per gelong. Perusahan juga menggunakan Brimob untuk menjaga dan mengawasi pertambangan. Pada 2013, seorang warga, Rusli Tunggapi, tertembak. Awal tahun,tiga warga adat Hoana Pagu di Desa Sosol mengalami kekerasan oleh Brimob. Pada 2012, sebanyak 30 warga adat Pagu ditahan karena aksi protes di Perusahan.[6] Dan semua kasus ini tak pernah ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat. Tak pernah diberitakan malah ditutup-tutupi oleh pemerintah dan perusahan.

Sedang di Halmahera bagian lainnya, Halmahera Selatan (Halsel), di Gane tepatnya, sejak tahun 2011, Pt. Gelora Mandiri Membangun (GMM), sebuah perusahan sawit skala besar yang mengantongi Izin Pelepasan Kawasan (IPK) menancapkan alat beratnya di atas bumi Gane. Tanpa sosialisasi ke warga, perusahan yang wilayah konsesinya kemudian dijual ke Pt. Korindo itu melakukan praktek penggusuran hutan, juga kebun milik warga, baik yang pro dan telah mendapat ‘ganti rugi’  maupun terhadap kebun warga yang menolak adanya investasi ‘perbudakan’ tersebut. Dengan izin luas konsesi 11.09 hektar versi AMDAL, warga pesisir yang umumnya adalah petani kebun kelapa, cengkeh, dan pala kemudian dipaksa menjadi buruh sawit bagi perusahan.

Warga Gane Barat menceritakan bagaimana hadirnya korporasi sawit ini kemudian memecah belah solidaritas dan persaudaraan antar mereka. Warga kampung tersebut kemudian terpolarisasi dalam dua blog sentiment, pro dan kontra. Tidak cukup dengan strategi mencipta ruang konflik antar warga, pada 2013 korporasi ini juga menggunakan kekuatan serdadu negara untuk mengkriminalisasi 13 warga yang melakukan aksi blokade jalan loging sebagai bentuk perjuangan menjaga ruang-hidup. Warga yang ditangkap dan ditahan selama kurang lebih tiga bulan lalu diproses hingga ke pengadilan dan dinyatakan tidak bersalah alias bebas demi hukum.

Lalu 2014, dua warga Gane Luar dijemput paksa oleh anggota polisi dari Polres Halmahera Selatan. Satu diantara dua warga ini berusia 15 tahun. Dia dipukul serta diintimidasi saat dibawa dengan mobil Pt. Korindo yang digunakan aparat kepolisisan tersebut. Dia juga dipaksa untuk membuat pengakuan mengenali pelaku peristiwa seorang buruh perusahan yang diduga dicederai saat menebang kayu di hutan. Keduanya ditemukan di Ufa, lokasi perkebunan warga Gane Luar saat sedang mencari sapi. Mereka lalu dibawa ke bescamp Pt. Korindo dan kemudian diinterogasi secara terpisah.

Upaya-upaya warga untuk menahan dan mengusir perusahan berbalas kejahatan oleh korporatokrasi. Pada 7 Januari 2015 di Desa Gane Dalam terjadi adu mulut antar warga dengan pihak kepolisisan Halmahera Selatan yang bertugas mengamankan perusahaan. Kejadian berlangsung di salah satu kebun jurami milik salah satu warga di lokasi yang bernama Malalo. Tiap perusahan mengklaim lokasi kebun jurami tersebut merupakan hutan, bukan kebun sehingga akan digusur untuk perluasan konsesi sawit. Warga pemilik kebun lantas menolak klaim tersebut. Setelah adu mulut, seorang oknum polisi langsung mengeluarkan sepi dan melepaskan tembakan ke udara. Warga bukannya takut tapi justru semakin berani karena mereka benar, mereka mempertahankan lahan, ruang-hidup, tanah moyangnya, warisan bagi generasinya. Walaupun akhirnya penggusuran akhirnya dihentikan, namun tentu saja warga Gane setiap saat dihantui rasa was-was, di mana kapan saja ketika mereka jengah, ruang-hidup mereka akan tergusur oleh raung bolduzer korporasi. Karena peristiwa semacam ini tak hanya dialami warga satu-dua kali melainkan berulangkali.[7]

Kerusakan bentang alam, hilangnya keselamatan masyarakat dan makhluk sekitar, juga kerusuhan dan pertempuran sosial tak pernah dievaluasi oleh pemerintah pusat hingga daerah. Perebutan ruang hidup dan kerusakan alam yang berjalan massif tak pernah dijadikan agenda utama pemerintah untuk menghentikannya. Bahkan banyak data dari hasil penelitian tertentu menjelaskan bahwa justru yang menggerakkan dan menjadikan fenomena sosial demikian adalah Pemerintah yang berkongsi dengan pemodal (perusahan).

Seorang warga kampung Desa Mabapura yang sekaligus adalah orang perusahan Pt. Roda Nusantara Mining menuturkan: “banyak orang kampung tidak tahu menahu tentang sebab konflik lahan antar warga, mereka mengira ini hal biasa, padahal semua telah diatur oleh perusahan. Perusahan mencipta konflik antar warga supaya nanti mereka tinggal membayar saja, karena perusahan tahu bahwa masyarakat pasti membutuhkan uang”.

Ini sebuah ironi yang terang, yang perlu diperingati, ditindaki. Sebuah kebohongan publik yang berhasil di desain oleh para penguasa negeri dan orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi dan kelompoknya. Ini merupakan sebuah penjajahan berkelanjutan dari sejarah panjang penjajahan sebelumnya. Sebuah krisis menyejarah yang tak akan bisa berhenti tanpa perjuangan kolektif dan dukungan bersama.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Halmahera

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Laut_Halmahera

[3] http://www.mongabay.co.id/2013/06/07/  di akses pada tanggal 10 Maret 2015

[4] Ibid

[5] http://www.mongabay.co.id/2014/01/03/  di akses pada tanggal 10 maret 2015

[6] Ibid

[7] Diambil dari catatan Solidaritas Gane Berlawan.

 

Rachmat Marsaoly

Sajogyo Institute, Bogor, 14 Maret 2015

Kampung dan Kota; Antara Kenyataan dan Khayalan

Dalam senin pagi saya mengajak seorang teman pergi ke kampus. Sambil terus membaca buku ia tidak merespon ajakanku. Kampus memang relatif dekat dengan kosan, langsung berdiri saya keluar menuju kampus. Di depan kampus, saya bertemu dua orang teman, mereka mengajak saya pergi ke kantin. “mumpung belum ada dosen kita sarapan sebentar”. Begtu ajaknya. Ajakan coba saya tolak, tapi mereka bersikeras. Ajakan tidak bisa lagi saya tolak. Di dalam kantin, beberapa mahasiswa/i terlihat serius dalam obrolan. Terdengar suara keras dari arah mereka “kamu kampungan bro…”. Serempak suara tertawa memenuhi ruang kantin mengejek teman mereka.

Sebagai anak yang berasal dari kampung, saya agak tersindir dengan lagak teman-teman mahasiswa itu. Saya terlibat dalam tawa penyindiran itu. Bagi saya, sekalipun yang ditertawakan adalah teman mereka, tapi saat itu sayalah yang mereka tertawai. Mereka bukan saja menertawakan temannya, tapi sesungguhnya mereka telah menertawakan kata “kampung” itu sendiri. Kata “kampung” menjadi bahan ejekan untuk seseorang yang berlagak (berpenampilan) sederhana, pakaian yang tidak bermerek, dan berpikiran yang seperti pikiran kebanyakan orang-orang di kampung. Diam-diam saya marah keras karena saya juga seorang anak kampung.

Pikiran saya mencari-cari sebab apa yang membuat mereka dan banyak orang berpikiran demikian. Padahal mereka mahasiswa, terpelajar, dan berpendidikan. Tapi cara berpikir demikian masih bersarang dalam kepala mereka. Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Bila benar adanya, lantas pada ruang mana lagi yang kita percayai untuk mendidik kita (pikiran dan jiwa) mendidik generasi, mendidik bangsa. Bukankah dunia pendidikan adalah satu-satunya dunia yang dipercayai negara dan banyak masyarakat untuk mendidik bangsa dan anak-anak untuk menjadi lebih baik (berpikiran sehat, berjiwa bersih, dan bersikap mulai) terhadap hidup dan sesama?

Saya juga ingat sewaktu di Malioboro, seorang tua dengan anaknya membeli sebuah mainan anak kecil. Anaknya menolak untuk tidak membeli, sang bapak menawarkan satu permainan lagi, tetap sama, sang anak menolak. Ternyata sang anak lebih tertarik pada sebuah mainan yang ada di tangan seorang bocah kecil di sampingnya. Sebuah permainan yang dianyam dari kulit pohon dan dibentukkan menjadi seperti bola kecil. Akhirnya Sang bapak mengetahui keinginan sang anak, “oh, kamu lebih suka yang ini (sambil menunjuk pada permainan bola kecil milik seorang bocah), waduuh itu jelek, yang ini lebih bagus.. kamu jangan kampungan…”. Bapak ini mengeluarkan bahasa yang sama, sindiran yang sama, pikiran yang sama. “Kampungan”.

“Kampungan”, kata itu menjadi momok dalam pikiran kebanyakan orang. Ia terus menjadi bahan sindiran dan ejekan. Seperti kita sama tahu, “kampungan” berasal dari kata “kampung”, maka mereka yang selalu menjadikan bahasa kampungan sebagai bahan sindiran dan ejekan, berarti mereka telah menganggap kampung sebagai tempat dan ruang yang tidak seharusnya kita tempati, tidak layak, tidak menjamin apa-apa, dan banyak “tidak” lainnya. Dan sering kita dapati dalam banyak tuturan orang, mereka selalu melawankan antara kata “kampung dan kota”.

***

Tulisan ini hendak melihat dan menceritakan dua situasi ruang yang sering menjadi objek pembicaraan orang. Tepatnya ruang hidup orang. Yakni Kampung dan Kota. Di mana-mana orang sering membicarakan tentang perkembangan dan perubahan, ketertinggalan, kekunoan, yang kemudian disandingkan dengan dua ruang di atas. Bahkan ‘perkembangan’ dan ‘perubahan’ seperti telah merasuk jauh di dasar kesadaran semua orang, seakan menjadi satu keyakinan utuh dan niscaya dalam hidup.

Namun masing-masing orang punya perspektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Kota seakan mendapatkan predikat berkembang, maju, dan kampung adalah yang kuno atau tertinggal. Dua kosa kata itu–perkembangan dan perubahan sebagai kota–kemudian tampil sabagai sosoknya di berbagai media, dalam menggambarkan suatu dunia yang berkembang maju dan disaat yang sama menegaskan satu dunia yang tertinggal. Tampil dalam bentuk teks, gambar atau iklan-iklan di majalah, televisi dan ragam media lainnya. Terkadang daerah-daerah tertentu menjadi objek (contoh kota) seperti Jakarta, Bandung, Karawang, dan kota lain yang pada kenyataannya selalu lahir problem sosial. Pengetahuan masyarakat (sosial) telah ditentukan oleh berbagai media tersebut.

Dua kosa kata itu (perkembangan dan perubahan) tidak hanya marak dibicarakan di masyarakat tapi juga di negara, di elit pemerintah kita. Sehingga disusunlah berbagai kebijakan yang mengarah pada dua kosa kata tersebut. Dibuat dan dimuat dalam bentuk draf-draf tebal. Dan konsep perkembangan dan perubahan itu sesungguhnya diciptakan oleh negara itu sendiri. Yang kemudian dikomsumsi oleh masyarakat luas. Dan selanjutnya masyarakat seakan diberi harapan tentang satu ‘dunia masa depan’ yang entah wujudnya seperti apa.

Iya, siapa yang tak mau pada perubahan, siapa pula yang tak ingin berkembang. Saya yakin dan percaya manusia manapun pasti menginginkan dua hal tersebut. Tapi, orang-orang sering lupa tak mau bertanya, seperti apakah perkembangan yang dimaksud, atau perubahan seperti apa yang diinginkan, apa yang akan dirubah. Mungkin kita sengaja tak mau tahu, atau mungkin karena kita telah ditipu oleh satu model pengetahuan yang lain. Sehingga—karena sesuai dengan pengetahuan yang kita konsumsi—kita setuju-setuju saja dengan apa yang umumnya berlaku saat ini. Dan kemudian menganggap semua baik-baik saja.

Seorang bijak pernah berkata “perkembangan yang menyengsarakan manusia adalah kebodohan dan perubahan yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri adalah kesesatan”[1].

Perkataan seorang bijak diatas menyentuh konteks kita sekarang. Bagaiman tidak, manusia-manusia kini lebih mengejar keuntungan sendiri. Keakrabah yang dahulu begitu intim telah dibuang jauh-jauh, tinggal permusuhan. Teman, sahabat, keluarga, semua hanya jadi kebanggaan ucapan bibir, tak lagi punya bobot dalam batin. Padahal, ikatan-ikatan itu yang akan membimbing, memandu kita lalaui jalan hidup yang baik. Padahal dari semua itulah kita bisa hidup. Semua itu kini hanya jadi fatamorgana. Dipandang sesaat dan hilang sudah. Orang kota digusur rumahnya atas nama pembangunan, tersingkir lalu jadi miskin. Orang-orang di kampung terseret dari ruang hidupnya, karena diusir melalui ragam macam kebijakan yang berlaku: konsesi lahan tambang, hutan yang di kapling oleh perusahan dan lain-lain. Tanah jadi sempit, akhirnya mereka terusir lagi, pergi ke kota, menambah kantong kemiskinan kota. Kampung diusahakan, direncanakan, dan terus dirubah esensinya agar menjadi kota.

Mengapa terjadi demikian. Kenapa semua relasi-relasi itu kehilangan hakekatnya? Seperti bagaimanakah perkembangan dan perubahan itu dimaksudkan. Mengapa kota dipandang begitu megahnya, seakan-akan ia adalah masadepan ummat manusia. Sedang kampung seperti sebuah ruang-hidup yang tak menjanjikan malah menyengsarakan. Kampung seperti tak memberikan penghidupan untuk masadepan.

Tapi sejenak marilah kita tengok kehidupan dalam dua ruang ini, kampung dan kota.

Saya masih ingat dahulu di kampung saya, Mabapura, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, sewaktu masih duduk di bangku SD, kami sekeluarga hidup di kebun. Kebun kami dekat dengan sebuah sungai. Untuk makan dan minum kami langsung dari tanaman-tanaman di kebun dan air dari sungai. Bila air sungai puas kita minum, air buah kelapa jadi gantinya. Pohon kelapa berjejeran hampir satu hektar lahan kebun di tumbuhi pohon kelapa. Bapak saya memang sengaja menanam pohon kelapa dengan banyaknya untuk kebutuhan ekonomi uang, demi biaya sekolah anak-anaknya. Tidak hanya kami sekeluarga, tapi cara hidup seperti ini hampir seluruh orang kampung kala itu, sama. Bila pagi menjelang, saya bersama saudara-saudara bergegas mandi di kali untuk pergi ke sekolah. Jarak kebun dan sekolah memang relatif jauh, tapi bagi kami jarak bukan penghalang atau hambatan, kami tak pernah mengeluh tentang itu. semua berjalan dengan senang hati tanpa beban.

Kehidupan kampung seperti ini saya yakin seluruh kampung di nusantara, sama. Sekalipun berbeda dari sisi luaranya. Tapi batinnya, semangatnya, kebahagiaan dan kesederhanaan hidup itu, sama. Sama-sama bersahabat dengan alam nyata. Sama-sama saling rasa merasai dalam satu rumah kosmos.

Ya, memang begitulah ruang kampung itu menampilkan sosoknya, situasinya. Dan ”Bila kita mendengar kata kampung, maka yang terlintas di benak adalah debur ombak, pepohonan yang lebat, gonggongan anjing, sahutan burung di ranting, orang-orang yang sederhana[2]”. Di kampung, kita benar-benar merasakan keeratan hubungan orang-orang melalui interaksi sapa-menyapa dalam bentuk tolong-menolong, gotong-royong dan lain sebagainya. Keeratan hubungan orang dengan alamnya: mencuci pakaian di sungai, berenang di laut bebas bersama ikan-ikan dan terumbu karang, bertani di kebun dan sawah, menyusuri hutan belantara mencari rusa dan hewan lainnya. Betapa kehidupan di kampung tampil dengan apa adanya. Kehidupan yang berjalan dengan kerendahan hati, tak mau ingin yang berlebihan. Orang kampung akan mengambil ikan di laut (memancing) sekedar makan sehari atau dua hari untuk keluarga. Berburu hewan di hutan hanya dengan secukupnya. Tidak dengan rakus menjerat hewan-hewan hutan dengan serakah. Di kampung, alam dan manusia sama-sama saling isi-mengisi, berkelindan satu dengan yang lain. Sama-sama saling lengkap melengkapi dalam kebutuhan hidup. Tak ada kompetisi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Sama-sama saling merawat dan menjaga, sama-sama saling intim dan bahagia. Semuanya, tak ada ego yang berlebihan.

Tapi sekali lagi, dalam hidup sekarang ini, sangat sulit, dan sulit sekali bagi kita mempertahankan hakekat kampung seperti terurai diatas. Kini, kehidupan kampung akan terus dikebiri demi memenuhi kepentingan mereka yang mengatur semua relasi dan sistem yang ada. Kehidpan kampung terus dikejar untuk dieksploitasi sumberdayanya (eksploitasi alam dan manusia). Semua telah diatur sedemikian rupa dan sedemikian canggihnya oleh penguasa dan pengambil kepentingan. Semua intitusi-institusi formal (pendididkan, dan ruang diskursus lainnya) telah diatur berdasarkan kepentingan segelintir orang saja.

Dalam dunia kampus misalnya, kita diharuskan mengambil jurusan yang kita sukai, dan apabila satu jurusan telah diambil, maka jurusan yang lain tidak lagi bisa. Yang berjurusan sosiologi tidak bisa belajar jurusan teknik arsitek, yang jurusan teknik sipil tidak bisa belajar jurusan bahasa. Dan semuanya begitu sebaliknya. Dalam belajar, pikiran kita dibatasi. Potensi kita dipenjarakan. Kita benar-benar dibatasi dalam belajar. Dan semua itu berakhir dengan meraih satu kertas kecil. Ijazah. Kemudian setelah itu kita dituntut untuk bekerja dalam ruang-ruang formal yang juga telah diatur dan berada dalam sistem yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan individu semata. Bukan untuk kepentigan bersama, kepentingan alam dan manusia, manusia dengan manusia.

Akhirnya, produk dari pendidikan (pengetahuan) kita adalah eksploitasi besar-besaran. Tragisnya, kita mengeksploitasi (alam) diri kita sendiri sebagai makhluk paling mulia diantara makhluk lainnya. Kita telah bergeser antara dunia nyata dan khayal. Kita terpontang-panting antara kenyataan dan khayalan.

***

Saya tak pernah yakin, terserah anda bagaiman, bahwa hidup mengajak kita senantiasa bermewah-mewahan, gaya-gayaan, dan sebatas pemuasan diri-sendiri. Saya juga tak percaya bahwa kemenangan dan kemerdekaan hidup ialah mengedepankan keinginan yang berlebihan dan kepentingan sendiri-sendiri. Saya hanya percaya: kebebasan, kemerdekaan, kebahagiaan, serta segala menuju kedamaian hanyalah ketika jalan kesederhanaan kita lalui.

Dengan kesederhanaan, kejahatan bisa luluh, kebengisan jadi kasih. Dengan kesederhanaan, segala masalah datangkan solusi. Dengan kesederhanaan semua jadi hikmah. Diri yang sederhana adalah kekayaan melimpah, kemewahan tiada bandingannya, bahkan dengan seisi dunia.

Bagaimana kesederhanaan dapat kita rengkuh, bila kenyataan hidup ini hari begitu pekat dan sesaknya. Cermin yang mana akan kita pakai melihat diri yang sederhana. Bila orang-orang kini saling melempar caci-maki. Cermin kita retak sudah. Bagaimana kesederhanaan dapat dicapai, sedang kita masih saja rakus terhadap diri sendiri, terhadap alam semesta.

[1] Mahatma Gandhi, dalam Semua Manusia Bersaudara

[2] Surya Saluang dalam Majalah Salawaku edisi 1 2014

Jogja, 12 Desember 2014

Rachmat Marsaoly

Pintas Sejarah

Setiap orang dengan kampung halamannya pasti mempunyai sebuah hubungan khusus yang tak pernah ia dapati dan jumpai selain daripada kampungnya sendiri. Kampung halaman seolah menjadi sahabat akrab sekaligus ‘orang tua’ kehidupan yang mengajarkan kita tentang semesta raya dan memperkenalkan kita dengan segala sisi keindahannya. Segala yang menyangkut dengan kampung halaman adalah juga semua yang berhubungan dengan diri kita sendiri.

Dalam tulisan singkat ini, ingin saya berbagi cerita dan pengalaman tentang masa di mana saya dan kehidupan kampungku tempoe doeloe hingga pada kehidupan hari ini.

Haltim Masa Kecilku

Masih tersimpan baik dalam tabung ingatan tentang kehidupan yang bersahaja dahulu. Ketika fajar membuka mata di jalanan orang-orang mulai sibuk dalam rutinitas kesehariannya. Ada yang berangkat ke kebunan sebagai petani dan mancing di laut sebagai nelayan. Ada yang berstatus petani ada pula berstatuskan nelayan. Bersama teman-teman adalah anak pribumi yang ikut meramaikan suasana kala itu. Kami, khususnya anak-anak ketika terbit fajar semuanya bersiap berangkat sekolah. Karena praktis di desaku waktu itu orang tua kita adalah petani dan nelayan, maka setiap sebelum berangkat sekolah sarapan pisang goreng dan ubi goreng, terkadang ikan dan sagu kadang juga nasi menjadi santapan nikmat. Semuanya telah disajikan Ibu sebelum bersama bapak berangkat ke kebun. Memang, jarang sekali kala itu saya mengkonsumsi nasi. Yang lebih dinomorsatukan adalah pisang goreng dan ubi goreng. Itu makanan kesukaan saya. Dengan buku yang hanya dijinjing tangan sebelah kanan, dan kaki yang amat jarang memakai sepatu penuh semangat dan riang melangkah ke sekolah.

Pulang sekolah beramai-ramai kami mengatur jadwal bermain; pergi ke hutan menangkap burung bersenjatakan katapel, pergi ke laut menangkap ikan dengan pancing dan panah, dan permainan lainnya seperti boi[1], ada yang sehabis pulang sekolah langsung pergi menyusul orang tuanya di kebun. Ada pula yang mengikuti pengajian rutin setap hari di salah satu guru mengaji (ustadz) di desa kami. Bila matahari mulai condong ke barat dan hari mulai gelap, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Karena desa saya 100% beragama muslim maka ketika tiba waktu maghrib, dari anak-anak sekolah hingga pemuda dan orangtua, semuannya memenuhi jalanan menuju masjid. Hampir di setiap hari suasana desa terlihat akrab dan bersahaja, ramah dan nyaman.

Dan sewaktu-waktu ketika datang liburan sekolah, lebih banyak waktu kami habiskan liburan di laut dengan mengikuti penangkapan ikan bersama nelayan yang memakai bagam, menurut kami berlibur dengan bagam di laut rasanya asik sekali: makan ikan yang banyak, memancing dengan sepuasnya, mampir di beberapa pulau di depan kampung, dan setelah itu semua ikan kita bawa pulang ke kampung. Asiknya bukan karena kita akan mendapatkan uang yang banyak, tapi karena kita telah dijemput oleh ibu dan bapak, keluarga juga orang-orang kampung yang akan melihat ikan yang banyak hasil pancingan kami semalam di laut. Tak ada sistem jual beli kala itu, “silahkan semua ikan di pilih sesukannya, di bawa pulang ke rumah masing-masing, kecuali ikan teri”, begitu aturan yang disepakati bersama. Karena ikan teri nantinya dijemur kemudian dijual di Halmahera Utara, Tobelo. Hanya ikan teri yang dijual untuk kebutuhan uang. Satu hal lagi yang membuat saya bangga menjadi seorang pelaut adalah karena kampung saya Mabapura dikenal dengan lumbung ikan, terutama ikan teri itu.

IMG_20141018_025238

Mancing ikan di laut

Saya juga masih ingat, kala itu para orang tua mengajarkan kita falsafah hidup Masyarakat Haltim: Ngaku Se Rasai, Budi Re Bahasa, Sopan Re Hormat, akal re wlou, fartelem re faparacaya, faisayang re fagogoru. Keenam falsafah ini telah mengakar kuat dalam relung masyarakat Haltim kala itu. Sebuah falsafah yang digagas dan diletakkan oleh para leluhur Haltim hakikatnya satu: menjaga keseimbangan hidup.

Ngaku se rasai yang berarti saling menjaga dan menjunjung ikatan perasaan antarsesama, Budi re bahasa adalah menjaga akhlak dan budi serta bahasa kita, Sopan re hormat adalah menjaga sopan santun dan saling menghormati, Akal re wlou adalah menyatukan pemikiran(akal) dan perasaan(hati) serta Faisayang re fagogoru yang berarti saling menyayangi dan selalu bersama-sama. Dengan falsafah hidup seperti inilah kami masyarakat haltim kala itu saling hidup bersama, tak kenal untung atau rugi, tak kenal kawan atau lawan, kami semuanya hidup sesuai kesanggupan dan kemampuan masing-masing, kami hidup atas dasar konsep kekeluargaan, bahwa siapapun dia adalah keluarga kami. Kebersamaan itu terlihat jelas ketika datang musim panen, para petani dengan ikhlas membagi-bagikan hasil panennya kepada keluarga dan tetangga, atau para nelayan membagi-bagi hasil pancingannya kepada para tetangga dan sebagian penduduk desa. Kebudayaan ini berjalan hinggga puluhan tahun. Dari moyang kami hingga masa kami saat itu.

Dan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, masih ada mata pelajaran bahasa daerah. Seperti pelajaran muatan lokal yang di dalamnya mempelajari bahasa daerah, tarian daerah dan bentuk kearifan lokal lainnya. Bahkan dalam dunia pendidikan, para guru dan murid saling membantu, menghormati dan menghargai sesama.

Kami juga tak pernah mengenal dunia media massa kecuali radio. Seperti televisi, koran handphone, gadgate dan sejenisnya tak pernah kami ketahui. Namun, pada tahun 1999 televisi mulai kami kenal, dan hampir di setiap malam, dari anak-anak hingga orang tua berkumpul ramai di rumah yang ber-TV. Awalnya, di kampung saya, TV hanya berada di satu rumah yaitu rumah salah satu keluarga pendatang dari Sulawesi. Barangkali TV itu dibawa dari Sulawesi atau entah darimana. Perlahan dunia TV mulai dikenal masyarakat luas dan hasrat untuk membeli TV semakin tinggi. Sejak itulah kesan dan kesadaran, bila di sebuah rumah belum punya TV maka ia dikatakan masyarakat tertinggal, orang yang kurang mampuh dan ragam bahasa lainnya yang mengandung ketersinggungan. Kesan itu saya dan keluargapun merasakannya sendiri. Akhirnya masyarakat satu demi satu mengejar uang untuk membeli TV agar bahasa sindiran ‘tak mampuh dan ketinggalan’ tak disandanginya. Karena dunia modernisme semakin meluas, kearifan hidup perlahan mulai terancam.

Haltim 2001 Hingga Sekarang

Pada tahun 1999 Masyarakat haltim mulai disuguhkan alam pikir kemoderenan. Apalagi pada tahun 2001 Pemerintah Daerah (PEMDA) mengizinkan beberapa perusahan swasta maupun yang berpayung BUMN masuk mengeksplorasi dan kemudian mengeksploitasi wilayah kami. Dan ini adalah langkah awal energi dan budaya haltim mulai diproduksi, di marginalisasi, dijual-belikan jadi barang dagangan. Kehidupan rakyat yang awalnya bertani dan nelayan, kini mulai dirubah oleh mereka: melamar di perusahan dan kemudian menjadi buruh kasar di perusahan. Setibanya perusahan di daerah kami, nelayan dan petani hampir seluruhnya meninggalkan pekerjaan dan tempat pecarian nafkahnya dahulu dan memilih bekerja di perusahan.

Satu persatu bagam-bagam[2] mulai hilang karena tak lagi ada yang mau perduli, kebun-kebun nyaris tak diperhatikan lagi. Apalagi dengan bertambah luasnya wilayah Kawasan Perusahan membuat para petani menjual semua lahan perkebunan dengan uang yang tak menjanjikan keselamatan masadepannya apalagi anak cucu. Bukan hanya daratan yang menjadi kawasan perusahan, laut juga di pagari perusahan sehingga hak atas laut setiap masyarakat nelayan menjadi terputus. Akhirnya untuk makan ikan dan lauk saja masyarakat harus membelinya di pasar Buli dan Subaim. Keadaan mulai terbalik drastis dari yang ‘apa adanya’ menuju ‘tak ada apa-apa’. Perusahan lebih memperluas konsesi pertambangannya, dan rakyat juga semakin antusias menjual lahan-lahanya. Bahkan ada yang sampai bepergian jauh dengan jalan kaki berkelompok puluhan kilo meter mendaki beberapa gunung di belakang desa untuk membuat kavelingan (kaplengan). Kemudian semua daratan pegunungan yang telah dikapling oleh mereka mengklaim sebagai tanah individu-individu atau milik kelompok tertentu saja. Selanjutnya, tanah atau wilayah kapling itu dipersiapkan untuk  pembebasan lahan oleh perusahan ketika akan memperluas wilayah Kuasa Pertambangannya (KP). Kebiasaan mengkapling ini terus merasuk dalam pikiran dan sadar masyarakat. Banyak pula kasus-kasus yang terjadi seperti perkelahian antara masyarakat satu dengan yang lain oleh karena perebutan atas wilayah kapling itu. Tanah yang dahulu milik bersama telah berubah jadi milik individu dan kelompok. Tanah yang dahulu dipandang sebagai alas hidup bersama kini menjadi alat mencari keuntungan sendiri-sendiri. Tanah yang dahulu dijunjung tinggi keberadaannya kini hanyalah sebatas barang dagangan yang murah.

Kerusuhan dan pertempuran sosial itu tak pernah dievaluasi oleh pemerintah daerah sendiri. Perebutan ruang hidup dan kerusakan alam yang berjalan massif tak pernah dijadikan agenda utama pemerintah untuk menghentikannya. Bahkan banyak data dari hasil penelitian tertentu menjelaskan bahwa justru yang menggerakkan dan menjadikan fenomena sosial demikian adalah Pemerintah yang berkongsi dengan pemodal (perusahan). Ini sebuah ironi yang terang, yang perlu ditindaki, dperingati. Sebuah kebohongan publik yang berhasil di desain oleh para penguasa negeri dan orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Hingga pada Tahun 2003 Haltim resmi dimekarkan menjadi kabupaten baru. Dahulu Haltim adalah wilayah Halmahera Tengah (Halteng). Namun setelah diresmikan menjadi satu kabupaten baru, Haltim memisahkan diri secara struktur kepemerintahan (administratif) dengan Halteng. Dan di situ pulalah kepentingan para penguasa semakin memuncak, perizinan perusahan tambang semakin banyak, eksplorasi dan eksploitasi semakin meluas di mana-mana, pertambangan semakin mengancam keaslian wajah pertiwi Haltim. Dan masyarakat semakin kehilangan ruang hidupnya, terutama di bidang pekerjaan primer (petani dan nelayan). Semuanya semakin bergantung pada perusahan: pembangunan jalan, sekolah, dan pelabuhan. Semuanya (program Pemda) itu terutama sekali diserahkan kepada perusahan Pt.Antam Tbk untuk menjalankan roda pembangunan di Haltim. Hampir di segala program Pemerintah Daerah (Pemda) diserahkan kepada Pt.Antam. Dari pendidikan, pembangunan dan bahkan kebudayaan semuanya diserahkan kepada perusahan. Akhirnya, masyarakat hingga Pemerintah Daerah 99% sekarang telah bergantung pada Pt.Antam.

Pesisir Haltim tercemar limba Perusahan tambang (Pt. Antam tbk). Pohon bakau sebagai rumah bagi ikan untuk bereproduksi terganggu, dan ikan mulai berkurang.

Pesisir Haltim tercemar limbah Perusahan tambang (Pt. Antam tbk). Pohon bakau sebagai rumah bagi ikan untuk bereproduksi terganggu, dan ikan mulai berkurang. Nelayan setengah mati.

Entah, ini adalah sebuah kemajuan atau kemunduran, kami tak tahu. Namun jelas terang fakta mengatakan bahwa keadaan masyarakat Haltim hari ini dan bahkan mungkin di masa yang akan datang telah memarjinalkan masyarakat pribumi itu sendiri. Mengalienasikan segala ruang hidup masyarakat dari alamnya. Dan kemudian hanya mampuh menjadi budak dan budak para pemodal di negeri sendiri.

Jogja, 14 Maret 2013
Rachmat Marsaoly

[1] Boi adalah salah satu permainan yang di mainkan berkelompok dengan menggunakan tempurung kelapa yang disusun dan bola

[2] Bagam: seperti perahu besar dipakai untuk menangkap ikan di laut.

Pulang Kampung

Kitorang pe kampung so ancor.
Skarang, kitorang so tra tau mo bikin bagimana lagi nih.

(Kampung kami sudah hancur.
Sekarang, kami tak tahu bagaimana lagi selanjutnya)
(Perkataan seorang Ibu kepada saya di Desa Mabapura)

Beberapa bulan lalu, saya dan teman-teman dari Jogja kembali ke kampung halaman. Tentu, tak ada perjalanan “manusia yang sadar” yang tak mengenal tujuan dan maksudnya sendiri. Begitu juga kami, bukan kembali begitu saja, atau pulang dengan keinginan kosong dan hampa. Melihat sekaligus dengan kemampuan memperjuangkan nasib negeri yang kini berada di ujung jurang binasa adalah tujuan kami, belajar bersama orang kampung yang ini hari di kocok-kocok oleh janji manis dan berakhir dengan kepahitan, khayalan tinggi yang berujung pada kehampaan, agar sedikit demi sedikit, sesuai dengan mimpi kami perlahan keluar dari penjara khayal selama ini. Sekarang, orang kampung–termasuk barangkali anak cucunya nanti–tercerabut dari akar sejarah dan budaya yang luhur. Siapa yang mendesain ini, dan yang masih akan terus menjual hajat hidup orang-orang ini. Tak bisa menyebutkan siapa dia siapa mereka, sebab ada “banyak dia dan mereka” yang turut menghancurkan nasib orang-orang kecil.

Pulang kampung. Dua kata itu tak hanya terdiri dari tiga belas huruf yang tegak atau miring, pun tidak hanya keluar dari mulut dan dituliskan jemari begitu saja. Dua kata itu punya daya yang tak biasa, ia punya kedalaman rasa dan luasan makna yang tak bisa diurai tafsirkan dengan gampang dan sepele. Pulang kampung merupakan bahasa orang merdeka, bukan orang-orang kalah, suatu bahasa yang punya manifestasi ruang hidup yang kaya, bebas, bersahaja, nyaman dan sekali lagi merdeka. Merdeka terhadap dunia, manusia, terhadap alam dan diri sendiri. Ia punya kisah yang panjang dan dalam, di kedalaman kisahnya ada energi kuat. Sebuah kisah orang-orang yang berpegang teguh pada adat budaya dan nilai luhur para leluhurnya, nilai luhur dari alamnya. Bukan kisah penyingkiran sebuah masyarakat adat dari tempatnya sendiri, seperti dalam buku Roem Topatimasang (2004) itu.

Namun, bila ada yang hendak bertanya pada saya, apakah saya termasuk dalam barisan orang yang pulang kampung, atau orang merdeka terhadap manusianya, dunia dan alamnya. Maka sungguh pertanyaan tersebut seperti menendang saya jauh-jauh dari barisan itu. Barisan orang merdeka itu. Saya termasuk orang-orang kalah yang telah dikisahkan Roem Topatimasang dalam bukunya Orang-Orang Kalah. Sayalah orang yang disingkirkan dari adat budaya dan sejarah, dari ajaran dan kepercayaan. Orang yang dirampas ruang hidupnya secara paksa.

Saya tak sendirian, orang-orang yang  berada di sekeliling saya hari ini juga termasuk dalam barisan orang-orang kalah, orang-orang yang sejatinya tak lagi hidup dalam ruang hidupnya sendiri, orang-orang yang dikebiri jauh-jauh hari, dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, dan kemudian terasing dari tanah-airnya sendiri, dan hampir-hampi tak sanggup lagi mengenal diri, atau kalau tidak menjadi pecundang di negeri sendiri. Dari abad ke abad, kami bukanlah orang yang mengambil bagian dalam melangsungkan sebuah perubahan besar yang terjadi dalam ruang ini, bukan pula kami yang menentukannya.

Beberapa bulan lalu, sekembalinya saya dari Jogja, benar-benar saya merasakan kenyataan bahwa selama ini, setelah jutaan tahun kami antri dalam barisan orang-orang kalah, kami hanya hidup dalam ruang jadi-jadian, sebuah ruang yang telah didesain dengan ribuan hayalan dan polesan janji yang tak pernah nyata wujudnya, dan mungkin hingga hari-hari yang akan berdatangan. Bila tidak cepat kita mengatasinya dan acuh tak acuh terhadapnya.

Gugusan pulau-pulau yang menyimpan memori sejarah, yakni kisah para pejuang negeri dalam melawan para penjajah, kini dibabat habis, digusur dan diangkut pergi ke negeri-negeri para penjajah pula. Kampung yang dahulu molek nan indah, alam dan manusia yang aneka dan bijaksana, berubah ganas dan buas, masing-masing bermusuhan di ladang sendiri. Para petani dan nelayan tinggalkan cangkul dan parang, kail dan jaring, kuda-kuda[1] dan pacul, berlomba-lomba mencari kerja baru dalam ladang penjajah yakni kerja paksa dengan wajahnya yang baru pula. Kebun-kebun berubah tambang yang merusak, lautan dan ikan tercemar dan mati, anak-anak kecil yang tak tahu apa-apa menjadi tempat bersarangnya penyakit, karena diserang debu truk tambang dan traktor ganas. Orang-orang tua yang sejatinya tak mengenal kekuatan khayal yang bernama uang, dalam kepala mereka dicemari janji-janji tinggi, kemajuan dan pembangunan semuanya hanyalah omong-kosong belaka. Mereka menjual tanah tempat berpijak, rela menebang ribuan pohon masadepan anak cucunya, yang semua itu berada jauh di luar kesadaran dan kemauan yang sesungguhnya. Hasil dari pada itu semua adalah orang tak lagi menghargai sejarah dan budayanya sendiri. Tak lagi saling menghargai saudara sendiri. Tak menghormati tanah-air sebagai asal muasal dirinya sendiri.

Sesampainya di kampung saya Mabapura, yang dahulu dikenal dengan lumbung ikan dan lautannya yang teduh, sekarang semua pemadangan itu tak saya jumpai lagi, semua berubah aneh dan menyedihkan. Lautan dalam yang biru dan pulau hijau yang sentosa, dihiasi limbah tambang, merah dan mengenaskan. Orang-orang tak lagi saling berbagi dengan ikhlas sebagai modal atau hubungan kekeluargaan sebagai syarat. Melainkan semua digantikan dengan uang sebagai modal utama yang ampuh dan kepentingan individu sebagai syarat mutlak. Semua seakan-akan menyembah uang yang minus nilai. Lahan-lahan kebun dan bentang alam yang luas, di mana dahulu begitu akrab dengan kami, telah dijual dengan harga murah, sungai-sungai jernih yang pernah kami mandi, mencuci pakaian, minum dengan bebas dan sukarela, dibiarkan keruh dan terus keruh.

Betapa sekarang, saya tak merasa pulang kampung lagi, saya seperti berada di negeri asing. Wajah kampung telah digilas, diubah jadi wajah yang lain. Padahal kampung adalah tempat kembali, ruang di mana orang merasa benar-benar pulang pada asalnya, menjadi satu dengan semuanya. Teduh, tenang, aman dan damai, adalah hakikat daripada orang-orang yang pulang kampungnya. Tapi sekarang semua hakikat itu entah di mana, entah kemana, semuanya berlari jauh dan jauh sekali dari pikiran manusia dan batin kampung itu sendiri. Saya bernasib seperti dalam puisi Afrizal Malna, saya tak tahu|kemanakah saya akan pulang kampung|kampung ini bukan lagi kampung saya dahulu.

Akhir tulisan ini ingin saya mengumandangkan sebuah puisi sebagai berikut:

Pulang Kampung

Dan kami hampir tak mengenal apa-apa kini

Suara-suara yang menabrak sukma hari ini

Di penuhi muatan basa-basi, dan rasa sakit hati

Sebab kami tak lagi mengenal bahasa

Dan meninggalkan majelis rasa

Hingga robohnya bangunan budaya

 

Beberapa bulan lalu, saya meninggalkan kota

Dengan kokoh niat menuju kampung kita

Pulang kampung adalah perjalanan menempuh makna

Menyapa damai dan bersenggama dengan bahagia

Tapi kawan, kini kita dapat apa dari bahasa itu, “pulang kampung”

Siapa yang akan membimbing kita menuju kampung

Menuju bahasa yang tak biasa, dua kata yang siapapun ia

Pasti mengenalnya, berdamai dengannya…

 

Alam dan manusia, mungkin akan sia-sia

Lihat saja pulau-pulau bersejarah itu

Atau pantai-pantai yang penuh kenangan di situ

Ditebang, digusur, dikeruk, dikotori

Tanpa penghormatan dan kemuliaan

Tanpa belas kasih kemanusiaan

 

Lihat pula seorang ibu tua di bawa terik itu

Menggendong anaknya dan mengais rejeki di tebing-tebing batu

Sedang di samping kiri dan kanan mereka, berdiri rumah-rumah ber-AC

 

Pulang kampung kini bukan  lagi bahasa kita

Kata-kata itu bagai sembilu

Bagai angin lalu

Yang menusuk-nusuk qalbuku

Saya bernasib pilu, berlapis luka, dan dikepung duka

 

Lalayon kini tak lagi mendapakan tempatnya

Kabata kini berlarian entah di mana, entah kemana

Belantara hutan dan gugusan gunung-gunung

Tidak untuk di keruk oleh tangan-tangan serakah

Tidak juga untuk penjilat tahta

 

Kawan, kini saya tak dapat pulang kampung

Sebab Haltim bukan kampung saya dahulu

Perahu Haltim telah ditenggelamkan kedalam lautan modernis

Sepanjang mata dan rasa memandang, hanya pemandangan miris

Bila dahulu modal kampung adalah keikhlasan dan kekeluargaan

Kini dirubah jadi transaksi untung rugi

Dan mengundang petaka

Maka dengan puisi ini saya bersaksi: bahwa sejarah dan budaya

Adalah jati diri ummat manusia, hakekat semesta raya

Bila hilang salah satu, hilang seluruhnya

Sungguh kawan, ini hari saya tak lagi pulang kampung…

 

Apakah dan Siapakah yang mesti di selamatkan?

Kampungkah?

Kotakah?

Manusiakah?

Atau alam?

Terimakasih!

[1] Kuda-kuda adalah alat pemotong rumput-rumput kecil yang biasa dipakai para petani (di kepulauan Maluku) di kebun

Mabapura, Rabu, 07 Mei 2014
–Rachmat Marsaoly