DARI SAINS KE KALDERA SUNDA

Tiba-tiba dering telepon menghentikan percakapan saya bersama Jamal dan Fajri. “Rahmat, kalian sedang apa di situ, buka puasa kalian bagaimana?”, tanya Bang Sal lewat telepon. “Cuma duduk-duduk, Bang. Sambil menunggu buka puasa, tapi kami semua tidak berpuasa. hehee”, jawab saya cepat”. “Bisakah kalian datang ke Darmaga sekarang, ajak semua teman-teman. Di sini ada banyak makanan, ayo kesini kalian makan, kesini naik angkot, turun di terminal Bubulak, kalau sudah sampai di sana baru Abang jemput. Jangan kelamaan ya..”. Bang Sal mengajak penuh harap. Saya, Fajri dan Jamal yang sedang duduk bercerita di sebuah Cafe Kopi di jalan Malabar itu cepat-cepat bergegas keluar cafe menuju rumah belajar SAINS (Sajogyo Institute) untuk menyampaikan pesan dan ajakan Bang Sal kepada teman-teman (Kak Amien, Olhan, dan Musa).

Sesampai di sana, kepada teman-teman kami sampaikan pesan dan ajakan Bang Sal itu. Seperti saat kita bertiga keluar dari cafe, semuanya bergegas cepat merapikan barang-barang untuk dibawa. Ada yang membawa tas berisi buku catatan, buku bacaan dan beberapa bulpoin. Sebagian lain tidak membawa apa-apa. Keluar dari SAINS sekitar pukul 17.00. Kami menuju jalan besar untuk naik bis Trans Pakuan tujuan terminal Bubulak.

Ketika keluar dari pintu pagar Sains, saya sempat menoleh ke belakang. Sains telah sunyi, sudah beberapa lama waktu, Sains memang begitu, sunyi. Sunyi dari dinamika diskusi, sunyi dari keluar-masuk orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Padahal, Sains adalah wadah belajar, berkumpul dan saling mengenal. Tak sekedar mengenal nama dan daerah, tapi juga saling mengenal persoalan sosial masing-masing daerah itu. Tak seperti waktu 2014 yang ramai orang berdatangan ke Sains. Berdiskusi intens, bahkan ada yang nginap, termasuk kami adalah bagian dari itu. Saat itu, beberapa hari saja meninggalkan Sains, rindu ingin balik ke Sains begitu kuatnya. Saya yang berkuliah di Jogja, harus cepat-cepat datang ke Bogor, ke Sains. Rindu terhadap rumah dan lingkungannya yang bersih, hijau, udara yang segar, siang maupun malam, sekalipun berada di tengah kota. Lebih-lebih rindu terhadap suasana belajarnya. Belajar mengenai persoalan diri sendiri, persoalan kampung, dan persoalan lainnya. Di situlah saya dan Bogor, dan Sains menjadi begitu akrab, sehingga saya dan Jogja tak lagi akrab seperti dahulu. Seperti pertamakali datang ke Jogja. Lalu, Jogja dimata saya tak lagi seistimewa seperti pandangan banyak orang. Mungkin karena keistemewaannya telah dilindas banyak bangunan besar yang menjamur, atau roda-roda kendaraan yang makin memacetkan jalanan Jogja itu.

Lalu kali ini, ketika kami diajak Bang Sal sejak hari itu untuk pergi ke Bubulak, dan akhirnya kami menetap di sebuah rumah, sebuah tempat belajar yang jauh dari Sains, perasaan ingin cepat-cepat balik ke Sains tak sekuat dahulu, tak sepenuh dahulu. bahkan tak ada lagi perasaan semacam itu. Persis seperti perasaan saya terhadap Jogja. Mungkin karena suasana berdiskusi Sains tak seperti waktu lalu, alias orang-orang tak lagi berdatangan, mereka yang datang pun tak lagi saling akrab. Dan saya merasakan itu, batin belajar di Sains perlahan berubah total. Atau jangan-jangan, saya menjadi curiga dengan diri saya sendiri, mungkin karena tempat yang satu ini lebih luas lingkungannya, lebih banyak pohonannya, sehingga lebih bebas pula saya menggerakkan tubuh saya, lebih luas memainkan imajinasi saya. Barangkali.

Sesampai di jalan, di sebuah halte bis kami menunggu Trans Pakuan. Sekitar 5-10 menit Trans Pakuan tidak pernah lewat. Jalanan hampir dipenuhi angkot. Akhirnya, sama-sama kami sepakat naik angkot. Jalanan macet, apalagi ketika angkot memasuki terminal Laladon, macet sekali, kendaraan berdesak-desakan, samahalnya para penumpang di dalam angkot. Berdesak-desakan. Klakson mobil dan motor saling beradu di jalanan, udara seperti beku, nafas tersengal-sengal. Saking macetnya, sehingga ada beberapa penumpang yang mungkin mengejar waktu berbuka puasa di rumah bersama keluarga, tak sempat. Waktu berbuka puasa mendapati mereka di jalan, di dalam angkot.

Kehidupan di kota memang penuh dengan kompetisi, manusia dengan manusia berkompetisi, manusia dengan waktu, manusia dengan ruang pun saling berkompetisi. Saling berebut waktu, saling berebut ruang, sehingga waktu dan ruang menjadi begitu sempitnya, tak seperti orang-orang di kampung. Sekalipun konteks hari ini kebanyakan orang kampung telah menjual tanah dan kebunnya beramai-ramai ke perusahan, tapi sebagian lain masih tetap mempertahankan tanah dan kebunnya, Nenekku misalnya, yang sebagai seorang petani, ia dengan kemauan sendiri, dengan leluasa mengatur waktu berkebunnya, waktu di rumahnya, waktu bersama keluarganya dll. “Di kampung orang-orangnya kaya dengan ruang, kaya dengan waktunya”, bisikku pada diri sendiri.

Akhirnya, tidak sampai di terminal Bubulak, angkot bernomor 03 itu menurunkan kami di terminal Laladon. Dengan semangat tinggi, dari Laladon kami jalan kaki sampai Bubulak. Tiba di Bubulak sekitar 19.00 Wib. Kepada Bang Sal saya sms, kita telah tiba di terminal Bubulak. Hampir 20 menit duduk menunggu kedatangan Bang Sal. Sebagian duduk berjejeran di depan salahsatu warung, di sisi kiri pintu masuk-keluar bis Trans Pakuan. Sebagian lain duduk berhadapan bercakap-cakap, tak jelas apa yang dicakapkan. Sebuah mobil avansa menyambar kami. Ternyata itu dia, Bang Sal bersama Mitrard. Kami masuk di dalam mobil. Masih dengan semangat yang sama. Semangat belajar itu. Ketika melihat Mitrardi, dalam hati saya bergumam, “ini seperti anaknya Om Yoyok. Sepertinya sesaat lagi kita akan bertemu dengan Om Yoyok di sebuah tempat entah di mana”.

Tanpa tunggu lama, untuk memastikannya saya langsung bertanya, “Mitrar, apakah Om Yoyok juga ada di Bogor?”. “Iya, ada di sini”, jawab Mitrar, singkat.

Saya dan sebagian teman yang lain, kecuali Kak Amin, dengan Mitrardi belum pernah kami bertemu sebelumnya, tapi sudah pernah mendengar namanya, di sebuah website menulis, Indoprogress pernah memuat salah satu tulisan Mitrardi tentang Finansialisasi Alam. Sedangkan Om Yoyok alias Hendro Sangkoyo adalah bapak dari Mitrardi Sangkoyo. Kami mengenal Om Yoyok dari proses belajar kampung ini. Di kantor SDE-Jakarta dan di Sains, Bogor. Dengan Om Yoyok kita belajar terutama mengenai persoalan ruang hidup orang kampung, tentang krisis sosial-ekologi yang makin massif ini. Tentang hilangnya sumber-sumber hidup utama orang kampung, yakni air, pangan, dan energi. Belajar tentang bagaimana memahami kembali pengetahuan asli orang kampung yang selama ini ditenggelamkan, bahkan dihilangkan samasekali.

Mobil melaju di jalanan, ia melaju menuju sebuah tempat yang agak terpencil di kecamatan Situ Gede, kami tiba di sebuah rumah, halamannya besar sekali. Seluas kurang lebih 12 hektar milik Pak Tomi. Tepat di sisi kiri BMKG, badan mobil berbelok ke kiri, masuk ke sebuah jalan. Disitulah jalan masuk rumah pak Tomi, tak ada pagar yang menutupi jalan. Di mulut jalan, hanya suatu besi besar bulat dan panjang dilingkari kawat duri tergantung melintang di udara. Jalannya menurun dan berkelok, sekitar tiga sampai empat tikungan untuk sampai di rumahnya Pak Tomi. Halaman seluas itu tumbuh di dalamnya berbagai jenis pohon, sekitar puluhan dan mungkin ratusan jenis pohon. Pohon Matoa, cendana, pala, kenari, jati, kelapa, dan sebagainya. Tentang seorang Pak Tomi, sedikit banyak saya tahu dari hasil bacarita dengan Pak Amang beberapa hari lalu. Selain Pak Ai, salah satu orang kepercayaan Pak Tomi yang menjaga tempat ini, juga Pak Amang adalah seorang petani yang dipercayai Pak Tomi untuk ikut menjaga tempat ini. Kata Pak Amang, Pak Tomy itu orangnya penyayang, baik hati dan selalu berbaur dengan rakyat sekitar. Tanah seluas ini, oleh Pak Tomy dibeli kepada beberapa masyarakat Bogor di sini dan juga orang-orang jauh dari luar Bogor, seperti Magelang, dll. dahulu, lanjut Pak Amang, tanah ini adalah lahan sawah, tapi kemudian setelah dibeli oleh Pak Tomy sekitar dua puluh tahun lalu, perlahan sawah-sawah itu berubah berganti berbagai pohonan.

KALDERASUNDA

KALDERASUNDA

Melihat tanah luas Pak Tomy, batin saya tergerak ke kampung, tentang orang-orang di kampung saya yang sejak bercokolnya perusahan nasional maupun multi nasional, yang membawa masuk uang dengan triliunan rupiah itu, orang kampung dibohongi dengan uang, diambil tanahnya, ada yang gratis memberikan tanahnya ke perusahan, maupun ganti rugi lahan dengan harga yang sangat murah, tujuh ribu rupiah per meter.

Orang kampung menggantikan tanahnya dengan uang, sedangkan Pak Tomy menggantikan uangnya dengan tanah.

Ketika mobil berhenti, sebuah rumah dengan model dan gaya arsiteknya yang belum pernah saya lihat sebelumnya, membuat saya sedikit agak kikuk. “Wuih.. rumah siapa ini, besar sekali..”. kami turun dari mobil dan langsung menuju rumah. Beberapa orang di beranda rumah besar itu menyambut kami. Bersalam-salaman sambil memperkenalkan nama. Dan benar dugaan saya, Om Yoyok ada di sini, Mbak Dinar, Bang Sancha, juga di sini. Om Yoyok berdiri di depan pintu rumah lalu bersalaman dengan kami. Tapi ada sebagian orang yang belum kami kenal. Pikirku, mungkin keluarga di dalam rumah besar ini. lalu kami dipersilahkan masuk kedalam rumah. Di atas meja, ada makanan banyak sekali, nasi kuning, nasi putih, daging ayam, kerupuk, ikan nila goreng, tempe goreng, dan makanan lainnya di taruh di atas aya-aya yang dialas dengan daun pisang dengan ukuran mengikuti ukuran aya-aya. Piringnya piring bambu anyam dan diatasnya dialas pakai daun pisang juga. Selama di SAINS, kami belum pernah berhadapan dengan makanan sebanyak ini. di sisi kanan beranda rumah, ada beberapa orang duduk bercerita. Satu-persatu kami salam-salaman dan memperkenalkan nama. Di antara mereka adalah Afrizal Malna dan Pak Hanafi yang saya kenal hanya lewat buku mereka, dan lewat internet. Saat itu, bahkan hingga sekarang saya menyadari bahwa ini pertemuan yang sangat berharga bagi kami, terutama diri saya sendiri. Sebab kami dipertemukan dengan orang-orang baik yang punya banyak pengalaman belajar, yang telah matang dalam proses belajar, dan tentu memiliki keluasan pengetahuan.

Masing-masing mengambil makanana lalu menyantapnya di sisi kiri beranda rumah. Sambil makan, saya memandang sisi kiri kanan rumah ini. Perabotnya seperti kursi, meja, dan arsitek rumah ini, saya merasa seperti berada di zaman kerajaan lalu. Ditambah dengan beberapa pendopo di sekitar rumah besar ini yang juga berornamen dan gaya arsiteknya yang sama. Entahlah, padahal saya sendiri tidak pernah hidup di zaman itu. Tapi sepintas saya merasakannya demikian. Rumah yang hampir delapan puluh persen bahan bangunannya dari kayu dengan ukirannya yang indah. Setelah selesai makan, beberapa menit kemudian kami berkumpul di salah satu pendopo. Pendopo inilah yang kami jadikan sebagai pusat berkumpul untuk kegiatan-kegiatan lainnya.

Sekitar sembilan belas orang kami berkumpul. Bercampur bahagia dan bingung saya bertanya-tanya dalam hati, dalam pertemuan ini apa yang akan dibahas, apakah kita akan menggagas satu program belajar, ataukah ini sekedar pertemuan sementara, seperti apakah nanti dalam pertemuan ini. Pak Afrizal Malna membuka pertemuan itu dengan membagi-bagikan sebuah buku puisinya kepada kami. Dan setelah itu, ia melanjutkan, berbicara mengenai apa maksud kita berkumpul di sini. Lalu satu-persatu mulai bercerita mengenai berbagai hal, tentang kampung, kami termasuk bercerita tentang Halmahera.

Inti dari perkumpulan itu, adalah kita sepakat menjadikan tanah Pak Tomy ini sebagai tempat belajar bersama, berkarya bersama, dengan dinamakan tempat belajar ini sebagai KALDERA SUNDA.

*Tulisan ini masih bersambung ke tulisan saya sebagian yang belum rampung

Diskusi Buku: ‘Menilik Demokrasi’ Buah Pena Pak GWR, Bersama Kawan-kawan Sajogyo Institute

Hujan samar-samar, turun dari dedaunan, udara di Sains dingin. Ber-enam kami masih duduk berembuk di meja SAINS bercerita biasa. Datang lagi dua orang menabrak-menembus hujan. Basah kuyup bersama-sama. Cepat-cepat Olhan dan Fajri mengambil handuk untuk mereka berdua. Kita bersalaman tanpa saling memberitahu nama. Mereka masuk bergabung dengan suasana. Cerita-cerita biasa lagi. Tiba-tiba Bang Acung mau memulai bedah bukunya. Tapi kemudian sama saja. Belum juga mulai. Masing-masing  masih terikat matanya pada layar laptop. Saya dan Olhan lanjut membuat kopi di dapur. Fajri pun demikian halnya, membantu menyiapkan gelas-gelas dan meracik kopi ala SAINS.

Di bawah pepohonan SAINS, hujan sudah reda, hanya rintik yang tersisa menetes dari dedaunan, jatuh dari tangkai demi tangkai hingga menabur di rerumputan dan tanah. Dari pintu pagar SAINS terlihat lagi empat orang, dua cowok dan dua cewek masuk berboncengan sepeda motor. Cepat-cepat mereka menuju tempat berkumpul dengan langkah setengah berlari. Seperti biasa kita bersalaman tanpa kenalan, tanpa tahu nama (tapi akhirnya kita saling kenal nama saat diskusi berlangsung). Jumlah kami bertambah menjadi sebelas orang.

Sebelas orang (sembilan laki-laki dan dua perempuan) Bang Acung, Bang Sul, Bang Teri, Mbak Ussi, Fajri, Olan, Mas Hasan, Saya sendiri (dan yang lainnya saya lupa namanya).

Bang Acung seperti menanyakan temannya, apakah buku ini mau diterapkan di sekolah, tapi kita belum tahu di sekolah manakah? Si teman Bang Acung tak menjawab apa-apa. Hanya diam. Demikian dengan yang lainnya. Masing-masing menunggu kapan waktu bedah bukunya tiba. Seperti tak ada yang mau memulai. Sekitar beberapa menit berlangsung, bahkan mungkin sekitar satu jam tak juga mulai. Bang Acung seperti mengambil bagian untuk memulai bedah buku ini. Semua setuju. Bang Acung langsung menunjuk Fajri sebagai moderator diskusi. Fajri menolak pelan, diserahkan kepada yang lain. Mula-mula Bang Teri yang membuka diskusi, tapi akhirnya Bang Acung yang mengambil alih menjadi moderator. Saya ditunjuk sebagai notulensi diskusi. ‘oke deh saya yang jadi notulen’, jawab saya mengamini tugas sebagai notulen. Sebuah meja di pojok saya pilih sebagai tempat mengikuti diskusi. Diskusi buku Menilik Demokrasi pun berlangsung.

Sebelum masuk lebih dalam isi buku, tanya-jawab mengenai apakah diskusi buku ini akan dimulai dengan harus adanya si penulis buku, atau tanpa si penulis buku pun bisa dimulai saja? salah satu teman dari kami menanggapi: pengalaman saya di Jakarta di Salihara, kalau bedah buku biasanya ada pembahasnya. Si pembahas yang lebih aktif dalam pembedahan buku. Si penulisnya nanti yang terakhir mengkonfirmasi semua setelah akhir pembedahan. Susul yang lain membuka pendapat masing-masing. Ada yang menyarankan agar diskusi dimulai saja tanpa ada penulisnya, dengan alasan karena penulis buku ini (Pak GWR) yang sekarang beliau sudah lanjut usia dan mempunyai keterbatasan mendengar sehingga diskusi tanpa penulisnya pun tak jadi soal.

Akhirnya diskusi pun benar-benar dimulai.

Buku "Menilik Demokrasi" adalah kumpulan makalah Pak GWR yang ditulis pada era Orde Baru.

Buku “Menilik Demokrasi” adalah kumpulan makalah Pak GWR yang ditulis pada era Orde Baru.

Pembahas Buku: Bang Zul

Moderator: Bang Acung

Notulensi: Rahmat Marsaoly

Setelah Bang Teri membuka diskusi dan diserahkan ke Bang Zul sebagai pembahas buku, ia pun memulai memberikan semacam sedikit sinopsis kepada kami: Buku ini penting untuk didiskusikan. Bagaimana melihat kembali demokrasi di Indonesia dalam perspektif Pak Wiradi. Buku ini mulanya adalah makalah Pak GWR yang ditulis pada masa Orde Baru, tapi ia masih punya kaitan dengan konteks sekarang. Sebenarnya pembedah utamanya Bang Eko. Tapi karena saya juga ingin belajar, ya sudah saya ambil bagian ini.

Setelah saya membaca buku ini sepintas, lanjut Bang Zul, buku ini juga penting untuk pelajar, akademisi, aktivis dan para pemuda. Sepintas membacanya, saya mencoba menarik satu pandangan bahwa buku ini sesungguhnya membahas demokrasi, demokrasi dalam konteks Indonesia yang kaitanya dengan Demokrasi Ekonomi Indonesia, lebih spesifik lagi adalah Demokrasi Pedesaan. Seperti ditulis Pak GWR, sesungguhnya kehidupan yang paling demokratis adalah demokrasi di pedesaan. Pak GWR mengurai beberapa model demokrasi: demokrasi liberal, demokrasi kapital dan demokrasi pencasila. Dengan begitu, seperti judulnya, penulis berpendapat perlunya menilik kembali demokrasi Indonesia hari ini.

Pak Wiradi lebih menekankan demokrasi terpimpin daripada demokrasi pancasila a’la Orde Baru. Demokrasi terpimpin Orde Lama itu mencoba melindungi yang lemah dan membatasi orang kuat. Presiden Soekarno mencanangkan demikian sebab ia mencoba membatasi orang kuat yang akan rakus dalam mengambil hak orang lemah dan melindungi orang lemah dari eksploitasi orang kuat itu.

Tapi pada era Orde Baru justru demokrasi banyak digunakan sebagai legitimasi mempertahankan kekuasaan dan mencabut nilai-nilai demokrasi itu sendiri terutama demokrasi pedesaan (lokal).

Dalam Menilik Demokrasi dijelaskan bahwa negara yang berbentuk republik selalu identik dengan demokrasi. Tapi, Pak Wiradi juga bilang, negara dalam sistem kerajaan (feodal) sekalipun menggunakan sistem pemerintahan demokrasi. Nah, Orde Baru dengan menumbuhkan kembali semangat feodalisme yang menggunakan logika kapitalisme dalam berbagai dimensi justru menggunakan legitimasi pancasila sebagai alat melegitimasi kekuasaan. Padahal, pengetahuan dan penerapan demokrasi itu mestinya mensyaratkan kesejahteraan rakyat.

Demokrasi ekonomi yang dibahas dalam buku ini sangat punya kaitan dengan kesejahteraan rakyat. Dalam buku ini demokrasi yang diinginkan Pak Wiradi adalah demokrasi sosial a’la Orde lama. Kaitannya dengan Demokrasi Ekonomi, selalu melakukan perserikatan. Dan perserikatan itu sudah ada di desa-desa. Inilah yang oleh Fanding Fader mencoba menerapkannya sebagai sebuah sistem negara. Terutama Bung Hatta sebagai konseptor ekonomi pedesaan sistem koperasi.

Lagi-lagi Demokrasi Pedesaan: di desa itu ada musyawarah, di dalamnya ada model atau cara masyarakat melakukan protes, menyalurkan saran dll. Di desa-desa ia punya sistem tersendiri dalam mencapai kesejahteraan bersama.

Ketika kita ingin mencoba menarik satu pandangan dalam buku ini bahwa: Demokrasi Sosial dan Demokrasi Pancasila sesungguhnya ada kaitanya sama sekali, sekalipun tidak sama. Tapi intinya ketika demokrasi pancasila dilakukan dengan baik maka bisa juga mencapai kesejahteraan.

Kecenderungan demokrasi di Indonesia sebatas elektorat yang hanya mencoba mereduksi, memposisiskan masyarakat sebagai objek diarahkan hanya untuk memilih. Subjeknya elit politik.

Ending dari epilog buku ini sesungguhnya demokrasi sejati itu tidak menafikan emasipasi sosial dan emansipasi individu.

Demokrasi ala Pak Wiradi, adalah demokrasi yang sudah digali dari nilai-nilai lokal kita. Sebagaimana Presiden Soekarno beserta para pejuang kemerdekaan sudah menggali nilai-nilai dari setiap lokal itu dan menjadikannya sebagai landasan demokrasi Indonesia.

Seorang teman[1]: menarik apa yang disampaikan Bang Zul bahwa subjek demokrasi sesungguhnya bertujuan memanusiakan manusia. Sehingga dengan mengacu kepada realitas demokrasi sekarang ini yang dijalankan dari beberapa pergantian rezim pemerintah dimulai dari Orde Baru sesungguhnya demokrasi copy-paste negara penjajah, atau melanjutkan kembali demokrasi kapitalisme-liberal.

Bang Acung: Demokarsi di satu sisi melindungi dan sisi lain menekan? Demokrasi itu hanya bermanfaat untuk sebagaian orang dan di sisi lain tidak. Sebab demokrasi tidak bebas nilai, ia punya keberpihakan yang jelas.

Kebanyakan orang berfikir demokrasi sangat dekat dengan HAM. Sehingga terkesan problem masyarakat atau negara ini hanyalah—misalnya— problem kesetaraan gender atau kasus TKI/TKW yang mendapat siksaan di negara-negara tetangga. Lalu, masalah-masalah itu tidak lagi dilihat apa dasar masalahnya. Padahal sesungguhnya dasar dari semua persoalan demikian adalah soal sistem negara kita yang selalu mengikuti barat. Salah satunya sistem demokrasi itu sendiri. Saya menangkap bahwa demokrasi itu tidak selalu menjadi ‘suci’ untuk semua orang.

Dulu politik berbasis ideologis. Tapi sekarang justru sebaliknya, politik harus bebas ideologis sehingga ia bebas nilai. Karena bebas nilai-lah sekarang terjadi liberalisasi di semua sektor (liberalisme berkuasa).

Bang Teri: Pak Wiradi menulis di prolog hal. Pertama. Pak GWR seakan membahas mengenai Sosialisme Demokrasi (Sosdem) dan Agak berbeda dengan prolog hal. 9, misalnya, sehingga saya bingung apakah yang dimaksud Pak GWR adalah harus memakai Sosialisme Demokrasi (Sosdem) ataukah Demokrasi Sosialis (Demsos).

Seorang teman: Ketika Pak Wiradi membahas bahwa senantiasa mengutamakan yang lokal. Nah, di sana ada polemik. Di sini muncul pertanyaan bagi saya, yang menjadi polemik di sana itu apa?

Olhan: saya punya suatu pertanyaan mengenai demokrasi Indonesia. Di sana Pak GWR bicara soal demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dan berbagai macam demokrasi lainnya yang tidak jelas. Dan ketika kita sudah tahu bahwa demokrasi kita mestinya begini-begitu, lalu, apa selanjutnya yang akan dilakukan, yang akan kita perbuat. Apakah diskusi selesai dan lantas tidak ada kelanjutan atau selesai begitu saja tanpa ada langkah-langkah konkrit, cukup sebatas wacana dan konsep-konsep, ataukah bagaimana, apa yang diinginkan dari buku ini?

Bang Zul: Demokrasi pedesaan di sini selalu dikaitkan dengan demokrasi ekonomi. Sehingga Pak Wiradi selalu mengutip Bung Hatta. Pak Wiradi bilang, di desa itu sesungguhnya sudah tertanam prinsip-prinsip hidup kebersamaan yang adil. Demokrasi ekonomi itu satu partisipasi bersama, kita menanam bersama dan menikmati bersama.

Bang Acung: Pak Sajogyo pernah mengkritik model koperasi Indonesia yang hadir pada masa ORBA. Sebab pada masa ORBA pemerintah melakukan pemusatan Organisasi. Melarang adanya segala macam organisasi di luar organisasi pemerintah. Entah organisasi petani, organisasi nelayan, dan berbagai organisasi sosial lainnya. Koperasi di masa ORBA adalah bentuk koperasi yang dikawal untuk kepentingan pembangunan akumulasi kapital. Rakyat tak bisa mendapat suatu kesejahteraan dari koperasi.

Bang Zul: kediktatoran yang di maksud Marx adalah proses transisi yang berkaitan dengan kepemilikan alat-alat produksi yang adil. Bung Hatta: koperasi adalah alternatif dalam mengelola produktivitas rakyat. Parahnya sekarang, masyarakat dipaksa berpartisipasi bersama, namun giliran menikmatinya masyarakat tidak mendapati itu. Sekarang saja namanya koperasi, tapi praktiknya korporasi. Misalnya budaya Fanten di Patani bisa saja namanya masih tetap bertahan, tapi praktiknya yang sudah berubah. Isinya kompetisi ekonomi. Bukan kesejahteraan bersama.

Kalau berdasarkan asas kekeluargaan harusnya konsep kekeluargaan itu bermakna luas, tidak hanya kekeluargaan dalam arti sempit seperti satu keluarga dalam rumah. Tapi sekarang kekeluargaan itu disempitkan artinya dan diterjemahkan kedalam ranah kekuasaan. Sehingga kekeluargaan itu adalah kebersamaan dalam segala hal bukan berdasarkan kompetisi. Karena kalau kompetisi pada dasarnya saling menegasikan, membuat orang lain tidak berkembang.

Pada konteks sekarang, ditekankan perempuan harus keluar rumah. Tidak hanya menjadi baby sister. Sebagai contoh, Venezuela mengkritik pemberlakuan perempuan demikian, sehingga perempuan juga yang harus menentukan hasil produksi, maka mestinya ia digaji pula. Kalau di Indonesia, perempuan hanya menjadi domestifikasi. Tugas perempuan di Indonesia hanya menjadi ibu di rumah yang tugasnya menggantikan energi laki-laki yang bekerja untuk lebih baik dan tidak diberikan gaji.

Indonesia kan negara bangsa (nation state), ada bangsa Makassar, bangsa Jawa, Sunda, dll. Nah, di sini, ada semacam kesalahan pada hal penamaan ‘kesatuan’. Sebab, kalau kesatuan berarti memaksakan yang berbeda menjadi satu. Tapi kalau ‘persatuan’ berarti kumpulan dari keragaman bangsa-bangsa.

Fajri: saya belum membaca buku ini, karena itu saya ingin bertanya, karena judulnya ‘Menilik Demokrasi’ maka sebenarnya Demokrasi yang manakah yang akan kita acu? Seperti kata Olhan, lantas bagaimanakah model langkah selanjutnya yang akan kita ambil dalam melihat dan membalikkan segala persoalan yang ada, krisis di kampung-kampung?

Jawab Bang Zul: demokrasi yang dimaksud Pak GWR adalah demokrasi yang tidak menafikan emansipasi sosial, dan tidak menafikan emansipasi individu.

Olhan: saya kira sedari tadi kita terlalu terlena dengan wacana-wacana yang membawa kita justru jauh dari pembahasan kita tentang buku ini. Sekalipun buku ini juga berkaitan dengan rupa-rupa pemikiran dan teori, tapi paling tidak kita tidak terlena dengan sebatas berteori tapi untuk selanjutnya menggagas langkah-langkah konkrit.

Kesimpulan/pertanyaan-pertanyaan penutup:

*Apakah demokrasi cocok untuk Indonesia?

*Olhan: Apakah kita harus melanjutkan demokrasi liberal atau….

*Di buku ini juga bilang, karena kadar demokrasinya dari atas (pemerintah) ke bawah (masyarakat) sehingga apakah kita harus mempertahankannya atau merubah menjadi dari bawah ke atas.

*Apakah konsensus itu dimungkinkan untuk masyarakat kelas?

*Bagaimana melihat Indonesia dalam kontekstual-historis? Karena ada beberapa orang yang hanya terjebak pada kontekstual-historis dan tidak melihat konteks historis hari ini.

*Demokrasi itu punya tiga asas, asa mayoritas, asas hak asasi manusia, asas kebersamaan.

*Bagaimana dengan demokrasi elektorat?

*Bang Acung: Bisa saja demokrasi elektorat diterapkan, tapi bukan hanya melihat dari sisi persamaan suara dalam hal pemilihan umum, misalnya. Tapi demokrasi harus turun lebih jauh, masuk lebih dalam pada hal-hal ekonomi, budaya dll.

*Rahmat: Kami pernah cerita-cerita dengan Om Yoyo di Jakarta: Bahwa demokrasi zaman reformasi itu ternyata hancur-hancuran. Salahsatunya adalah soal semangat desentralisasi. Pemekaran daerah-daerah baru. Waktu itu Om Yoyo dkk tidak setuju dengan itu. Dari namanya saja sudah salah, “otonomi daerah” kesannya membagi-bagi kue kekuasaan kepada sejumlah kepala daerah. Mereka menawarkan satu konsep tandingan yaitu “otonomi kerakyatan”. Suatu konsep yang punya pijakan, yang lebih menjamah hak-hak rakyat.

Bang Acung menambahkan: Iya, betul! Soal desentralisasi itu juga bermasalah karena ujung-ujungnya ternyata kurang ajar semua.

Oke, sekarang kita sudahi dulu. Nanti kita lanjut di tgl 28.

Kita aplos dulu!

Bang Acung menutup diskusi dengan salam…

14 Mei 2015, SAINS, Malabar 22, Bogor

RM

[1] Saya sering lupa nama-nama dari tamu yang ikut diskusi sehingga memakai sebutan ‘seorang teman’.

Acara Pelantikan Teman-teman Halteng—Sebuah Catatan untuk Kita-Generasi

Di Tamansari, tepat di gedung Aula UNISBA, tempat dilaksakannya kegiatan organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Tengah (IPM-HALTENG) yakni Pelantikan Pengurus. Acara dihadiri oleh berbagai Organisasi seperti Himpunan Pelajar Mahasiswa Maluku Utara (HIPMMU), Ikatan Pelajar Mahasiswa Muslim Maluku (IMMM), Ikatan Pelajar Mahsiswa Pulau Buru (IPMPB), dan Ikatan Pelajar Mahsiswa Halmahera Timur (IPMHT). Acara berlangsung tertib, aman tak ada hambatan.

Beberapa lama acara berlangsung, setelah acara Pelantikan Pengurus usai dilanjutkan dengan acara pementasan kebudayaan. Pidato kebudayaan oleh Bang Jamal berakhir, disusul dengan ‘barongge lala’ oleh beberapa teman Halteng. Seperti biasa, ‘barongge lala’ paling sedikit dilakukan empat orang masing-masing berpasangan, dua orang perempuan dan dua laki-laki. Tak perlu saya menjabarkan filosofi tarian Lalayon di sini. Terlalu sedikit ruang menjelaskannya. Ia memerlukan waktu tersendiri dalam mengurainya. Tarian Lala bukanlah satu tarian yang diciptakan manusia kini. Tapi lebih jauh ia merupakan satu tarian kebudayaan (pengetahuan) yang hadir dari hasil interaksi manusia (leluhur) dengan alam. Sehingga untuk memahaminya, ruang tulis ini belumlah cukup. Dengan lain kata narasi tak sanggup menjabarkannya tuntas.

Acara berikutnya tampil beragam kebudayaan Maluku (Maluku secara umum). Mulai dari tarian, hingga musik. Kemudian tampil pula teater dan baca puisi. Puisi dibacakan oleh saya sendiri. Selama acara berlangsung, suasana tepuk sorak penonton tak henti-hentinya meruang dan mengudara. Tapi yang agak berbeda saya rasakan adalah ketika tampil beberapa acara yakni teater dan pembacaan puisi, juga pada awal pembacaan pidato membuat suasana sedikit berbeda. Suasana riang gembira berubah jadi hening, intim, lalu semacam kerinduan diri pada sesuatu hal. Semacam merindukan suatu keadaan di mana sesama manusia saling berbagi pun manusia dengan alam saling isi mengisi.

Semua penonton hampir-hampir lupa menepuk tangan, tak bisa bergerak, tak juga bersorak, hanya jantung dan aliran darah yang berdenyut, dan hati yang merasa intim. Astaga, saya tak bisa menjelaskan suasana itu dengan sempurnah. Jemari tunduk tak sanggup menjelaskan suasana secara utuh dalam narasi. Suasan hanya bisa terjelaskan ketika kita terlibat dan mengalaminya sekaligus.

Suasana berubah oleh karena pidato, teater juga puisi yang menjelaskan tentang kenyataan riil hari ini. Kenyataan kehidupan masyarakat saat ini. Bukan karena pidatonya, teater atau puisinya itu, tapi karena pesan yang disampaikannya memberitahu pada kita bahwa kenyataan kebudayaan sebagai praktik hidup hari ini hampir-hampir hilang sama sekali, hampir tak ada lagi. Alam (tanah-air) sebagai diri kita, ini hari kita sendiri yang menggadaikannya dengan uang. Kita lah yang menjualnya kemana-mana (kepada korporasi atau pengusaha) demi uang—kertas yang minus nilai itu.

Dalam pidato, Bang Jamal mencoba menjelaskan falsafah hidup orang Gamrange[1]: Ngaku Rasai, Budi Bahasa, Sopan re Hormat, Akal re Wlou, dan Mitat re Miymoi yang kurang lebih penjabarannya sebagai berikut: “Ngaku Rasai atau Mengaku bersaudara bermakna manusia dengan manusia mengaku dan berpengakuan untuk bersaudara  sebagai cara menghubungkan dirinya dalam kesatuan masyarakat (social).  Budi re Bahasa atau Budi dan Bahasa berarti tuturan manusia sama dengan nalar kemanusiaan yang terkelola menjadi perilaku dan tata cara hidupnya bersama alam. Mitat re Miymoy atau Takut dan Malu yakni takut dalam merusak atau memporak-porandakan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sebagai satu daur kehidupan, untuk kemudian merasa malu terhadap kerakusan diri yang brutal sehingga malu pula mempraktikkan kerakusan dalam hidup. Olehnya Sopan re Hormat  atau Sopan dan Hormat adalah perilaku manusia yang berke-adab-an dalam menjaga keharmonisan hubungan alam dan manusia. Sehingga mengingatkan pada kita bahwa Otak re Wlow, Otak dan Hati sebagai titik pangkal keseimbangan manusia dalam kosmos akan kehidupan.

Selanjutnya pidato tersebut mencoba menjelaskan dan memberitahu hadirin bahwa dalam konteks kita sekarang ini, falsafah hidup yang sebelumnya adalah ajaran orang Gamrange, tunjuk ajar prilaku orang Halmahera, kini tak bisa dipungkiri telah terlepas jauh dari laku hidup keseharian kita. Falsafah tak lagi punya bobot dalam kehidupan. Ia hanya tinggal dalam konsep yang semu, tak ada pijakan dan tindakan sebagai objek falsafah di alam. Ia sebatas tuturan sekejap, sebatas manis bibir berargumen, sebatas tampilan citra belaka. Bahkan di berbagai kalangan organisasi daerah (Organda) falsafah digunakan, dimengerti hanya sebatas moto yang terpajang di dinding-dinding sekret atau asrama organisasi. Falsafah hidup itu telah kehilangan pijakannya dalam diri pun alam raya.

Seperti pidato, teater dan puisi juga menilik nasib kebudayaan dalam kehidupan kita sekarang ini. Teater dan puisi sama-sama mengkritisi penuh fakta kebudayaan yang di dalamnya berisi ajaran mempertahankan hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan dan hakikat kebudayaan, kini telah hancur berantakan dan putus-terpisah sama sekali.

“Pasir putih di tanjung membawa keberkahan dan keindahan alam, jejeran pulau dan gunung yang menyimpan kekayaan, sejarah dan ajaran para leluhur, kini berubah jadi kemurkaan dan kerusakan.” Begitulah tertulis dalam naskah teater yang dimainkan malam itu.

Bahwa kekayaan dan keindahan alam (kampung) dahulu begitu menyilaukan dan memberi karunia bagi orang kampung, sekarang justru mengundang kemelaratan dan membawa petaka bagi orang kampung sendiri. Bagaimana tidak, hampir semua tempat dan ruang hidup (tanah dan wilayah kelola rakyat) telah dikuasai oleh berbagai perusahan raksasa dengan konsesi-konsesinya.

Tak hanya di Gamrange (Maba-Patani-Weda), hampir seluruh tubuh Halmahera bahkan provinsi Maluku Utara dan berbagai provinsi lainnya di Republik ini dengan mengatasnamakan pembangunan semua wilayah-wilayah kelola rakyat dirubah menjadi ruang-ruang industri. Industri ekstraktif seperti pertambangan maupun industri perkebunan skala luas seperti sawit dsb. Atas nama program pembangunan yang dicanangkan pemerintah, semua wilayah kelola rakyat berubah menjadi lumbung bercokolnya berbagai korporasi asing, nasional maupun swasta, yang justru menciptakan ketergantungan ekonomi uang dan budaya praktisisme, konsumerisme, dan akhirnya menghadirkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan lebih mendasar adalah kerusakan bentang-layanan-alam (ruang-hidup).

Tak bisa disangkal, apapun yang mengenai persoalan sosial dan ekologi (selanjutnya ditulis: sosial-ekologi) hari ini kita mesti jeli dalam melihatnya. Segala persoalan ini hari bisa dikatakan ia punya tendensi dan persoalan yang berlipat-lipat. Bagaimana tidak, kolonialisme itu sekarang masih berlangsung dalam wajah dan mekanismenya yang berbeda.[2]

Berbagai kasus yang muncul dari tempat beroperasinya perusahan tak sedikit yang mengundang konflik antara perusahan dengan warga, bahkan antara perusahan dengan perusahan. Tumpang-tindih klaim lahan bermunculan antara pemilik modal dengan rakyat, antara pemerintah dengan masyarakat adat. Tumpukan kasus itu sendiri tak pernah dimuat di dalam media-media, malah ditutup-tutupi.

Di Halmahera Utara misalnya, di sana beroperasinya Perusahan asal Australia sejak tahun 1998. Tepat pada tahun 2004 masyarakat adat Kao dan Malifut telah menyadari bahaya yang mengancam eksistensinya, mereka melakukan aksi protes terhadap perusahan yang telah mengambil dan merusak kawasan hutan dan lahan mereka. Aksi pendudukan di kawasan hutan lindung Toguraci adalah salah saatu bentuk perlawanan. Masyarakat dari Desa Eti dan Dumdum Pantai, dari dua kecamatan yang berbatasan dengan lokasi tambang PT. NHM terlibat dalam aksi itu. Mereka menuntut PT Nusantara Halmahera Mineral (NHM) segera meninggalkan lokasi dan merehabilitasi kawasan hutan lindung yang telah dieksploitasi tambang. Mereka juga menuntut PT NHM mengembalikan sebagian laba yang telah diperoleh kepada masyarakat. Sebab selama 10 minggu beroperasi di Toguraci, PT. NHM telah meraih laba Rp 40 miliar lebih. Sementara saat beroperasi di Gosowong dari 1998-2002 meraih laba Rp 600 miliar. Namun, aksi damai masyarakat tersebut dihadapi dengan tindakan represif oleh aparat keamanan yang didatangkan PT. NHM ke lokasi. Pasukan ini memerintahkan masyarakat untuk meninggalkan lokasi tersebut, yang kemudian ditolak oleh masyarakat. Penolakan tersebut malah dijawab oleh tembakan. Akibatnya, seorang warga bernama Rusli Tungkapi tertembak dibagian kepala sehingga meninggal di tempat. Kasus kekerasan tersebut saat ini masih dalam tahap penyilidikan KOMNAS HAM, dan belum ada hasil akhir dari penyelidikan tersebut. [3]

Terjadi pula pencemaran air sungai dan air laut di Teluk Kao, hingga kehidupan masyarakat adat Hoana Pagu dan masyarakat lokal sekitar tambang terancam. Sekitar 29.622 ribu hektar konsesi NHM wilayah adat Suku Pagu. Dalam penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2010, menemukan masalah serius terkait keberlanjutan ekosistem di Teluk Kao. Dari penelitian itu, beragam ikan yang hidup di sana sudah tercemar, antara lain mercuri dan sianida. Berdasarkan keterangan warga dan dokumentasi oleh AMAN, pada 2010, 2011, dan 2012, pipa limbah (tailing) milik perusahaan jebol dan limbah mengalir ke Sungai Kobok dan Ake Tabobo serta beberapa anak sungai yang bermuara ke Teluk Kao. Sejak pipa jebol, masyarakat mulai ketakutan mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao. Mereka takut menggunakan air sungai, dan mulai kesulitan mencari udang, kerang dan ikan di air sungai itu. Padahal, sebelum perusahan tambang datang, ikan dan sejenisnya mudah diperoleh. Hasil perkebunan mereka seperti kelapa dan tamanan bulanan lain di sekitar Sungai Kobok tak produktif lagi. Mereka juga mengalami krisis air bersih hingga setiap bepergian ke kebun harus membawa air dari kampung. Warga beberapa desa yang mengalami krisis air bersih seperti Desa Balisosang, Bukit Tinggi, Dusun Beringin dan Kobok. Mereka harus membeli air gelong seharga Rp15.000 per gelong.[4]

Limbah Pt. NHM yang mengalir ke sungai Kobok

Limbah Pt. NHM yang mengalir ke sungai Kobok. Foto: AMAN

Seperti halnya Halmahera Utara, di Gebe-Halmahera Tengah pun terjadi penembakan oleh pihak keamanan perusahan (militer) terhadap salah seorang warga Gebe yang melakukan aksi protes terhadap Pt. Aneka Tambang (Antam) pada 2010; kriminalisasi terhadap 10 warga Weda-Halmahera Tengah saat menentang PHK sepihak Pt. WBN (2011); intimidasi serta penciptaan ruang konflik antar warga (pro-kontra) di Wasile-Halmahera Timur dan Patani-Halmahera Tengah oleh korporasi sawit pada 2014. Belum juga kasus-kasus mengenai kerusakan layanan alam beserta konflik sosial setiap kampung di Halmahera Timur.

Hampir semua media dari skala nasional hingga daerah tak ada satupun yang memuat kasus-kasus tersebut untuk dipublikasikan. Apalagi kasus-kasus yang berhubungan dengan perusahan dan pemerintah. Di saat yang sama isi dari berbagai berita yang dimuat media justru menyebarkan citra para politisi, para elit daerah bahkan keberhasilan perusahan dalam daerah, yang sesungguhnya adalah kebohongan dan dalam rangka menutupi kasus lainnya. Semua tak ada hubungannya dengan realitas objektif keadaan masyarakat. Semua pintu media ditutup rapat untuk kasus-kasus diatas.

Dengan fenomena seperti ini kita hendaknya bertanya, mengapa demikian? Bagaimanakah kita sebagai generasi atau mahasiswa/i yang ‘katanya’ menempuh pendidikan di luar kampung halaman melihat fenomena kampung yang fakta konkretnya sudah seperti ini. Bahwa, para elit daerah yang memimpin masyarakat kita hari ini dan membiarkan keadaan kampung terus diombang-ambingkan masalah demi masalah, adalah mereka yang juga kemarin pernah bersekolah atau menempuh pendidikan seperti halnya kita. Lantas kita bertanya kembali, pendidikan semacam apa untuk bisa kita percayai dalam mengurus hal-hal seperti ini. Maka, sebagai generasi yang ‘katanya’ berpendidikan sekaligus bagian dari masyarakat kampung, apa tugas kita, apa yang mesti kita lakukan? Toh, banyak mahasiswa/i yang sudah menyelesaikan sarjananya di kota lalu pulang ke kampung halaman justru melanjutkan kebohongan; membuat proposal fiktif, melakukan acara-acara seminar yang berakhir di depan pintu gedung, menjadi tim sukses salah satu caleg, melobi proyek-proyek di pemerintah dan perusahan untuk sekedar mengambil uangnya, atau malah menjadi bagian dari pengerukan sumber-sumber hidup rakyat. Bukan membuat regu-regu belajar kritis di masing-masing kampung untuk mendapatkan satu moda pengetahuan tandingan, gerakan tandingan, bahkan ekonomi tandingan (selain ekonomi keruk yang merusak alam) untuk tujuan pembalikan krisis di kampung dan penghancuran ruang-hidup rakyat.

Dari berbagai problem kampung dan rupa-rupa pertanyaan di atas membawa saya pada satu kesimpulan bahwa, keadaan kerusakan atau krisis sosial-ekologi di kampung halaman hari ini sesungguhnya telah di atur secara terstruktur dan sistematis sedemikian rupa oleh sebuah sistem melalui negara sebagai domainnya untuk mengejar keuntungan sebesar mungkin. Sebuah sistem yang merampas sumber-sumber penghidupan rakyat untuk menghasilkan komoditas-komoditas global. Sehingga perlunya dan memang menjadi sebuah kewajiban kita sebagai generasi melihat dengan lebih teliti dan belajar dengan lebih sungguh-sungguh duduk perkara suatu sistem yang serakah yakni kapitalisme sebagai suatu sistem produksi khusus[5].

Dengan adanya berbagai organisasi daerah kita bisa pula menjadikannya sebagai ruang bersama dalam proses belajar memahami persoalan kampung halaman. Jika tidak, berbagai organisasi ini justru menjadi ‘ring tinju’[6] atau arena perkelahian antar-sesama kita dalam mengejar sesuatu yang tak nyata. Dengan demikian justru kita lah yang menjadi penyambung kerusakan di kampung halaman masing-masing.

Mari! Bersama-sama pada hari ini mulai berani berbicara mengenai kerusakan kampung halaman (krisis-sosial-ekologi) dengan senantiasa konsisten terhadapnya. Sehingga kita tahu ‘bagaimana sesungguhnya menyikapi kesemua ini’ di kampung agar kebudayaan dan ajaran hidup orang kampung bisa hadir dan dipertahankan kembali.

Semoga!

[1] Gamrange berarti Tiga Negeri yakni Maba, Patani dan Weda yang punya sejarah panjang kebudayaan di Nusantara.

[2] Rujukan buku Assesment: Tenurial Orang Halmahera Timur dan Tanahnya, karya Surya Saluang dkk, sedikit mengulas mengapa kolonialisme masih bertahan.

[3] http://jopi1903.blogspot.com/2007/02/, diakses pada tgl 20 Maret 2014

[4] http://www.mongabay.co.id/2013/12/10/ diunggah pada tgl 01 Januari 2014

[5] Istilah kapitalisme sebagai suatu sistem khusus, diambil dari tulisan “Ketika Tanah Air Indonesia Porak-poranda; Di Sana Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku”, Noer Fauzi Rachman

[6] Istilah organisasi sebagai ring tinju diperkenalkan oleh Surya Saluang

*Bandung-05 Mei 2015
Rachmat Marsaoly

Jogja, Bandung, Sajogyo Institute dan Saya

Jumat 22 November 2013, saya, Fajri dan Bang Jai menyatukan harapan, mengatur langkah bersama ke Bogor bermaksud menimba ilmu di sana, di Sajogyo Institute. Nama ini mulanya saya dengar dari Bang Said Marsaoly. Ia menyarankan masuk sekolah itu. Sekolah ini memfokuskan diri pada reforma agraria juga sehaga ihwal yang bersangkutan dengan itu. Ekologi, antropologi, sosiologi pedesaan dll.

Bertiga dari Jogja, kami naik kereta kelas ekonomi. Sebelum ke Bogor, kami mampir sebentar di Bandung, bermaksud mengajak teman-teman Halmahera Timur (Haltim) belajar bersama di Bogor.

Pagi itu, Sabtu 23 November 2013 kami tiba di Bandung langsung menuju Asrama Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur Bandung (IPM-HT). Di situ, kami ngobrol dengan teman-teman Haltim. Obrolan seputar problem yang telah merenggut habis nafas Halmahera Timur. Obroloan kurang lebih tiga jam itu kami lanjutkan di hari berikutnya. Teman-teman Haltim di Bandung juga sama merisaukan Haltim.

Saat diskusi mulai mereda, kami menyampaikan informasi, mempromosikan sekolah agraria Sajogyo Institute. “Di Bogor,” begitu kataku, ada sekolah agraria yang akan dibuka bulan Januari oleh Lembaga Sajogyo Institute. Di Sajogyo, tak hanya agraria yagn dipelajari tapi juga segala yang menyangkut problem kemanusiaan. Terutama kapitalisme kontemporer yang bernafas panjang itu dan selalu mempercepat krisis di mana-mana. Namun teman-teman belum ada kesempatan bergabung. Alasanya, sibuk di kampus, organisasi dll.

25 November 2013. Dari Bandung kami lanjut ke Bogor—tujuan utama kami. Perjalanan ke Bogor itu jiwa dan pikiran saya dibanyangi krisis sosial dan ekologi di Haltim. Krisis di Haltim bahkan Indonesia kini adalah persoalan utama dan yang paling subtil. Aku bertanya banyak kepada Abang Ichan dan Bang Ukhi yang bersama kami ke Bogor saat itu. Ragam perspektif, model analisis, kami bicarakan. Akhirnya, Bang Ichan berencana buat Silatnas (Silaturrahmi Nasional) di Bandung. Yang bermaksud membicarakan problem Haltim. Kapan waktunya, nanti dibicarakan lagi

Tiba di Bogor, kami langsung ke Asrama IPM-HT Bogor. Ngobrol dengan dengan teman-teman di asrama. Tanggapan juga risau kami sama.  Mekipun yang lain ‘belum terlalu risau’. Selain di Asrama, IPM-HT Bogor, kami juga mendatangi beberapa kost teman-teman Haltim untuk berbagi risau tentang problem Haltim saat ini. Tak hanya itu, di jalanan, orang piggiran dan papah, kami selalu membuka obrolan, bertanya tentang nasib, dan hidup mereka sehari-hari. Juga tentang pandangan mereka perhatian pemerintah dll. Ternyata semua yang kita temui mengeluh sikap pemerintah terhadap nasib mereka.

Vibrasi Sajogyo Institute

28 November 2013. Sekitar pukul 19.00 WIB saya dan Fajri menyempatkan ngopi di salah satu cafe, tiba-tiba dering Hp di atas meja mengiring percakapan kami. Bang Ilham mengajak kami pergi ke Sajogyo Institute bertemu teman-teman di sana. Penuh semangat, saya dan Fajri meninggalkan cafe. Naik bus kota kami mencari alamat Sojogyo Istitute. Tepat di belakang Rumah Sakit PMI Bogor kami turun. Karena berjauhan jalan raya, kami minta Bang Ilham menjemput kami di jalan. Tapi yang datang adalah Bang Risman. Risman adalah Kepala Sekolah Sajogyo Institute. Diam-diam membuat batin saya menderu kencang: kok, di zaman ini semua orang berebut nama, identitas, akriditas dan popularitas, ternyata masih ada seorang kepala sekolah menyempatkan dirinya menjemput orang yang sama sekali belum ia kenali. Kami dituntun menuju Sajogyo Institute.

Kami masuk lewat pintu utama. Aku dikejutkan oleh sebuah foto, seorang lelaki tua. Saya Tanya Bang Risman, “Abang ini foto siapa?” “Foto  Prof. Sajogyo.” Katanya. Foto itu terpampang di sebelah kiri dinding rumah. Entah kenapa, melihat foto itu batin saya tenang, sejuk dan berseri penuh semangat. Tentang Prof. Sajogyo dan kehidupannya belum banyak saya tahu. Sedikit, saya tahu, Sajogyo manusia yang berpenampilan sederhana dari sisi luar hingga dalam, dari raga hingga batin jiwanya. Ia termasuk salah satu Rektor ke 2 di Institute Pertanian Bogor (IPB).

Pudjiwati dan Prof. Sajogyo

Ibu Pudjiwati dan Prof. Sajogyo: pasangan suami isteri yang dengan keras berjuang untuk orang-orang kecil yang dimarjinalkan negara. Selamat Jalan Pak Sajogyo, selamat jalan Ibu Pudji, setiap amal perbuatan diterima Tuhan yang Maha Kasih. Amiin!

Ternyata tempat yang saat itu saya masuk adalah rumah dinas Sajogyo yang diwariskan oleh pihak kampus kepada beliau. Menjelang akhir hayatnya, ia berwasiat kepada teman-temannya agar menjadikan rumah ini sebagai wadah belajar bagi generasi dan seluruh manusia dari suku dan ras mana pun yang ingin mempelajari problem keindonesiaan dan kemanusiaan sesuai dengan metode dan pelajaran yang berlaku.

Ada juga wasiat Sajogyo, jangan pernah berhenti belajar sekalipun kita tak memiliki banyak uang. Sebab, uang itu tak utama dalam proses belajar dan mecari ilmu. Kurang lebih begitu yang saya ketahui pribadi Sajogyo dan selebihnya, silahkan baca buku biografi beliau.

Setelah itu masuk ke tempat pertemuan, ternyata Bang Ilham dan beberapa teman Haltim sudah lebih dulu di sana. Kami dihormati, dilayani dengan baik. Dengan ramah dan penuh kasih mempersilahkan duduk dan minum kopi yang telah di sajikan. Bersalaman dan saling berkenalan. Wajah mereka penuh semangat yang berkobar, setiap senyum yang keluar memancarkan kasih-sayang, kata dan bahasa terurai mengandung muatan arti yang tak terkira.

Untuk yang kesekian kalinya saya dikejutkan lagi oleh segala sikap dan cara mereka melayani kami yang penuh hormat dan kasih sayang itu. Saya bergumam, belum pernah melihat sekolah manapun yang memperlakukan orang-orang yang belum mereka kenal dengan penuh keramahan dan kesopanan seperti teman-teman Sajogyo Istitute melakukan pada kami malam itu.

Kami yang berjumlah delapan orang langsung mencicipi hidangan yang telah mereka suguhkan. Setiap hal menyangkut krisis sosial ekologi yang mereka utarakan selalu mengandung kejutan untuk kami. Sebab, analisis-analisis mereka yang cemerlang dan tajam itu, juga pengalaman-pengalaman mereka yang menggetarkan dan mengejutkan. Yang lebih mengejutkan juga menyedihkan saya: mereka lebih mengetahui seluk-beluk problem di Haltim—tempat kami lahir dan dibesarkan. Mereka lebih memahami konteks Haltim yang sesungguhnya. Inilah yang membuat saya setiap kali tertegun sekaligus sedih pada diri sendiri, pada generasi Haltim kita saat ini. Yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan lurang kesana-kemari tanpa tujuan jelas. Meski begitu, kami harus coba berbagi pengetahuan.

Tentang Sajogyo Institute menurut saya adalah salah satu ruang belajar dan proses yang baik buat generasi yang hidup dalam zaman krisis ekologi dan sosial ini. Sebab, di sana berbagai macam cabang ilmu dibahas. Dari ruang-ruang konseptual hingga konteksnya, abstrak hingga fakta, dari ruang formal hingga informal. Terutama sekali tentang kemasyhuran sistem kapitalisme di mata negara bangsa dan dunia. Yang sudah sekian lama menjajah bangsa kita.

Malam mulai pergi dan pagi serasa menghampiri. Kelelawar pulang di peristrahatan dan beberapa burung pagi mulai bersahutan di pohonan. Adzan subuh menutupi percakapan kami, diskusi kami pending hingga besok, kita pamitan pulang sekalipun rasa kantuk masih belum juga datang. Di tengah perjalanan pulang jiwa kami memancarkan semangat yang berseri-seri, tekad kami semakin bulat, semangat kami terikat erat pada perjuangan mempelajari dan memahami betul sistem yang mengganggu kesejahteraan sosial dan kebahagiaan rakyat.

Ya, Sajogyo Institute telah membuat saya bergetar dan berbinar penuh kagum dan sanjung.

Itu saja watau!

Bogor, 23 November 2013

Rachmat Marsaoly

Anik Renungan’i

Ketika penampilan ragawi luput dari tatapan mata, lalu kemudian kita memasuki relung-relung hati, maka segala yang bersifat ragawi menjadi di lupakan. Begitu tulis Rabindranath Tagore dalam Bimala1. Selanjutnya, yang nampak hanya sesuatu yang sederhana, halus seperti sutra dan lebih halus lagi, indah bagai pelangi dan lebih indah dari itu, membuat takjub dan takjub lagi, kemudian segalanya menjadi istimewa. Terkadang ‘sesuatu’ itu suka menyelinap: di balik imaji, di atas akal dan di dalam hati bahkan lebih dalam lagi. Ialah nurani. Dialah yang tersimpan jauh kedalam sekaligus diatas yang paling tinggi.

Pengabdian, terkadang diartikan sebagai pengorbanan. Entah pengorbanan yang dalam arti material atau inmaterial, bekerja atau berdoa, entah meminta atau memberi. Adalah penyerahan diri. Menyerahkan diri dalam bentuk materi maupun inmateri. Lebih halus dan lebih tulus. Seperti Al-Khalilullah (Ibrahim As) mempersembahkan atau memberikan Ismail As putranya kepada Al-Haq. Ibrahim As mempersembahkan putra terkasihnya dalam bentuk kurban sebagai jasad: materi. Dan dengan sepenuh ikhlas diri Ibrahim berserah pada perintah-Nya: Inmaterial. Adalah pengabdian Ibrahim dan Ismail kepada Al-haq. Inilah penyerahan total.

Atau “pengabdian bagi seorang perempuan adalah kecantikan dalam bentuk bathiniahnya,” tulis Tagore dalam Bimala. Persis yang di maksud Mahatma Gandhi, “kecantikan adalah wujud kesempurnaan jiwa, bukanlah fisik”.

Manusia tanpa mampuh mengabdi dengan penyerahan total (materi dan inmateri), mungkin saja manusia akan terjebak dalam hutan imajinasi yang membingungkan. Adalah lebih baik berjalan terus dengan spasi dan pasti, dengan rapih, agar dapat menyantap nikmatnya ‘sesuatu’ yang berada di balik imaji, diatas akal, dan di dalam hati. Dia yang halus, indah membuat takjub, yang rendah sekaligus paling tertinggi. Yang menjadikan segalanya indah sedemikian rupa. ‘Sesuatu’ yang membuat Al-khalil dan putra terkasihnya rela berkorban dan dikorban. Adalah hakikat suci dan sejati.

Filosofis

Dalam raga ada hati, dalam hati ada ruang kosong. Suatu ruang yang tak terusik. Dialah nurani itu, kecerahan itu, kejernihan sungai batin yang mengalir segar, dialah matahati. Dalam sajaknya Ws Rendra, “Nurani tak pernah habis ditebang dan tak pernah hangus dibakar, ia tetap kokoh berdiri.” “Dialah penguasa satu-satunya, dialah suara kecil hening di dalam hati”, tutur Gandhi. Atau berkata Imam Ja’far Ash-shadiq, “Dialah yang tersembunyi dalam penampakannya dan yang nampak dalam ketersembunyiannya. Barangkali!

RM, Jogja 14052012