Wajah Filsafat dalam Dunia Kampus

Dalam disiplin ilmu pengetahuan betapa kerap kita dengar bahwa filsafat adalah suatu induk atau sumber ilmu dari ragam disiplin ilmu pengetahuan. Filsafatlah fondasi utama segala cabang ilmu pengetahuan lainnya. Entah dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Sosiologi, Politik dll, atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA): Biologi, Fisiologi, Botani, Zoologi dll adalah semuanya bersumber dari filsafat itu sendiri. Sebab, filsafat adalah suatu disiplin ilmu yang subject matternya adalah metafisika yang berpijak pada pikiran (rasio) manusia sehingga ia merupakan sumber dari segala cabang ilmu pengetahuan. Segala IPTEK yang ada di dunia ini tidak bisa tidak pada dasarnya harus bersandar pada hukum-hukum akal dan pikiran manusia (Filsafat). Sebab pengetahuan itu sendiri bukanlah hal-hal yang tampak secara indrawi (materi) namun ia adalah niscaya (badihi) berkaitan dengan non-indarwi (akal)—dengan tidak bermaksud menafikan hal indrawi. Oleh karena itu sifat pengetahuan itu tidaklah terbatas, karena ia berpijak pada akal (rasio) manusia.

Ketika bahasan kita adalah filsafat maka sesungguhnya kita sedang membicarakan tentang eksistensi dan esensi Tuhan, manusia dan ala. Sebab fokus utama filsafat pada dasarnya adalah ketiga hal tersebut, karena masing-masing mempunyai relasi yang tak dapat diputuskan antara satu dengan yang lainnya. Seperti kita  mafhum bahwa bersamaan dengan kemunculan filsafat itu manusia mulai mengkaji, menganalisis, merenungi untuk mengetahui hakikat dari ketiga hal tersebut (Tuhan, alam, dan manusia). Dari sini pula filsafat melahirkan berbagai tokoh filsuf yang sangat terkenal hingga kini dengan ketajaman pemikiran dan intuisi.

Pada dunia akademisi dewasa ini khususnya dalam dunia kampus, dapat dengan jelas bahwa metode pengajaran filsafat para dosen filsafat yang hanya bersifat historiografi filsafat semata, seperti mengetahui sejarah para filsuf Yunani seperti Socrates, Descartes, Platon, Aristoteles dan lain-lain. Amat jarang bahkan tidak sama sekali kita dapati suatu metodik yang mempelajari alur pemikiran para tokoh secara sistematis dan kritis untuk menggali makna filsafat  lebih dalam lagi, tetapi malah sebaliknya. Sehingga jati diri filsafat menjadi terasing dalam metode pembelajarannya. Filsafat hanya dapat diterima secara instan dan tekstual oleh para mahasiswa-mahasiswi. Tepat di situlah filsafat terjadi pergeseran identitas dan makna. Filsafat tidak menjadi suatu ilmu yang di poles dengan perenungan (tafakkur) untuk meningkatkan potensi pikir bagi setiap orang dan khusunya para mahasiswa-mahasiswi. Filsafat yang pada dasarnya adalah suatu disiplin ilmu yang sangat metafisika (non indrawi) menjadi seakan-akan adalah sebuah disiplin ilmu yang hanya menyentuh hal-hal fisika (indrawi) semata. Padahal tujuan mempelajari filsafat adalah untuk  menggali dan mengetahui hakikat kehidupan itu dan untuk menciptakan manusia yang mampuh mencintai kebijaksanaan. Filsafat, ketika ditinjau secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophi yang berarti kebijaksanaan. Ketika filsafat hanya menjadi suatu ilmu yang hanya menyentuh hal-hal yang yang bersifat historiografi semata, maka sangatlah muskil filsafat dapat melahirkan sosok manusia yang mencintai kebijaksanaan.

Wajah filsafat dalam dunia kampus menjadi buram makna dan terasing dengan dirinya sendiri. Karena filsafat Seakan-akan dijadikan ilmu sejarah yang mempelajari historiografi para tokoh pula  autobiografi para tokoh secara empiris komparatif. Yang menjadi pertanyaan terbesar dalam tulisan saya ini adalah apakah para pengajar filsafat (Dosen) di kampus kurang mampuh menelaah atau mengkaji ilmu filsafat sebagaimana filsafat itu sendiri? Ataukah kurikulum pendidikan dan Menteri Pendidikan di negara ini membatasi ilmu filsafat hanya sebagai sebuah ilmu yang membahas tentang kesejarahan filsafat semata? Inilah yang menjadi problematik atas kekeliruan pengajar filsafat kita yang hanya membatasi filsafat dalam tinjauan historis.

Maka bagi saya ketika kita, khususnya para mahasiswa-mahasiswi atau para pecinta filsafat hanya menjadikan filsafat sebatas formalitas semata maka, jangan berharap makna filsafat itu yakni “mencintai kebijaksanaan atau hikmah” dapat dipetik pula terpatri dalam jiwa kita masing-masing. Bukan hanya itu, bahkan filsafat yang hanya membatasi diri pada teori semata tidak akan dapat mampuh menggapai nilainya. Karena tujuan filsafat adalah menjadikan manusia mencintai kebijaksanaan, olehnya itu filsafat sebagaimana filsafat (ontologi) haruslah bergandengan dengan filsafat sebagai sebuah teori (epistemologi), dan filsafat sebagai teori harus diaplikasikan dalam filsafat sebagai sebuah tindakan (aksiologi). Inilah filsafat yang selalu diajarkan oleh para tokoh-tokoh filsafat (filsuf) terdahulu kita. Yakni filsafat ontologi berlandaskan dirinya pada hakikat filsafat yaitu metafisika, dan filsafat epistemologi yang berlandaskan dirinya pada teori tentang metafisika dan filsafat aksiologi tentang tindakan yang tak terlepas dari metafisika itu sendiri yaitu yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan akhlak kemanusiaan. Khususnya para filsuf Islam mengatakan bahwa yang di maksud dengan metafisika itu ialah hakikat realitas semesta yakni Tuhan.

Sebab Kedangkalan Makna Filsafat

Makna filsafat menjadi terasing dan sangat dangkal di kalangan akademisi dewasa ini disebabkan karena kurangnya sensitifitas olah pikir dan rasa yang dalam dan tajam terhadap filsafat oleh para pengajar filsafat yang dalam hal ini adalah para dosen-dosen pengajar filsafat, yang hanya melihat filsafat sebatas suatu ruang sejarah masalalu yang melintas di masa sekarang dan kemudian diteliti secara empiric. Seperti contohnya para pengajar filsafat yang hanya menggelitik sejarah para tokoh atau sisa-sisa bangunan zaman Yunani kuno atau Persia (sekarang Iran). Sehingga filsafat semacam ini menciptakan manusia dan khususnya mahasiswa-mahasiswi yang berpikiran (pengetahuan) tekstual (naqliah), dan menciptakan kesan bahwa filsafat bukan lagi suatu ruang eksistensi yang berpijak pada intelek dan intuisi manusia yang tanpa batas akhirnya.

Ironisnya lagi, para pengajar filsafat membatasi bahkan melarang setiap mahasiswa yang ketika memunculkan berbagai pertanyaan yang syarat akan nilai-nilai filosofis seperti, “apakah hakikat dunia ini ?” atau “apakah eksistensi dunia ini sama dengan eksistensi akhirat ?”. Fenomena seperti ini yang semakin membuat makna filsafat menjadi dangkal dan sangat terbatas. Padahal ketika kita mengkaji makna filsafat itu lebih dalam lagi maka sesungguhnya filsafat adalah suatu jalan manusia yang di dalamnya dihiasi oleh berbagai macam obor  hikmah yang indah tanpa batas akhirnya. Ia merupakan suatu keindahan dan keunggulan derajat dalam diri manusia yang diberikan Tuhan kepada kita jika dipergunakannya sebaik mungkin.

Ke-tidakterbatas-an dan Substansi Filsafat

Filsafat merupakan anugerah, atau hikmah yang ada di dalam diri manusia. Olehnya itu subjek filsafat merupakan sesuatu hal yang bersifat metafisik dan bukan fisik. Ia (filsafat) adalah suatu kekuatan manusia yang tidak ada pada selainnya. Suatu kekuatan yang dapat menciptakan berbagai hal dan mengetahui berbagai hal. Inilah anugerah terindah dari Tuhan.

Kita sama tahu, seorang Socrates yang menyebut dirinya adalah orang yang mencintai kebijaksanaan (phylo sophi) adalah awal munculnya nama filsafat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa sebelum adanya Socrates filsafat belumlah ada. Padahal tidak, filsafat telah ada bersamaan dengan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini. Filsafat yang ada di zaman Socrates adalah filsafat yang telah ada di zaman Adam. Perbedaanya hanyalah pada sisi atribut(nama). seperti di dalam terminologi Yunani philo shopy yang berarti cinta kebijaksanaan, sedangkan dalam terminologi Arab adalah Faslafah yang berarti hikmah. Sedangkan pada sisi pemaknaannya hanyalah satu, hikmah.

Filsafat pada dasarnya bukanlah suatu ruang  sejarah atau pemikiran sekelompok manusia di masa lalu dan kemudian dipelajari di masa sekarang. Tetapi lebih dari itu filsafat merupakan suatu hikmah terbesar yang berada di dalam diri seluruh manusia yang oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib di sebutkan  bahwa ia adalah semesta yang tak terbatas. Karena filsafat merupakan induk segala ilmu maka filsafat mulai mengkaji untuk mengetahui hakikat dari segala realitas yang ada di jagad raya ini, dari alam makrokosmos (alam semesta) hingga pada alam mikrokosmos (diri manusia), dari alam lahiriah hingga pada alam bathiniah, yang nampak secara indrawi hingga yang tersembunyi di dalam rohani. Inilah filsafat sebagaimana filsafat yang mengolah dua dimensi manusia yaitu pikiran dan perasaan, materi dan non materi untuk memaknai segalanya dan mengetahui hakikatnya.

Maka sangatlah muskil filsafat menjadi terbatas karena mengkaji hal-hal yang behubungan dengan hakikat realitas. Seperti yang telah dijelaskan semula bahwa khususnya para filsuf muslim menyebutkan bahwa hakikat realitas semesta itu adalah Tuhan. Sebab hakikat itu adalah kemendasaran segala wujud atau sebab efisien alam ini, maka tak lain ia adalah Tuhan itu sendiri. Namun di sini bukanlah ruang untuk membahas atau mengkaji bagaimana penjelasan bahwa apakah hakikat itu adalah Tuhan.

Jelaslah bahwa karena filsafat mengkaji sesuatu yang tak terbatas atau pengetahuan tentang Tuhan maka diri filsafat itu juga tidaklah pernah terbatas, dan karena pijakan filsafat itu adalah pikiran (rasio) manusia maka pikiran manusia harus dipoles dengan perenungan (tafakkur) agar ia menjadi lebih indah dan baik. Sebab kalau tidak maka filsafat hanyalah sebuah permainan akal yang tak beraturan dan spekulasi yang mengacaukan. Sehingga manusia bisa terjerumus di dalam jurang kesia-siaan dan kemalangan. Seperti sebuah syair indah dari Persia, Maulawi Jalaluddin Rumi:

“Engkau adalah pikiranmu kawan, selebihnya adalah tulang-tulang dan serat-serat. Jika kau berpikir tentang mawar-mawar, engkau pun sehamparan kebun mawar. Tetapi jika kau berpkir tentang dedurian, engkaulah bahan bakar bagi tungku itu”. (Buku Eskatologi Mulla Shadra: Perjalanan Menuju Akhirat. hal;xviii)

Betapa indah syair Rumi di atas. Ia ingin menunjukkan bahwa substansi manusia itu tidak lain adalah pikirannya. Selainnya hanyalah tulang belulang dan sebongkah daging. Dialah (pikiran) yang membedakan antara manusia dengan binatang, antara manusia dengan makhluk lainnya. Atau seperti kata seorang filsuf besar Aristoteles yang mengatakan manusia adalah hewan yang berpikir. Ketika kita hanya memandang manusia sebagai yang berdimensi fisikal semata  seperti telinga, mata, tangan, kaki, dll tidaklah berbeda dengan seekor binatang yang juga memiliki tangan, kaki, mata dll. Tetapi maksud Sang Filsuf di atas bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah pikirannya. Sebab hewan tidak memiliki pikiran, ia hanya bertindak sesuai dengan kemauan instingnya tanpa proses berpikir (kategorisasi, persepsi) tanpa melawan atau pun menolak.

Seperti Rumi di atas, ketika pikiran dipakai untuk memikirkan hal-hal yang baik dan indah maka kebaikan dan keindahan itu pula yang akan kembali menghiasi ruang diri kita bahkan menerpa di sekeliling kita. Tetapi ketika pikiran dipakai memikirkan hal-hal buruk semata maka tentu keburukan pula yang akan kembali masuk menjelma dan menyakiti diri kita sendiri.

Demikian substansi dan tujuan filsafat adalah menggapai hikmah tertinggi(Al-hikmah Al-muta’alliyah) kehidupan ini dengan mengetahui hakikatnya dan menjadikan manusia yang baik dan beradab sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terpatri.

Akhirnya, semoga wajah filsafat dalam dunia kampus menjadi cerah dengan cahaya kebijaksanaan yang menyinari, dengan sebuah metode pengajian yang kritis terhadap filsafat. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa  untuk mendapatkan cahaya kebijaksanaannya manusia haruslah mengidentikkan dirinya dengan perenungan (tafakkur) tentang hakikat  realitas yang di luar maupun di dalam diri masing-masing. Sehingga segala tindakan dan laku hidup dapat beriringan dengan moral dan akhlak kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai  ilahiah.

Semoga!

*Oleh: R. Marsaoly

Tuhan dan Manusia Modern

Dalam Tapak Sabda Fauz Noor menulis ‘’ Dalam kehidupan manusia, jauh di kedalam hatinya ada bahasa tersembunyi yang hanya dirinya saja yang mengetahuinya’’. Sudah tentunya Fauz Noor ingin memberikan satu pemahaman kepada kita bahwa sekalipun manusia dalam berkelimangan harta benda apalagi dalam keterpurukan, semua manusia berjalan dengan satu bahasa dirinya yang bersifat subjektif dan universal. Subjektif karena hanya dirinya yang mengetahui dan universal karena ia berada pada semua manusia. Inilah bahasa fitrah manusia yang senantiasa membimbing dan menjaga diri kita dari situasi dan kondisi apa pun. Seorang Filsuf sekaligus tokoh revolusi India Mahatma Ghandi menyebutnya ‘’ suara kecil hening di dalam hati’’. Begitu pula Hafiz menyebutnya “ suara kemenangan dari sebuah jiwa yang terjaga”. Dialah fitrah, nurani manusia.

Semua manusia di dalam bahasa teologi adalah wakil Tuhan. Ia adalah khalifah fil ard yang di utus. Olehnya itu sudah sepatutnya kita menyadari kehadiran kita di sini mempunyai suatu sebab dan tujuan yang jelas, bukan suatu kebetulan yang tanpa tujuan—penciptaan. Manusia kata Imam ‘Ali As adalah semesta yang tak terbatas. Inilah mengapa Qur’an menyebutnya pemimpin alam semesta. Lalu pertanyaan yang mesti dijawab, apakah semua manusia sudah menyadari hal tersebut? Apakah manusia telah mampu menemukan hakikat manusia itu sendiri?

Sedikit kita menolehkan pandangan kedalam realitas modern, fakta mengatakan banyak dari manusia yang lebih mementingkan dan mengutamakan kepentingan duniawi ketimbang memaknai hakikat hidup itu sendiri. Manusia senantiasa lebih mengutamakan hal-hal yang berada di luar dirinya—dengan tidak mengatakan menafikannya—dari pada yang berada di dalam dirinya sendiri. Manusia sibuk dengan dunia luaranya, manusia gembira dan menangis karena kejadian yang diluar, dan menjadi lupa sama sekali dan tak sadar akan satu dunia yang berada di dalam dirinya sendiri. Menjadi seakan-akan segala yang di luar itu adalah jati diri yang sesungguhnya. Sebagai contoh; seseorang yang memiliki mobil mewah ia terus menjaga dan melindungi mobil itu semaksimal mungkin dari segala yang dapat merusaknya. Alih-alih ketika semua yang ditakutkan itu jadi kenyataan (mobilnya rusak atau hilang dicuri) orang ini seakan-akan kehilangan daya cerianya seperti dirinya tidak lagi berharga.

Ironisnya lagi kejadian semacam ini ada yang sampai melakukan tindakan bunuh diri karena ketidaksanggupanya menahan beban kekecewaan terhadap sesuatu yang dijunjung tinggi nilainya melebihi nilai dirinya sendiri. Namun, di sini bukan berarti kita menafikan segala yang diluar diri kita, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita harus lebih melihat kesejatian diri kita yang sesungguhnya. Karena kesejatian diri tidak selamanya yang berada di luarnya, tapi juga yang berada di dalamnya. Logisnya adalah bagaimana mungkin kita menemukan makna kesejatian sesuatu itu di luar sesuatu (kesejatian diri di luar diri?)

Galibnya kita di zaman dewasa ini ada yang hanya mengisi kekosongan perutnya dan saling mengisi waktu dengan perebutan kekuasaan. Didukung dengan sistem sosial yang tak berpihak pada perikemanusiaan. Negara yang tak pernah mendengar jerit pahit kaum jelata di jalanan. Dan pemerintah yang hanya mengisi kantong-kantong mereka. Semuanya telah merasuk jauh kedalam batin kapitalisme dan imperialisme. Ketika segalanya menjadi seperti ini, maka di manakah makna kesejatian manusia itu, di manakah letak perbedaan manusia dengan binatang? Manusia modern tidak lagi menyadari tentang suatu hal yang paling penting dan substansial dari semuanya di dalam kehidupan ini. Sehingga banyak yang lupa akan suatu kuasa yang lebih tinggi dari kuasa manusia. Inilah kelalaian manusia dalam mengahadapi arus dunia yang ada pada dirinya sendiri maupun di luar dirinya. Manusia kini tak lagi punya pegangan (landasan iman) yang kokoh, penyembahan kepada-Nya hanya berisi doa-doa ngemis, ketundukan pada-Nya malah membuat perilaku hidup makin angkuh dan brutal (ekstrimisme).

Tuhan dalam manusia modern banyak yang mengenalnya sebagai sesuatu yang fiktif, dan tanmakna. Ada pula yang hanya mengenal-Nya sebatas konsepsi belaka. Lebih tragis lagi, Tuhan dianggap sesuatu yang berada di langit, atau berjarak dengannya. Tuhan semacam ini adalah Tuhan yang terbatas karena ke-takbermakna-anya dan hanya berada pada tataran konsepsional. Sayangnya lagi berbagai penafsiran tentang Tuhan telah disempitkan dalam sebuah penafsiran yang dangkal. Diskursus tentang Tuhan telah marak terjadi dari semula manusia hadir di muka bumi ini, Tuhan mulai diperbincangkan­­, dari disiplin ilmu yang bersifat aqliah hingga naqliah. Dari perenungan individu hingga pada kajian-kajian umum. Mengkaji tentang makrokosmos hingga mikrokosmos demi mengetahui relasi manusia dengan Tuhan juga hakikat Tuhan itu sendiri. Ketika Tuhan dikenal hanya sebagai yang fiktif dan tanmakna atau Tuhan sebagai sebuah konsepsi belaka, maka kebenaran tentang adanya Tuhan yang Maha dekat dan Maha meliputi, yang berkedudukan dalam diri seperti yang telah banyak dibicarakan dalam teks-teks Qur’an dan Hadits pun tidak lagi dihiraukan. Akhirnya Tuhan mengalami keterasingan dalam jiwa manusia atau Tuhan yang jauh dalam keyakinan manusia. Inilah Tuhan manusia modern. Tentunya yang dimaksud manusia modern di sini adalah manusia yang ditimpa keglamouran atau terbawa arus duniawi dan yang terpenjara oleh pengetahuanya sendiri. Kendati demikian, seperti kata Fauz Noor, manusia tetap terusik oleh bahasa dirinya atau fitrahnya. Sebab fitrah manusia tidak pernah hilang atau musnah, pula tidak pernah di kotori atau di lumuri oleh kotoran apapun. Ia adalah bawaan alami dan sesuatu yang melekat kuat dalam diri manusia. Dialah fitrah yang diciptakan Tuhan menurut fitrahnya. Karena itu dalam puisinya Rendra mengatakan; Fitrah manusia tidak pernah hangus dibakar oleh maksiat, sekalipun ditebang putus di batang, fitrah manusia tetap bersemi.

Terakhir dari tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan M.Said Marsaoly dalam pendahuluan jurnal Mulla Shadra; Tuhan sering dipahami sebagai sesuatu yang asing, jauh, abstrak, dan enigmatic. Tuhan dalam arti ini sering pula tidak luput dari tafsiran-tafsiran mental konsepsional yang akhirnya menelurkan slogan’mencari Tuhan’. Ia dipahami sebagai sesuatu yang lain, berjarak dengan kita, dan berada pada tempat tertentu.

Jogja , 19 Juni 2012

RM