Pintas Sejarah

Setiap orang dengan kampung halamannya pasti mempunyai sebuah hubungan khusus yang tak pernah ia dapati dan jumpai selain daripada kampungnya sendiri. Kampung halaman seolah menjadi sahabat akrab sekaligus ‘orang tua’ kehidupan yang mengajarkan kita tentang semesta raya dan memperkenalkan kita dengan segala sisi keindahannya. Segala yang menyangkut dengan kampung halaman adalah juga semua yang berhubungan dengan diri kita sendiri.

Dalam tulisan singkat ini, ingin saya berbagi cerita dan pengalaman tentang masa di mana saya dan kehidupan kampungku tempoe doeloe hingga pada kehidupan hari ini.

Haltim Masa Kecilku

Masih tersimpan baik dalam tabung ingatan tentang kehidupan yang bersahaja dahulu. Ketika fajar membuka mata di jalanan orang-orang mulai sibuk dalam rutinitas kesehariannya. Ada yang berangkat ke kebunan sebagai petani dan mancing di laut sebagai nelayan. Ada yang berstatus petani ada pula berstatuskan nelayan. Bersama teman-teman adalah anak pribumi yang ikut meramaikan suasana kala itu. Kami, khususnya anak-anak ketika terbit fajar semuanya bersiap berangkat sekolah. Karena praktis di desaku waktu itu orang tua kita adalah petani dan nelayan, maka setiap sebelum berangkat sekolah sarapan pisang goreng dan ubi goreng, terkadang ikan dan sagu kadang juga nasi menjadi santapan nikmat. Semuanya telah disajikan Ibu sebelum bersama bapak berangkat ke kebun. Memang, jarang sekali kala itu saya mengkonsumsi nasi. Yang lebih dinomorsatukan adalah pisang goreng dan ubi goreng. Itu makanan kesukaan saya. Dengan buku yang hanya dijinjing tangan sebelah kanan, dan kaki yang amat jarang memakai sepatu penuh semangat dan riang melangkah ke sekolah.

Pulang sekolah beramai-ramai kami mengatur jadwal bermain; pergi ke hutan menangkap burung bersenjatakan katapel, pergi ke laut menangkap ikan dengan pancing dan panah, dan permainan lainnya seperti boi[1], ada yang sehabis pulang sekolah langsung pergi menyusul orang tuanya di kebun. Ada pula yang mengikuti pengajian rutin setap hari di salah satu guru mengaji (ustadz) di desa kami. Bila matahari mulai condong ke barat dan hari mulai gelap, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Karena desa saya 100% beragama muslim maka ketika tiba waktu maghrib, dari anak-anak sekolah hingga pemuda dan orangtua, semuannya memenuhi jalanan menuju masjid. Hampir di setiap hari suasana desa terlihat akrab dan bersahaja, ramah dan nyaman.

Dan sewaktu-waktu ketika datang liburan sekolah, lebih banyak waktu kami habiskan liburan di laut dengan mengikuti penangkapan ikan bersama nelayan yang memakai bagam, menurut kami berlibur dengan bagam di laut rasanya asik sekali: makan ikan yang banyak, memancing dengan sepuasnya, mampir di beberapa pulau di depan kampung, dan setelah itu semua ikan kita bawa pulang ke kampung. Asiknya bukan karena kita akan mendapatkan uang yang banyak, tapi karena kita telah dijemput oleh ibu dan bapak, keluarga juga orang-orang kampung yang akan melihat ikan yang banyak hasil pancingan kami semalam di laut. Tak ada sistem jual beli kala itu, “silahkan semua ikan di pilih sesukannya, di bawa pulang ke rumah masing-masing, kecuali ikan teri”, begitu aturan yang disepakati bersama. Karena ikan teri nantinya dijemur kemudian dijual di Halmahera Utara, Tobelo. Hanya ikan teri yang dijual untuk kebutuhan uang. Satu hal lagi yang membuat saya bangga menjadi seorang pelaut adalah karena kampung saya Mabapura dikenal dengan lumbung ikan, terutama ikan teri itu.

IMG_20141018_025238

Mancing ikan di laut

Saya juga masih ingat, kala itu para orang tua mengajarkan kita falsafah hidup Masyarakat Haltim: Ngaku Se Rasai, Budi Re Bahasa, Sopan Re Hormat, akal re wlou, fartelem re faparacaya, faisayang re fagogoru. Keenam falsafah ini telah mengakar kuat dalam relung masyarakat Haltim kala itu. Sebuah falsafah yang digagas dan diletakkan oleh para leluhur Haltim hakikatnya satu: menjaga keseimbangan hidup.

Ngaku se rasai yang berarti saling menjaga dan menjunjung ikatan perasaan antarsesama, Budi re bahasa adalah menjaga akhlak dan budi serta bahasa kita, Sopan re hormat adalah menjaga sopan santun dan saling menghormati, Akal re wlou adalah menyatukan pemikiran(akal) dan perasaan(hati) serta Faisayang re fagogoru yang berarti saling menyayangi dan selalu bersama-sama. Dengan falsafah hidup seperti inilah kami masyarakat haltim kala itu saling hidup bersama, tak kenal untung atau rugi, tak kenal kawan atau lawan, kami semuanya hidup sesuai kesanggupan dan kemampuan masing-masing, kami hidup atas dasar konsep kekeluargaan, bahwa siapapun dia adalah keluarga kami. Kebersamaan itu terlihat jelas ketika datang musim panen, para petani dengan ikhlas membagi-bagikan hasil panennya kepada keluarga dan tetangga, atau para nelayan membagi-bagi hasil pancingannya kepada para tetangga dan sebagian penduduk desa. Kebudayaan ini berjalan hinggga puluhan tahun. Dari moyang kami hingga masa kami saat itu.

Dan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, masih ada mata pelajaran bahasa daerah. Seperti pelajaran muatan lokal yang di dalamnya mempelajari bahasa daerah, tarian daerah dan bentuk kearifan lokal lainnya. Bahkan dalam dunia pendidikan, para guru dan murid saling membantu, menghormati dan menghargai sesama.

Kami juga tak pernah mengenal dunia media massa kecuali radio. Seperti televisi, koran handphone, gadgate dan sejenisnya tak pernah kami ketahui. Namun, pada tahun 1999 televisi mulai kami kenal, dan hampir di setiap malam, dari anak-anak hingga orang tua berkumpul ramai di rumah yang ber-TV. Awalnya, di kampung saya, TV hanya berada di satu rumah yaitu rumah salah satu keluarga pendatang dari Sulawesi. Barangkali TV itu dibawa dari Sulawesi atau entah darimana. Perlahan dunia TV mulai dikenal masyarakat luas dan hasrat untuk membeli TV semakin tinggi. Sejak itulah kesan dan kesadaran, bila di sebuah rumah belum punya TV maka ia dikatakan masyarakat tertinggal, orang yang kurang mampuh dan ragam bahasa lainnya yang mengandung ketersinggungan. Kesan itu saya dan keluargapun merasakannya sendiri. Akhirnya masyarakat satu demi satu mengejar uang untuk membeli TV agar bahasa sindiran ‘tak mampuh dan ketinggalan’ tak disandanginya. Karena dunia modernisme semakin meluas, kearifan hidup perlahan mulai terancam.

Haltim 2001 Hingga Sekarang

Pada tahun 1999 Masyarakat haltim mulai disuguhkan alam pikir kemoderenan. Apalagi pada tahun 2001 Pemerintah Daerah (PEMDA) mengizinkan beberapa perusahan swasta maupun yang berpayung BUMN masuk mengeksplorasi dan kemudian mengeksploitasi wilayah kami. Dan ini adalah langkah awal energi dan budaya haltim mulai diproduksi, di marginalisasi, dijual-belikan jadi barang dagangan. Kehidupan rakyat yang awalnya bertani dan nelayan, kini mulai dirubah oleh mereka: melamar di perusahan dan kemudian menjadi buruh kasar di perusahan. Setibanya perusahan di daerah kami, nelayan dan petani hampir seluruhnya meninggalkan pekerjaan dan tempat pecarian nafkahnya dahulu dan memilih bekerja di perusahan.

Satu persatu bagam-bagam[2] mulai hilang karena tak lagi ada yang mau perduli, kebun-kebun nyaris tak diperhatikan lagi. Apalagi dengan bertambah luasnya wilayah Kawasan Perusahan membuat para petani menjual semua lahan perkebunan dengan uang yang tak menjanjikan keselamatan masadepannya apalagi anak cucu. Bukan hanya daratan yang menjadi kawasan perusahan, laut juga di pagari perusahan sehingga hak atas laut setiap masyarakat nelayan menjadi terputus. Akhirnya untuk makan ikan dan lauk saja masyarakat harus membelinya di pasar Buli dan Subaim. Keadaan mulai terbalik drastis dari yang ‘apa adanya’ menuju ‘tak ada apa-apa’. Perusahan lebih memperluas konsesi pertambangannya, dan rakyat juga semakin antusias menjual lahan-lahanya. Bahkan ada yang sampai bepergian jauh dengan jalan kaki berkelompok puluhan kilo meter mendaki beberapa gunung di belakang desa untuk membuat kavelingan (kaplengan). Kemudian semua daratan pegunungan yang telah dikapling oleh mereka mengklaim sebagai tanah individu-individu atau milik kelompok tertentu saja. Selanjutnya, tanah atau wilayah kapling itu dipersiapkan untuk  pembebasan lahan oleh perusahan ketika akan memperluas wilayah Kuasa Pertambangannya (KP). Kebiasaan mengkapling ini terus merasuk dalam pikiran dan sadar masyarakat. Banyak pula kasus-kasus yang terjadi seperti perkelahian antara masyarakat satu dengan yang lain oleh karena perebutan atas wilayah kapling itu. Tanah yang dahulu milik bersama telah berubah jadi milik individu dan kelompok. Tanah yang dahulu dipandang sebagai alas hidup bersama kini menjadi alat mencari keuntungan sendiri-sendiri. Tanah yang dahulu dijunjung tinggi keberadaannya kini hanyalah sebatas barang dagangan yang murah.

Kerusuhan dan pertempuran sosial itu tak pernah dievaluasi oleh pemerintah daerah sendiri. Perebutan ruang hidup dan kerusakan alam yang berjalan massif tak pernah dijadikan agenda utama pemerintah untuk menghentikannya. Bahkan banyak data dari hasil penelitian tertentu menjelaskan bahwa justru yang menggerakkan dan menjadikan fenomena sosial demikian adalah Pemerintah yang berkongsi dengan pemodal (perusahan). Ini sebuah ironi yang terang, yang perlu ditindaki, dperingati. Sebuah kebohongan publik yang berhasil di desain oleh para penguasa negeri dan orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Hingga pada Tahun 2003 Haltim resmi dimekarkan menjadi kabupaten baru. Dahulu Haltim adalah wilayah Halmahera Tengah (Halteng). Namun setelah diresmikan menjadi satu kabupaten baru, Haltim memisahkan diri secara struktur kepemerintahan (administratif) dengan Halteng. Dan di situ pulalah kepentingan para penguasa semakin memuncak, perizinan perusahan tambang semakin banyak, eksplorasi dan eksploitasi semakin meluas di mana-mana, pertambangan semakin mengancam keaslian wajah pertiwi Haltim. Dan masyarakat semakin kehilangan ruang hidupnya, terutama di bidang pekerjaan primer (petani dan nelayan). Semuanya semakin bergantung pada perusahan: pembangunan jalan, sekolah, dan pelabuhan. Semuanya (program Pemda) itu terutama sekali diserahkan kepada perusahan Pt.Antam Tbk untuk menjalankan roda pembangunan di Haltim. Hampir di segala program Pemerintah Daerah (Pemda) diserahkan kepada Pt.Antam. Dari pendidikan, pembangunan dan bahkan kebudayaan semuanya diserahkan kepada perusahan. Akhirnya, masyarakat hingga Pemerintah Daerah 99% sekarang telah bergantung pada Pt.Antam.

Pesisir Haltim tercemar limba Perusahan tambang (Pt. Antam tbk). Pohon bakau sebagai rumah bagi ikan untuk bereproduksi terganggu, dan ikan mulai berkurang.

Pesisir Haltim tercemar limbah Perusahan tambang (Pt. Antam tbk). Pohon bakau sebagai rumah bagi ikan untuk bereproduksi terganggu, dan ikan mulai berkurang. Nelayan setengah mati.

Entah, ini adalah sebuah kemajuan atau kemunduran, kami tak tahu. Namun jelas terang fakta mengatakan bahwa keadaan masyarakat Haltim hari ini dan bahkan mungkin di masa yang akan datang telah memarjinalkan masyarakat pribumi itu sendiri. Mengalienasikan segala ruang hidup masyarakat dari alamnya. Dan kemudian hanya mampuh menjadi budak dan budak para pemodal di negeri sendiri.

Jogja, 14 Maret 2013
Rachmat Marsaoly

[1] Boi adalah salah satu permainan yang di mainkan berkelompok dengan menggunakan tempurung kelapa yang disusun dan bola

[2] Bagam: seperti perahu besar dipakai untuk menangkap ikan di laut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s