Jogja, Bandung, Sajogyo Institute dan Saya

Jumat 22 November 2013, saya, Fajri dan Bang Jai menyatukan harapan, mengatur langkah bersama ke Bogor bermaksud menimba ilmu di sana, di Sajogyo Institute. Nama ini mulanya saya dengar dari Bang Said Marsaoly. Ia menyarankan masuk sekolah itu. Sekolah ini memfokuskan diri pada reforma agraria juga sehaga ihwal yang bersangkutan dengan itu. Ekologi, antropologi, sosiologi pedesaan dll.

Bertiga dari Jogja, kami naik kereta kelas ekonomi. Sebelum ke Bogor, kami mampir sebentar di Bandung, bermaksud mengajak teman-teman Halmahera Timur (Haltim) belajar bersama di Bogor.

Pagi itu, Sabtu 23 November 2013 kami tiba di Bandung langsung menuju Asrama Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur Bandung (IPM-HT). Di situ, kami ngobrol dengan teman-teman Haltim. Obrolan seputar problem yang telah merenggut habis nafas Halmahera Timur. Obroloan kurang lebih tiga jam itu kami lanjutkan di hari berikutnya. Teman-teman Haltim di Bandung juga sama merisaukan Haltim.

Saat diskusi mulai mereda, kami menyampaikan informasi, mempromosikan sekolah agraria Sajogyo Institute. “Di Bogor,” begitu kataku, ada sekolah agraria yang akan dibuka bulan Januari oleh Lembaga Sajogyo Institute. Di Sajogyo, tak hanya agraria yagn dipelajari tapi juga segala yang menyangkut problem kemanusiaan. Terutama kapitalisme kontemporer yang bernafas panjang itu dan selalu mempercepat krisis di mana-mana. Namun teman-teman belum ada kesempatan bergabung. Alasanya, sibuk di kampus, organisasi dll.

25 November 2013. Dari Bandung kami lanjut ke Bogor—tujuan utama kami. Perjalanan ke Bogor itu jiwa dan pikiran saya dibanyangi krisis sosial dan ekologi di Haltim. Krisis di Haltim bahkan Indonesia kini adalah persoalan utama dan yang paling subtil. Aku bertanya banyak kepada Abang Ichan dan Bang Ukhi yang bersama kami ke Bogor saat itu. Ragam perspektif, model analisis, kami bicarakan. Akhirnya, Bang Ichan berencana buat Silatnas (Silaturrahmi Nasional) di Bandung. Yang bermaksud membicarakan problem Haltim. Kapan waktunya, nanti dibicarakan lagi

Tiba di Bogor, kami langsung ke Asrama IPM-HT Bogor. Ngobrol dengan dengan teman-teman di asrama. Tanggapan juga risau kami sama.  Mekipun yang lain ‘belum terlalu risau’. Selain di Asrama, IPM-HT Bogor, kami juga mendatangi beberapa kost teman-teman Haltim untuk berbagi risau tentang problem Haltim saat ini. Tak hanya itu, di jalanan, orang piggiran dan papah, kami selalu membuka obrolan, bertanya tentang nasib, dan hidup mereka sehari-hari. Juga tentang pandangan mereka perhatian pemerintah dll. Ternyata semua yang kita temui mengeluh sikap pemerintah terhadap nasib mereka.

Vibrasi Sajogyo Institute

28 November 2013. Sekitar pukul 19.00 WIB saya dan Fajri menyempatkan ngopi di salah satu cafe, tiba-tiba dering Hp di atas meja mengiring percakapan kami. Bang Ilham mengajak kami pergi ke Sajogyo Institute bertemu teman-teman di sana. Penuh semangat, saya dan Fajri meninggalkan cafe. Naik bus kota kami mencari alamat Sojogyo Istitute. Tepat di belakang Rumah Sakit PMI Bogor kami turun. Karena berjauhan jalan raya, kami minta Bang Ilham menjemput kami di jalan. Tapi yang datang adalah Bang Risman. Risman adalah Kepala Sekolah Sajogyo Institute. Diam-diam membuat batin saya menderu kencang: kok, di zaman ini semua orang berebut nama, identitas, akriditas dan popularitas, ternyata masih ada seorang kepala sekolah menyempatkan dirinya menjemput orang yang sama sekali belum ia kenali. Kami dituntun menuju Sajogyo Institute.

Kami masuk lewat pintu utama. Aku dikejutkan oleh sebuah foto, seorang lelaki tua. Saya Tanya Bang Risman, “Abang ini foto siapa?” “Foto  Prof. Sajogyo.” Katanya. Foto itu terpampang di sebelah kiri dinding rumah. Entah kenapa, melihat foto itu batin saya tenang, sejuk dan berseri penuh semangat. Tentang Prof. Sajogyo dan kehidupannya belum banyak saya tahu. Sedikit, saya tahu, Sajogyo manusia yang berpenampilan sederhana dari sisi luar hingga dalam, dari raga hingga batin jiwanya. Ia termasuk salah satu Rektor ke 2 di Institute Pertanian Bogor (IPB).

Pudjiwati dan Prof. Sajogyo

Ibu Pudjiwati dan Prof. Sajogyo: pasangan suami isteri yang dengan keras berjuang untuk orang-orang kecil yang dimarjinalkan negara. Selamat Jalan Pak Sajogyo, selamat jalan Ibu Pudji, setiap amal perbuatan diterima Tuhan yang Maha Kasih. Amiin!

Ternyata tempat yang saat itu saya masuk adalah rumah dinas Sajogyo yang diwariskan oleh pihak kampus kepada beliau. Menjelang akhir hayatnya, ia berwasiat kepada teman-temannya agar menjadikan rumah ini sebagai wadah belajar bagi generasi dan seluruh manusia dari suku dan ras mana pun yang ingin mempelajari problem keindonesiaan dan kemanusiaan sesuai dengan metode dan pelajaran yang berlaku.

Ada juga wasiat Sajogyo, jangan pernah berhenti belajar sekalipun kita tak memiliki banyak uang. Sebab, uang itu tak utama dalam proses belajar dan mecari ilmu. Kurang lebih begitu yang saya ketahui pribadi Sajogyo dan selebihnya, silahkan baca buku biografi beliau.

Setelah itu masuk ke tempat pertemuan, ternyata Bang Ilham dan beberapa teman Haltim sudah lebih dulu di sana. Kami dihormati, dilayani dengan baik. Dengan ramah dan penuh kasih mempersilahkan duduk dan minum kopi yang telah di sajikan. Bersalaman dan saling berkenalan. Wajah mereka penuh semangat yang berkobar, setiap senyum yang keluar memancarkan kasih-sayang, kata dan bahasa terurai mengandung muatan arti yang tak terkira.

Untuk yang kesekian kalinya saya dikejutkan lagi oleh segala sikap dan cara mereka melayani kami yang penuh hormat dan kasih sayang itu. Saya bergumam, belum pernah melihat sekolah manapun yang memperlakukan orang-orang yang belum mereka kenal dengan penuh keramahan dan kesopanan seperti teman-teman Sajogyo Istitute melakukan pada kami malam itu.

Kami yang berjumlah delapan orang langsung mencicipi hidangan yang telah mereka suguhkan. Setiap hal menyangkut krisis sosial ekologi yang mereka utarakan selalu mengandung kejutan untuk kami. Sebab, analisis-analisis mereka yang cemerlang dan tajam itu, juga pengalaman-pengalaman mereka yang menggetarkan dan mengejutkan. Yang lebih mengejutkan juga menyedihkan saya: mereka lebih mengetahui seluk-beluk problem di Haltim—tempat kami lahir dan dibesarkan. Mereka lebih memahami konteks Haltim yang sesungguhnya. Inilah yang membuat saya setiap kali tertegun sekaligus sedih pada diri sendiri, pada generasi Haltim kita saat ini. Yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan lurang kesana-kemari tanpa tujuan jelas. Meski begitu, kami harus coba berbagi pengetahuan.

Tentang Sajogyo Institute menurut saya adalah salah satu ruang belajar dan proses yang baik buat generasi yang hidup dalam zaman krisis ekologi dan sosial ini. Sebab, di sana berbagai macam cabang ilmu dibahas. Dari ruang-ruang konseptual hingga konteksnya, abstrak hingga fakta, dari ruang formal hingga informal. Terutama sekali tentang kemasyhuran sistem kapitalisme di mata negara bangsa dan dunia. Yang sudah sekian lama menjajah bangsa kita.

Malam mulai pergi dan pagi serasa menghampiri. Kelelawar pulang di peristrahatan dan beberapa burung pagi mulai bersahutan di pohonan. Adzan subuh menutupi percakapan kami, diskusi kami pending hingga besok, kita pamitan pulang sekalipun rasa kantuk masih belum juga datang. Di tengah perjalanan pulang jiwa kami memancarkan semangat yang berseri-seri, tekad kami semakin bulat, semangat kami terikat erat pada perjuangan mempelajari dan memahami betul sistem yang mengganggu kesejahteraan sosial dan kebahagiaan rakyat.

Ya, Sajogyo Institute telah membuat saya bergetar dan berbinar penuh kagum dan sanjung.

Itu saja watau!

Bogor, 23 November 2013

Rachmat Marsaoly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s