Kehidupan Puisi

Ini kehidupan adalah air yang mengalir
Deras dan lambat itulah nasibnya
Adalah kesunyian masing-masing tulis Chairil
Hanya aku, tanpa kamu, kita atau mereka

Ini kehidupan adalah udara yang mengelus perlahan
Tanpa henti tanpa ragu menghidupkan raga
Tapi sayang, nafas terkadang sesak

Ini kehidupan adalah puisi
Kata-kata yang tak pernah berselisih
Adalah suatu diksi dari nyawa, kata Umbu
Puisi selalu mengisi di segala sisi
Puisi tak pernah mengadu

Tapi sayang, puisi sering tersisih
Di mata orang yang tak tahu puisi
padahal hidup tak pernah berselisih
dengan puisi-puisi
Yogya, 07 Feb, 2013 (Semesta Cafe)

Di Tanah Penjajah

Di tanah penjajah

langit manusia menjalar kabut

mengundang gemuruh berkali-kali

umur bukan lagi tangga hidup yang dihormati

apalagi merenungkan ribuan rahmat diatas bumi

Tanah tandus, kering kerontang, air tak mengalir

manusia sia-sia

Semua terbakar ego dan libido

udara sesak, pepohonan dan gunung berlarian

satu per satu gubuk-gubuk bermunculan

mengundang kemelaratan

tumbuh subur dengan kesiksaan

Kekayaan, kemiskinan, perkotaan, pabrik, trotoar, perumahan

semuanya penjajahan

pantun dan syair-syair para petani, nelayan

dipotong-potong, diganti, dibuang, jauh-jauh

hingga pantun dan syair-syair itu kembali lagi dengan

rupa yang lain, maksud yang buruk, dan takdir yang ganas

Selamat Pagi Halmahera Timur yang celaka

Mabapura, 05-05-2014

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

AKU

Tidak perlu uraian panjang tentang saya, atau banyak penjelasan mengenai saya. Nama, tempat tinggal, pangkat, jabatan, dan identitas lainnya tak bisa mengungkap siapa saya. Kecuali diri saya sendiri.

Tapi kurang lebih begini kisah ‘saya sebagai identitas’ hadir di bumi kala itu saat bulan agustus mencatat: tanggal 20 Agustus 1992, hari kamis siang saat kumandang adzan dzuhur di masjid dimulai, pukul 12.30 Wit di Mabapura (Kab. Halmahera Timur Prov. Maluku Utara) dari rahim seorang perempuan (Mama) yang amat saya cinta. Beberapa jarak waktu kemudian Ayah menyematkan saya dengan nama Rachmat Marsaoly.

Sekolah SD saya tamatkan di kampung halaman. Sejak lulus SD kampung halaman mulai saya tinggalkan. Demikian dengan SMP dan SMA.

Setelah lulus SMA pada 2010. Makin jauh kampung halaman saya tinggalkan. Dari pulau Maluku saya pergi ke pulau Jawa saya datangi. Kuliah saya di Yogyakarta, Universitas Widya Mataram.

Hingga sekarang Jogja masih setia memangku saya. Sekalipun dengan ke-istimewa-annya Jogja sering sakiti saya (‘Jogja istimewa’ hanyalah sematan yang lebih mengandung ‘citra’ bukan kenyataan, sebab kesultanan tak bisa membendung Jogja dari kepungan pemodal yang menghisap perikehidupan rakyat, bahkan kesultanan sendirilah yang menjadi penghisap nasib rakyat biasa).

Sekalipun demikian, bersama dan dari Jogja-lah saya belajar merangkai hidup dan kehidupan. Belajar makna sebuah proses hidup. Belajar mencipta dan mencetak keindahan.

Wajah Filsafat dalam Dunia Kampus

Dalam disiplin ilmu pengetahuan betapa kerap kita dengar bahwa filsafat adalah suatu induk atau sumber ilmu dari ragam disiplin ilmu pengetahuan. Filsafatlah fondasi utama segala cabang ilmu pengetahuan lainnya. Entah dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Sosiologi, Politik dll, atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA): Biologi, Fisiologi, Botani, Zoologi dll adalah semuanya bersumber dari filsafat itu sendiri. Sebab, filsafat adalah suatu disiplin ilmu yang subject matternya adalah metafisika yang berpijak pada pikiran (rasio) manusia sehingga ia merupakan sumber dari segala cabang ilmu pengetahuan. Segala IPTEK yang ada di dunia ini tidak bisa tidak pada dasarnya harus bersandar pada hukum-hukum akal dan pikiran manusia (Filsafat). Sebab pengetahuan itu sendiri bukanlah hal-hal yang tampak secara indrawi (materi) namun ia adalah niscaya (badihi) berkaitan dengan non-indarwi (akal)—dengan tidak bermaksud menafikan hal indrawi. Oleh karena itu sifat pengetahuan itu tidaklah terbatas, karena ia berpijak pada akal (rasio) manusia.

Ketika bahasan kita adalah filsafat maka sesungguhnya kita sedang membicarakan tentang eksistensi dan esensi Tuhan, manusia dan ala. Sebab fokus utama filsafat pada dasarnya adalah ketiga hal tersebut, karena masing-masing mempunyai relasi yang tak dapat diputuskan antara satu dengan yang lainnya. Seperti kita  mafhum bahwa bersamaan dengan kemunculan filsafat itu manusia mulai mengkaji, menganalisis, merenungi untuk mengetahui hakikat dari ketiga hal tersebut (Tuhan, alam, dan manusia). Dari sini pula filsafat melahirkan berbagai tokoh filsuf yang sangat terkenal hingga kini dengan ketajaman pemikiran dan intuisi.

Pada dunia akademisi dewasa ini khususnya dalam dunia kampus, dapat dengan jelas bahwa metode pengajaran filsafat para dosen filsafat yang hanya bersifat historiografi filsafat semata, seperti mengetahui sejarah para filsuf Yunani seperti Socrates, Descartes, Platon, Aristoteles dan lain-lain. Amat jarang bahkan tidak sama sekali kita dapati suatu metodik yang mempelajari alur pemikiran para tokoh secara sistematis dan kritis untuk menggali makna filsafat  lebih dalam lagi, tetapi malah sebaliknya. Sehingga jati diri filsafat menjadi terasing dalam metode pembelajarannya. Filsafat hanya dapat diterima secara instan dan tekstual oleh para mahasiswa-mahasiswi. Tepat di situlah filsafat terjadi pergeseran identitas dan makna. Filsafat tidak menjadi suatu ilmu yang di poles dengan perenungan (tafakkur) untuk meningkatkan potensi pikir bagi setiap orang dan khusunya para mahasiswa-mahasiswi. Filsafat yang pada dasarnya adalah suatu disiplin ilmu yang sangat metafisika (non indrawi) menjadi seakan-akan adalah sebuah disiplin ilmu yang hanya menyentuh hal-hal fisika (indrawi) semata. Padahal tujuan mempelajari filsafat adalah untuk  menggali dan mengetahui hakikat kehidupan itu dan untuk menciptakan manusia yang mampuh mencintai kebijaksanaan. Filsafat, ketika ditinjau secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophi yang berarti kebijaksanaan. Ketika filsafat hanya menjadi suatu ilmu yang hanya menyentuh hal-hal yang yang bersifat historiografi semata, maka sangatlah muskil filsafat dapat melahirkan sosok manusia yang mencintai kebijaksanaan.

Wajah filsafat dalam dunia kampus menjadi buram makna dan terasing dengan dirinya sendiri. Karena filsafat Seakan-akan dijadikan ilmu sejarah yang mempelajari historiografi para tokoh pula  autobiografi para tokoh secara empiris komparatif. Yang menjadi pertanyaan terbesar dalam tulisan saya ini adalah apakah para pengajar filsafat (Dosen) di kampus kurang mampuh menelaah atau mengkaji ilmu filsafat sebagaimana filsafat itu sendiri? Ataukah kurikulum pendidikan dan Menteri Pendidikan di negara ini membatasi ilmu filsafat hanya sebagai sebuah ilmu yang membahas tentang kesejarahan filsafat semata? Inilah yang menjadi problematik atas kekeliruan pengajar filsafat kita yang hanya membatasi filsafat dalam tinjauan historis.

Maka bagi saya ketika kita, khususnya para mahasiswa-mahasiswi atau para pecinta filsafat hanya menjadikan filsafat sebatas formalitas semata maka, jangan berharap makna filsafat itu yakni “mencintai kebijaksanaan atau hikmah” dapat dipetik pula terpatri dalam jiwa kita masing-masing. Bukan hanya itu, bahkan filsafat yang hanya membatasi diri pada teori semata tidak akan dapat mampuh menggapai nilainya. Karena tujuan filsafat adalah menjadikan manusia mencintai kebijaksanaan, olehnya itu filsafat sebagaimana filsafat (ontologi) haruslah bergandengan dengan filsafat sebagai sebuah teori (epistemologi), dan filsafat sebagai teori harus diaplikasikan dalam filsafat sebagai sebuah tindakan (aksiologi). Inilah filsafat yang selalu diajarkan oleh para tokoh-tokoh filsafat (filsuf) terdahulu kita. Yakni filsafat ontologi berlandaskan dirinya pada hakikat filsafat yaitu metafisika, dan filsafat epistemologi yang berlandaskan dirinya pada teori tentang metafisika dan filsafat aksiologi tentang tindakan yang tak terlepas dari metafisika itu sendiri yaitu yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan akhlak kemanusiaan. Khususnya para filsuf Islam mengatakan bahwa yang di maksud dengan metafisika itu ialah hakikat realitas semesta yakni Tuhan.

Sebab Kedangkalan Makna Filsafat

Makna filsafat menjadi terasing dan sangat dangkal di kalangan akademisi dewasa ini disebabkan karena kurangnya sensitifitas olah pikir dan rasa yang dalam dan tajam terhadap filsafat oleh para pengajar filsafat yang dalam hal ini adalah para dosen-dosen pengajar filsafat, yang hanya melihat filsafat sebatas suatu ruang sejarah masalalu yang melintas di masa sekarang dan kemudian diteliti secara empiric. Seperti contohnya para pengajar filsafat yang hanya menggelitik sejarah para tokoh atau sisa-sisa bangunan zaman Yunani kuno atau Persia (sekarang Iran). Sehingga filsafat semacam ini menciptakan manusia dan khususnya mahasiswa-mahasiswi yang berpikiran (pengetahuan) tekstual (naqliah), dan menciptakan kesan bahwa filsafat bukan lagi suatu ruang eksistensi yang berpijak pada intelek dan intuisi manusia yang tanpa batas akhirnya.

Ironisnya lagi, para pengajar filsafat membatasi bahkan melarang setiap mahasiswa yang ketika memunculkan berbagai pertanyaan yang syarat akan nilai-nilai filosofis seperti, “apakah hakikat dunia ini ?” atau “apakah eksistensi dunia ini sama dengan eksistensi akhirat ?”. Fenomena seperti ini yang semakin membuat makna filsafat menjadi dangkal dan sangat terbatas. Padahal ketika kita mengkaji makna filsafat itu lebih dalam lagi maka sesungguhnya filsafat adalah suatu jalan manusia yang di dalamnya dihiasi oleh berbagai macam obor  hikmah yang indah tanpa batas akhirnya. Ia merupakan suatu keindahan dan keunggulan derajat dalam diri manusia yang diberikan Tuhan kepada kita jika dipergunakannya sebaik mungkin.

Ke-tidakterbatas-an dan Substansi Filsafat

Filsafat merupakan anugerah, atau hikmah yang ada di dalam diri manusia. Olehnya itu subjek filsafat merupakan sesuatu hal yang bersifat metafisik dan bukan fisik. Ia (filsafat) adalah suatu kekuatan manusia yang tidak ada pada selainnya. Suatu kekuatan yang dapat menciptakan berbagai hal dan mengetahui berbagai hal. Inilah anugerah terindah dari Tuhan.

Kita sama tahu, seorang Socrates yang menyebut dirinya adalah orang yang mencintai kebijaksanaan (phylo sophi) adalah awal munculnya nama filsafat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa sebelum adanya Socrates filsafat belumlah ada. Padahal tidak, filsafat telah ada bersamaan dengan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini. Filsafat yang ada di zaman Socrates adalah filsafat yang telah ada di zaman Adam. Perbedaanya hanyalah pada sisi atribut(nama). seperti di dalam terminologi Yunani philo shopy yang berarti cinta kebijaksanaan, sedangkan dalam terminologi Arab adalah Faslafah yang berarti hikmah. Sedangkan pada sisi pemaknaannya hanyalah satu, hikmah.

Filsafat pada dasarnya bukanlah suatu ruang  sejarah atau pemikiran sekelompok manusia di masa lalu dan kemudian dipelajari di masa sekarang. Tetapi lebih dari itu filsafat merupakan suatu hikmah terbesar yang berada di dalam diri seluruh manusia yang oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib di sebutkan  bahwa ia adalah semesta yang tak terbatas. Karena filsafat merupakan induk segala ilmu maka filsafat mulai mengkaji untuk mengetahui hakikat dari segala realitas yang ada di jagad raya ini, dari alam makrokosmos (alam semesta) hingga pada alam mikrokosmos (diri manusia), dari alam lahiriah hingga pada alam bathiniah, yang nampak secara indrawi hingga yang tersembunyi di dalam rohani. Inilah filsafat sebagaimana filsafat yang mengolah dua dimensi manusia yaitu pikiran dan perasaan, materi dan non materi untuk memaknai segalanya dan mengetahui hakikatnya.

Maka sangatlah muskil filsafat menjadi terbatas karena mengkaji hal-hal yang behubungan dengan hakikat realitas. Seperti yang telah dijelaskan semula bahwa khususnya para filsuf muslim menyebutkan bahwa hakikat realitas semesta itu adalah Tuhan. Sebab hakikat itu adalah kemendasaran segala wujud atau sebab efisien alam ini, maka tak lain ia adalah Tuhan itu sendiri. Namun di sini bukanlah ruang untuk membahas atau mengkaji bagaimana penjelasan bahwa apakah hakikat itu adalah Tuhan.

Jelaslah bahwa karena filsafat mengkaji sesuatu yang tak terbatas atau pengetahuan tentang Tuhan maka diri filsafat itu juga tidaklah pernah terbatas, dan karena pijakan filsafat itu adalah pikiran (rasio) manusia maka pikiran manusia harus dipoles dengan perenungan (tafakkur) agar ia menjadi lebih indah dan baik. Sebab kalau tidak maka filsafat hanyalah sebuah permainan akal yang tak beraturan dan spekulasi yang mengacaukan. Sehingga manusia bisa terjerumus di dalam jurang kesia-siaan dan kemalangan. Seperti sebuah syair indah dari Persia, Maulawi Jalaluddin Rumi:

“Engkau adalah pikiranmu kawan, selebihnya adalah tulang-tulang dan serat-serat. Jika kau berpikir tentang mawar-mawar, engkau pun sehamparan kebun mawar. Tetapi jika kau berpkir tentang dedurian, engkaulah bahan bakar bagi tungku itu”. (Buku Eskatologi Mulla Shadra: Perjalanan Menuju Akhirat. hal;xviii)

Betapa indah syair Rumi di atas. Ia ingin menunjukkan bahwa substansi manusia itu tidak lain adalah pikirannya. Selainnya hanyalah tulang belulang dan sebongkah daging. Dialah (pikiran) yang membedakan antara manusia dengan binatang, antara manusia dengan makhluk lainnya. Atau seperti kata seorang filsuf besar Aristoteles yang mengatakan manusia adalah hewan yang berpikir. Ketika kita hanya memandang manusia sebagai yang berdimensi fisikal semata  seperti telinga, mata, tangan, kaki, dll tidaklah berbeda dengan seekor binatang yang juga memiliki tangan, kaki, mata dll. Tetapi maksud Sang Filsuf di atas bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah pikirannya. Sebab hewan tidak memiliki pikiran, ia hanya bertindak sesuai dengan kemauan instingnya tanpa proses berpikir (kategorisasi, persepsi) tanpa melawan atau pun menolak.

Seperti Rumi di atas, ketika pikiran dipakai untuk memikirkan hal-hal yang baik dan indah maka kebaikan dan keindahan itu pula yang akan kembali menghiasi ruang diri kita bahkan menerpa di sekeliling kita. Tetapi ketika pikiran dipakai memikirkan hal-hal buruk semata maka tentu keburukan pula yang akan kembali masuk menjelma dan menyakiti diri kita sendiri.

Demikian substansi dan tujuan filsafat adalah menggapai hikmah tertinggi(Al-hikmah Al-muta’alliyah) kehidupan ini dengan mengetahui hakikatnya dan menjadikan manusia yang baik dan beradab sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terpatri.

Akhirnya, semoga wajah filsafat dalam dunia kampus menjadi cerah dengan cahaya kebijaksanaan yang menyinari, dengan sebuah metode pengajian yang kritis terhadap filsafat. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa  untuk mendapatkan cahaya kebijaksanaannya manusia haruslah mengidentikkan dirinya dengan perenungan (tafakkur) tentang hakikat  realitas yang di luar maupun di dalam diri masing-masing. Sehingga segala tindakan dan laku hidup dapat beriringan dengan moral dan akhlak kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai  ilahiah.

Semoga!

*Oleh: R. Marsaoly

Pulang Kampung

Dan kami hampir tak mengenal apa-apa kini

Suara-suara yang menabrak sukma hari ini

Di penuhi muatan basa-basi, dan rasa sakit hati

Sebab kami tak lagi mengenal bahasa

Dan meninggalkan majelis rasa

Hingga robohnya bangunan budaya

Beberapa bulan lalu, saya meninggalkan kota

Dengan kokoh niat menuju kampung kita

Pulang kampung adalah perjalanan menempuh makna

Menyapa damai dan bersenggama dengan bahagia

Tapi kawan, kini kita dapat apa dari bahasa itu, “pulang kampung”

Siapa yang akan membimbing kita menuju kampung

Menuju bahasa yang tak biasa, dua kata yang siapapun ia

Pasti mengenalnya, berdamai dengannya…

Alam dan manusia, mungkin akan sia-sia

Lihat saja pulau-pulau bersejarah itu

Atau pantai-pantai yang penuh kenangan di situ

Ditebang, digusur, dikeruk, dikotori

Tanpa penghormatan dan kemuliaan

Tanpa belas kasih kemanusiaan

Lihat pula seorang ibu tua di bawa terik itu

Menggendong anaknya dan mengais rejeki di tebing-tebing batu

Sedang di samping kiri dan kanan mereka, berdiri rumah-rumah ber-AC

Pulang kampung kini bukan  lagi bahasa kita

Kata-kata itu bagai sembilu

Bagai angin lalu

Yang menusuk-nusuk qalbuku

Saya bernasib pilu, berlapis luka, dan dikepung duka

 

Lalayon kini tak lagi mendapakan tempatnya

Kabata kini berlarian entah di mana, entah kemana

Belantara hutan dan gugusan gunung-gunung

Tidak untuk di keruk oleh tangan-tangan serakah

Tidak juga untuk penjilat tahta

Kawan, kini saya tak dapat pulang kampung

Sebab Haltim bukan kampung saya dahulu

Perahu Haltim telah ditenggelamkan kedalam lautan modernis

Sepanjang mata dan rasa memandang, hanya pemandangan miris

Bila dahulu modal kampung adalah keikhlasan dan kekeluargaan

Kini dirubah jadi transaksi untung rugi

Dan mengundang petaka

Maka dengan puisi ini saya bersaksi: bahwa sejarah dan budaya

Adalah jati diri ummat manusia, hakekat semesta raya

Bila hilang salah satu, hilang seluruhnya

Sungguh kawan, ini hari saya tak lagi pulang kampung…

Apakah dan Siapakah yang mesti di selamatkan?

Kampungkah?

Kotakah?

Manusiakah?

Atau alam?

Terimakasih!

Mabapura, 06-06-2014
Rachmat Marsaoly

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Sudah kuduga

Sudah kuduga, kalian akan bersujud pada penguasa

Do’a kalian tak lebih sebagai berhala

Tak peduli nasib siapa diiris sembilu

Tak mendengar suara siapa mengetuk pintu

Siapa mereka di tebing-tebing batu

Mengais rezeki dengan wajah pilu

Apa arti lautan, bila nelayan tak lagi akrab dengan ikan

Apa arti daratan, bila petani haknya dihilangkan

Apakah itu kemerdekaan?

Apakah ini kedaulatan?

Di jalanan, puluhan wajah anak-anak kusaksikan

Untuk mereka, adakah masadepan?

Sedang tanah dijual-belikan

Dan gugusan pulau-pulau juga gunung di kerukhabiskan

Adakah itu harapan?

Sedang gerak-gerik kita dikawal preman penguasa

Dan nasib kita diatur semau mereka

Wahai, apakah itu budaya

Gedung-gedung prostitusi di pelihara

Perempuan-perempuan dijual murah

Para lelaki bertampik sorak memberi harga

Dimana kemanusiaan

semua sudah kuduga

RM, Mabapura 12062014

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Stasiun

Kawan, berjalanlah, melangkahlah sejauh dan seluas semesta alam

Karena hidup sejatinya perjalanan

Tapi berhentilah engkau sejenak di setiap stasiun hidup

Sebab di sana wajah cinta kau pahami

Perpisahan dan perjumpaan kau jumpai

RM, Jogja Stasiun Lempuyangan

22112013

Yang tak Terurus

Di atas yang tak terurus

Ada cerita mengalir lurus

Ada kisah tersimpan mulus

Tentang hidup krisis agraris

Tentang makna yang nyaris habis

Di atas yang tak terurus

Segala konsep dan hayal memuja kapitalis

Ruang dan gerak di jarah habis

Masyarakat nasibnya miris

Ini hidup yang riuh egois

Jogja, 26102013
RM

Ya Jou[1]

Ya Jou, badai dunia menerpaku
kaku langkahku
rapuh melangkah
kepada-Mu
terjebak selalu pada eksistensi keegoisanku
terpenjara pada pengetahuanku

Jauh pandang mencari-Mu
padahal dekat-Mu memenuhiku
bersemayam dan berkedudukan dalam diriku

Ya Jou, hingga hari mulai senja
masih kucicip manis kebathilan
masih kuhirup udara kemaksiatan
padahal kasih-sayang-Mu sungai tanpa muara
dalam hidup matiku mengalir senantiasa

Ya Jou, padaku tancapkan pisau cinta-Mu
Padaku siramilah anggur kenikmatan
Matikanlah aku dalam samudera Ar-Rahimmu
Jogja-2012
Rachmat Marsaoly

[1] Jou, dalam bahasa daerah orang Halmahera (Maluku) berarti Tuhan

Kampung dan Kota; Antara Kenyataan dan Khayalan

Dalam senin pagi saya mengajak seorang teman pergi ke kampus. Sambil terus membaca buku ia tidak merespon ajakanku. Kampus memang relatif dekat dengan kosan, langsung berdiri saya keluar menuju kampus. Di depan kampus, saya bertemu dua orang teman, mereka mengajak saya pergi ke kantin. “mumpung belum ada dosen kita sarapan sebentar”. Begtu ajaknya. Ajakan coba saya tolak, tapi mereka bersikeras. Ajakan tidak bisa lagi saya tolak. Di dalam kantin, beberapa mahasiswa/i terlihat serius dalam obrolan. Terdengar suara keras dari arah mereka “kamu kampungan bro…”. Serempak suara tertawa memenuhi ruang kantin mengejek teman mereka.

Sebagai anak yang berasal dari kampung, saya agak tersindir dengan lagak teman-teman mahasiswa itu. Saya terlibat dalam tawa penyindiran itu. Bagi saya, sekalipun yang ditertawakan adalah teman mereka, tapi saat itu sayalah yang mereka tertawai. Mereka bukan saja menertawakan temannya, tapi sesungguhnya mereka telah menertawakan kata “kampung” itu sendiri. Kata “kampung” menjadi bahan ejekan untuk seseorang yang berlagak (berpenampilan) sederhana, pakaian yang tidak bermerek, dan berpikiran yang seperti pikiran kebanyakan orang-orang di kampung. Diam-diam saya marah keras karena saya juga seorang anak kampung.

Pikiran saya mencari-cari sebab apa yang membuat mereka dan banyak orang berpikiran demikian. Padahal mereka mahasiswa, terpelajar, dan berpendidikan. Tapi cara berpikir demikian masih bersarang dalam kepala mereka. Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Bila benar adanya, lantas pada ruang mana lagi yang kita percayai untuk mendidik kita (pikiran dan jiwa) mendidik generasi, mendidik bangsa. Bukankah dunia pendidikan adalah satu-satunya dunia yang dipercayai negara dan banyak masyarakat untuk mendidik bangsa dan anak-anak untuk menjadi lebih baik (berpikiran sehat, berjiwa bersih, dan bersikap mulai) terhadap hidup dan sesama?

Saya juga ingat sewaktu di Malioboro, seorang tua dengan anaknya membeli sebuah mainan anak kecil. Anaknya menolak untuk tidak membeli, sang bapak menawarkan satu permainan lagi, tetap sama, sang anak menolak. Ternyata sang anak lebih tertarik pada sebuah mainan yang ada di tangan seorang bocah kecil di sampingnya. Sebuah permainan yang dianyam dari kulit pohon dan dibentukkan menjadi seperti bola kecil. Akhirnya Sang bapak mengetahui keinginan sang anak, “oh, kamu lebih suka yang ini (sambil menunjuk pada permainan bola kecil milik seorang bocah), waduuh itu jelek, yang ini lebih bagus.. kamu jangan kampungan…”. Bapak ini mengeluarkan bahasa yang sama, sindiran yang sama, pikiran yang sama. “Kampungan”.

“Kampungan”, kata itu menjadi momok dalam pikiran kebanyakan orang. Ia terus menjadi bahan sindiran dan ejekan. Seperti kita sama tahu, “kampungan” berasal dari kata “kampung”, maka mereka yang selalu menjadikan bahasa kampungan sebagai bahan sindiran dan ejekan, berarti mereka telah menganggap kampung sebagai tempat dan ruang yang tidak seharusnya kita tempati, tidak layak, tidak menjamin apa-apa, dan banyak “tidak” lainnya. Dan sering kita dapati dalam banyak tuturan orang, mereka selalu melawankan antara kata “kampung dan kota”.

***

Tulisan ini hendak melihat dan menceritakan dua situasi ruang yang sering menjadi objek pembicaraan orang. Tepatnya ruang hidup orang. Yakni Kampung dan Kota. Di mana-mana orang sering membicarakan tentang perkembangan dan perubahan, ketertinggalan, kekunoan, yang kemudian disandingkan dengan dua ruang di atas. Bahkan ‘perkembangan’ dan ‘perubahan’ seperti telah merasuk jauh di dasar kesadaran semua orang, seakan menjadi satu keyakinan utuh dan niscaya dalam hidup.

Namun masing-masing orang punya perspektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Kota seakan mendapatkan predikat berkembang, maju, dan kampung adalah yang kuno atau tertinggal. Dua kosa kata itu–perkembangan dan perubahan sebagai kota–kemudian tampil sabagai sosoknya di berbagai media, dalam menggambarkan suatu dunia yang berkembang maju dan disaat yang sama menegaskan satu dunia yang tertinggal. Tampil dalam bentuk teks, gambar atau iklan-iklan di majalah, televisi dan ragam media lainnya. Terkadang daerah-daerah tertentu menjadi objek (contoh kota) seperti Jakarta, Bandung, Karawang, dan kota lain yang pada kenyataannya selalu lahir problem sosial. Pengetahuan masyarakat (sosial) telah ditentukan oleh berbagai media tersebut.

Dua kosa kata itu (perkembangan dan perubahan) tidak hanya marak dibicarakan di masyarakat tapi juga di negara, di elit pemerintah kita. Sehingga disusunlah berbagai kebijakan yang mengarah pada dua kosa kata tersebut. Dibuat dan dimuat dalam bentuk draf-draf tebal. Dan konsep perkembangan dan perubahan itu sesungguhnya diciptakan oleh negara itu sendiri. Yang kemudian dikomsumsi oleh masyarakat luas. Dan selanjutnya masyarakat seakan diberi harapan tentang satu ‘dunia masa depan’ yang entah wujudnya seperti apa.

Iya, siapa yang tak mau pada perubahan, siapa pula yang tak ingin berkembang. Saya yakin dan percaya manusia manapun pasti menginginkan dua hal tersebut. Tapi, orang-orang sering lupa tak mau bertanya, seperti apakah perkembangan yang dimaksud, atau perubahan seperti apa yang diinginkan, apa yang akan dirubah. Mungkin kita sengaja tak mau tahu, atau mungkin karena kita telah ditipu oleh satu model pengetahuan yang lain. Sehingga—karena sesuai dengan pengetahuan yang kita konsumsi—kita setuju-setuju saja dengan apa yang umumnya berlaku saat ini. Dan kemudian menganggap semua baik-baik saja.

Seorang bijak pernah berkata “perkembangan yang menyengsarakan manusia adalah kebodohan dan perubahan yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri adalah kesesatan”[1].

Perkataan seorang bijak diatas menyentuh konteks kita sekarang. Bagaiman tidak, manusia-manusia kini lebih mengejar keuntungan sendiri. Keakrabah yang dahulu begitu intim telah dibuang jauh-jauh, tinggal permusuhan. Teman, sahabat, keluarga, semua hanya jadi kebanggaan ucapan bibir, tak lagi punya bobot dalam batin. Padahal, ikatan-ikatan itu yang akan membimbing, memandu kita lalaui jalan hidup yang baik. Padahal dari semua itulah kita bisa hidup. Semua itu kini hanya jadi fatamorgana. Dipandang sesaat dan hilang sudah. Orang kota digusur rumahnya atas nama pembangunan, tersingkir lalu jadi miskin. Orang-orang di kampung terseret dari ruang hidupnya, karena diusir melalui ragam macam kebijakan yang berlaku: konsesi lahan tambang, hutan yang di kapling oleh perusahan dan lain-lain. Tanah jadi sempit, akhirnya mereka terusir lagi, pergi ke kota, menambah kantong kemiskinan kota. Kampung diusahakan, direncanakan, dan terus dirubah esensinya agar menjadi kota.

Mengapa terjadi demikian. Kenapa semua relasi-relasi itu kehilangan hakekatnya? Seperti bagaimanakah perkembangan dan perubahan itu dimaksudkan. Mengapa kota dipandang begitu megahnya, seakan-akan ia adalah masadepan ummat manusia. Sedang kampung seperti sebuah ruang-hidup yang tak menjanjikan malah menyengsarakan. Kampung seperti tak memberikan penghidupan untuk masadepan.

Tapi sejenak marilah kita tengok kehidupan dalam dua ruang ini, kampung dan kota.

Saya masih ingat dahulu di kampung saya, Mabapura, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, sewaktu masih duduk di bangku SD, kami sekeluarga hidup di kebun. Kebun kami dekat dengan sebuah sungai. Untuk makan dan minum kami langsung dari tanaman-tanaman di kebun dan air dari sungai. Bila air sungai puas kita minum, air buah kelapa jadi gantinya. Pohon kelapa berjejeran hampir satu hektar lahan kebun di tumbuhi pohon kelapa. Bapak saya memang sengaja menanam pohon kelapa dengan banyaknya untuk kebutuhan ekonomi uang, demi biaya sekolah anak-anaknya. Tidak hanya kami sekeluarga, tapi cara hidup seperti ini hampir seluruh orang kampung kala itu, sama. Bila pagi menjelang, saya bersama saudara-saudara bergegas mandi di kali untuk pergi ke sekolah. Jarak kebun dan sekolah memang relatif jauh, tapi bagi kami jarak bukan penghalang atau hambatan, kami tak pernah mengeluh tentang itu. semua berjalan dengan senang hati tanpa beban.

Kehidupan kampung seperti ini saya yakin seluruh kampung di nusantara, sama. Sekalipun berbeda dari sisi luaranya. Tapi batinnya, semangatnya, kebahagiaan dan kesederhanaan hidup itu, sama. Sama-sama bersahabat dengan alam nyata. Sama-sama saling rasa merasai dalam satu rumah kosmos.

Ya, memang begitulah ruang kampung itu menampilkan sosoknya, situasinya. Dan ”Bila kita mendengar kata kampung, maka yang terlintas di benak adalah debur ombak, pepohonan yang lebat, gonggongan anjing, sahutan burung di ranting, orang-orang yang sederhana[2]”. Di kampung, kita benar-benar merasakan keeratan hubungan orang-orang melalui interaksi sapa-menyapa dalam bentuk tolong-menolong, gotong-royong dan lain sebagainya. Keeratan hubungan orang dengan alamnya: mencuci pakaian di sungai, berenang di laut bebas bersama ikan-ikan dan terumbu karang, bertani di kebun dan sawah, menyusuri hutan belantara mencari rusa dan hewan lainnya. Betapa kehidupan di kampung tampil dengan apa adanya. Kehidupan yang berjalan dengan kerendahan hati, tak mau ingin yang berlebihan. Orang kampung akan mengambil ikan di laut (memancing) sekedar makan sehari atau dua hari untuk keluarga. Berburu hewan di hutan hanya dengan secukupnya. Tidak dengan rakus menjerat hewan-hewan hutan dengan serakah. Di kampung, alam dan manusia sama-sama saling isi-mengisi, berkelindan satu dengan yang lain. Sama-sama saling lengkap melengkapi dalam kebutuhan hidup. Tak ada kompetisi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Sama-sama saling merawat dan menjaga, sama-sama saling intim dan bahagia. Semuanya, tak ada ego yang berlebihan.

Tapi sekali lagi, dalam hidup sekarang ini, sangat sulit, dan sulit sekali bagi kita mempertahankan hakekat kampung seperti terurai diatas. Kini, kehidupan kampung akan terus dikebiri demi memenuhi kepentingan mereka yang mengatur semua relasi dan sistem yang ada. Kehidpan kampung terus dikejar untuk dieksploitasi sumberdayanya (eksploitasi alam dan manusia). Semua telah diatur sedemikian rupa dan sedemikian canggihnya oleh penguasa dan pengambil kepentingan. Semua intitusi-institusi formal (pendididkan, dan ruang diskursus lainnya) telah diatur berdasarkan kepentingan segelintir orang saja.

Dalam dunia kampus misalnya, kita diharuskan mengambil jurusan yang kita sukai, dan apabila satu jurusan telah diambil, maka jurusan yang lain tidak lagi bisa. Yang berjurusan sosiologi tidak bisa belajar jurusan teknik arsitek, yang jurusan teknik sipil tidak bisa belajar jurusan bahasa. Dan semuanya begitu sebaliknya. Dalam belajar, pikiran kita dibatasi. Potensi kita dipenjarakan. Kita benar-benar dibatasi dalam belajar. Dan semua itu berakhir dengan meraih satu kertas kecil. Ijazah. Kemudian setelah itu kita dituntut untuk bekerja dalam ruang-ruang formal yang juga telah diatur dan berada dalam sistem yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan individu semata. Bukan untuk kepentigan bersama, kepentingan alam dan manusia, manusia dengan manusia.

Akhirnya, produk dari pendidikan (pengetahuan) kita adalah eksploitasi besar-besaran. Tragisnya, kita mengeksploitasi (alam) diri kita sendiri sebagai makhluk paling mulia diantara makhluk lainnya. Kita telah bergeser antara dunia nyata dan khayal. Kita terpontang-panting antara kenyataan dan khayalan.

***

Saya tak pernah yakin, terserah anda bagaiman, bahwa hidup mengajak kita senantiasa bermewah-mewahan, gaya-gayaan, dan sebatas pemuasan diri-sendiri. Saya juga tak percaya bahwa kemenangan dan kemerdekaan hidup ialah mengedepankan keinginan yang berlebihan dan kepentingan sendiri-sendiri. Saya hanya percaya: kebebasan, kemerdekaan, kebahagiaan, serta segala menuju kedamaian hanyalah ketika jalan kesederhanaan kita lalui.

Dengan kesederhanaan, kejahatan bisa luluh, kebengisan jadi kasih. Dengan kesederhanaan, segala masalah datangkan solusi. Dengan kesederhanaan semua jadi hikmah. Diri yang sederhana adalah kekayaan melimpah, kemewahan tiada bandingannya, bahkan dengan seisi dunia.

Bagaimana kesederhanaan dapat kita rengkuh, bila kenyataan hidup ini hari begitu pekat dan sesaknya. Cermin yang mana akan kita pakai melihat diri yang sederhana. Bila orang-orang kini saling melempar caci-maki. Cermin kita retak sudah. Bagaimana kesederhanaan dapat dicapai, sedang kita masih saja rakus terhadap diri sendiri, terhadap alam semesta.

[1] Mahatma Gandhi, dalam Semua Manusia Bersaudara

[2] Surya Saluang dalam Majalah Salawaku edisi 1 2014

Jogja, 12 Desember 2014

Rachmat Marsaoly