DARI SAINS KE KALDERA SUNDA

Tiba-tiba dering telepon menghentikan percakapan saya bersama Jamal dan Fajri. “Rahmat, kalian sedang apa di situ, buka puasa kalian bagaimana?”, tanya Bang Sal lewat telepon. “Cuma duduk-duduk, Bang. Sambil menunggu buka puasa, tapi kami semua tidak berpuasa. hehee”, jawab saya cepat”. “Bisakah kalian datang ke Darmaga sekarang, ajak semua teman-teman. Di sini ada banyak makanan, ayo kesini kalian makan, kesini naik angkot, turun di terminal Bubulak, kalau sudah sampai di sana baru Abang jemput. Jangan kelamaan ya..”. Bang Sal mengajak penuh harap. Saya, Fajri dan Jamal yang sedang duduk bercerita di sebuah Cafe Kopi di jalan Malabar itu cepat-cepat bergegas keluar cafe menuju rumah belajar SAINS (Sajogyo Institute) untuk menyampaikan pesan dan ajakan Bang Sal kepada teman-teman (Kak Amien, Olhan, dan Musa).

Sesampai di sana, kepada teman-teman kami sampaikan pesan dan ajakan Bang Sal itu. Seperti saat kita bertiga keluar dari cafe, semuanya bergegas cepat merapikan barang-barang untuk dibawa. Ada yang membawa tas berisi buku catatan, buku bacaan dan beberapa bulpoin. Sebagian lain tidak membawa apa-apa. Keluar dari SAINS sekitar pukul 17.00. Kami menuju jalan besar untuk naik bis Trans Pakuan tujuan terminal Bubulak.

Ketika keluar dari pintu pagar Sains, saya sempat menoleh ke belakang. Sains telah sunyi, sudah beberapa lama waktu, Sains memang begitu, sunyi. Sunyi dari dinamika diskusi, sunyi dari keluar-masuk orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Padahal, Sains adalah wadah belajar, berkumpul dan saling mengenal. Tak sekedar mengenal nama dan daerah, tapi juga saling mengenal persoalan sosial masing-masing daerah itu. Tak seperti waktu 2014 yang ramai orang berdatangan ke Sains. Berdiskusi intens, bahkan ada yang nginap, termasuk kami adalah bagian dari itu. Saat itu, beberapa hari saja meninggalkan Sains, rindu ingin balik ke Sains begitu kuatnya. Saya yang berkuliah di Jogja, harus cepat-cepat datang ke Bogor, ke Sains. Rindu terhadap rumah dan lingkungannya yang bersih, hijau, udara yang segar, siang maupun malam, sekalipun berada di tengah kota. Lebih-lebih rindu terhadap suasana belajarnya. Belajar mengenai persoalan diri sendiri, persoalan kampung, dan persoalan lainnya. Di situlah saya dan Bogor, dan Sains menjadi begitu akrab, sehingga saya dan Jogja tak lagi akrab seperti dahulu. Seperti pertamakali datang ke Jogja. Lalu, Jogja dimata saya tak lagi seistimewa seperti pandangan banyak orang. Mungkin karena keistemewaannya telah dilindas banyak bangunan besar yang menjamur, atau roda-roda kendaraan yang makin memacetkan jalanan Jogja itu.

Lalu kali ini, ketika kami diajak Bang Sal sejak hari itu untuk pergi ke Bubulak, dan akhirnya kami menetap di sebuah rumah, sebuah tempat belajar yang jauh dari Sains, perasaan ingin cepat-cepat balik ke Sains tak sekuat dahulu, tak sepenuh dahulu. bahkan tak ada lagi perasaan semacam itu. Persis seperti perasaan saya terhadap Jogja. Mungkin karena suasana berdiskusi Sains tak seperti waktu lalu, alias orang-orang tak lagi berdatangan, mereka yang datang pun tak lagi saling akrab. Dan saya merasakan itu, batin belajar di Sains perlahan berubah total. Atau jangan-jangan, saya menjadi curiga dengan diri saya sendiri, mungkin karena tempat yang satu ini lebih luas lingkungannya, lebih banyak pohonannya, sehingga lebih bebas pula saya menggerakkan tubuh saya, lebih luas memainkan imajinasi saya. Barangkali.

Sesampai di jalan, di sebuah halte bis kami menunggu Trans Pakuan. Sekitar 5-10 menit Trans Pakuan tidak pernah lewat. Jalanan hampir dipenuhi angkot. Akhirnya, sama-sama kami sepakat naik angkot. Jalanan macet, apalagi ketika angkot memasuki terminal Laladon, macet sekali, kendaraan berdesak-desakan, samahalnya para penumpang di dalam angkot. Berdesak-desakan. Klakson mobil dan motor saling beradu di jalanan, udara seperti beku, nafas tersengal-sengal. Saking macetnya, sehingga ada beberapa penumpang yang mungkin mengejar waktu berbuka puasa di rumah bersama keluarga, tak sempat. Waktu berbuka puasa mendapati mereka di jalan, di dalam angkot.

Kehidupan di kota memang penuh dengan kompetisi, manusia dengan manusia berkompetisi, manusia dengan waktu, manusia dengan ruang pun saling berkompetisi. Saling berebut waktu, saling berebut ruang, sehingga waktu dan ruang menjadi begitu sempitnya, tak seperti orang-orang di kampung. Sekalipun konteks hari ini kebanyakan orang kampung telah menjual tanah dan kebunnya beramai-ramai ke perusahan, tapi sebagian lain masih tetap mempertahankan tanah dan kebunnya, Nenekku misalnya, yang sebagai seorang petani, ia dengan kemauan sendiri, dengan leluasa mengatur waktu berkebunnya, waktu di rumahnya, waktu bersama keluarganya dll. “Di kampung orang-orangnya kaya dengan ruang, kaya dengan waktunya”, bisikku pada diri sendiri.

Akhirnya, tidak sampai di terminal Bubulak, angkot bernomor 03 itu menurunkan kami di terminal Laladon. Dengan semangat tinggi, dari Laladon kami jalan kaki sampai Bubulak. Tiba di Bubulak sekitar 19.00 Wib. Kepada Bang Sal saya sms, kita telah tiba di terminal Bubulak. Hampir 20 menit duduk menunggu kedatangan Bang Sal. Sebagian duduk berjejeran di depan salahsatu warung, di sisi kiri pintu masuk-keluar bis Trans Pakuan. Sebagian lain duduk berhadapan bercakap-cakap, tak jelas apa yang dicakapkan. Sebuah mobil avansa menyambar kami. Ternyata itu dia, Bang Sal bersama Mitrard. Kami masuk di dalam mobil. Masih dengan semangat yang sama. Semangat belajar itu. Ketika melihat Mitrardi, dalam hati saya bergumam, “ini seperti anaknya Om Yoyok. Sepertinya sesaat lagi kita akan bertemu dengan Om Yoyok di sebuah tempat entah di mana”.

Tanpa tunggu lama, untuk memastikannya saya langsung bertanya, “Mitrar, apakah Om Yoyok juga ada di Bogor?”. “Iya, ada di sini”, jawab Mitrar, singkat.

Saya dan sebagian teman yang lain, kecuali Kak Amin, dengan Mitrardi belum pernah kami bertemu sebelumnya, tapi sudah pernah mendengar namanya, di sebuah website menulis, Indoprogress pernah memuat salah satu tulisan Mitrardi tentang Finansialisasi Alam. Sedangkan Om Yoyok alias Hendro Sangkoyo adalah bapak dari Mitrardi Sangkoyo. Kami mengenal Om Yoyok dari proses belajar kampung ini. Di kantor SDE-Jakarta dan di Sains, Bogor. Dengan Om Yoyok kita belajar terutama mengenai persoalan ruang hidup orang kampung, tentang krisis sosial-ekologi yang makin massif ini. Tentang hilangnya sumber-sumber hidup utama orang kampung, yakni air, pangan, dan energi. Belajar tentang bagaimana memahami kembali pengetahuan asli orang kampung yang selama ini ditenggelamkan, bahkan dihilangkan samasekali.

Mobil melaju di jalanan, ia melaju menuju sebuah tempat yang agak terpencil di kecamatan Situ Gede, kami tiba di sebuah rumah, halamannya besar sekali. Seluas kurang lebih 12 hektar milik Pak Tomi. Tepat di sisi kiri BMKG, badan mobil berbelok ke kiri, masuk ke sebuah jalan. Disitulah jalan masuk rumah pak Tomi, tak ada pagar yang menutupi jalan. Di mulut jalan, hanya suatu besi besar bulat dan panjang dilingkari kawat duri tergantung melintang di udara. Jalannya menurun dan berkelok, sekitar tiga sampai empat tikungan untuk sampai di rumahnya Pak Tomi. Halaman seluas itu tumbuh di dalamnya berbagai jenis pohon, sekitar puluhan dan mungkin ratusan jenis pohon. Pohon Matoa, cendana, pala, kenari, jati, kelapa, dan sebagainya. Tentang seorang Pak Tomi, sedikit banyak saya tahu dari hasil bacarita dengan Pak Amang beberapa hari lalu. Selain Pak Ai, salah satu orang kepercayaan Pak Tomi yang menjaga tempat ini, juga Pak Amang adalah seorang petani yang dipercayai Pak Tomi untuk ikut menjaga tempat ini. Kata Pak Amang, Pak Tomy itu orangnya penyayang, baik hati dan selalu berbaur dengan rakyat sekitar. Tanah seluas ini, oleh Pak Tomy dibeli kepada beberapa masyarakat Bogor di sini dan juga orang-orang jauh dari luar Bogor, seperti Magelang, dll. dahulu, lanjut Pak Amang, tanah ini adalah lahan sawah, tapi kemudian setelah dibeli oleh Pak Tomy sekitar dua puluh tahun lalu, perlahan sawah-sawah itu berubah berganti berbagai pohonan.

KALDERASUNDA

KALDERASUNDA

Melihat tanah luas Pak Tomy, batin saya tergerak ke kampung, tentang orang-orang di kampung saya yang sejak bercokolnya perusahan nasional maupun multi nasional, yang membawa masuk uang dengan triliunan rupiah itu, orang kampung dibohongi dengan uang, diambil tanahnya, ada yang gratis memberikan tanahnya ke perusahan, maupun ganti rugi lahan dengan harga yang sangat murah, tujuh ribu rupiah per meter.

Orang kampung menggantikan tanahnya dengan uang, sedangkan Pak Tomy menggantikan uangnya dengan tanah.

Ketika mobil berhenti, sebuah rumah dengan model dan gaya arsiteknya yang belum pernah saya lihat sebelumnya, membuat saya sedikit agak kikuk. “Wuih.. rumah siapa ini, besar sekali..”. kami turun dari mobil dan langsung menuju rumah. Beberapa orang di beranda rumah besar itu menyambut kami. Bersalam-salaman sambil memperkenalkan nama. Dan benar dugaan saya, Om Yoyok ada di sini, Mbak Dinar, Bang Sancha, juga di sini. Om Yoyok berdiri di depan pintu rumah lalu bersalaman dengan kami. Tapi ada sebagian orang yang belum kami kenal. Pikirku, mungkin keluarga di dalam rumah besar ini. lalu kami dipersilahkan masuk kedalam rumah. Di atas meja, ada makanan banyak sekali, nasi kuning, nasi putih, daging ayam, kerupuk, ikan nila goreng, tempe goreng, dan makanan lainnya di taruh di atas aya-aya yang dialas dengan daun pisang dengan ukuran mengikuti ukuran aya-aya. Piringnya piring bambu anyam dan diatasnya dialas pakai daun pisang juga. Selama di SAINS, kami belum pernah berhadapan dengan makanan sebanyak ini. di sisi kanan beranda rumah, ada beberapa orang duduk bercerita. Satu-persatu kami salam-salaman dan memperkenalkan nama. Di antara mereka adalah Afrizal Malna dan Pak Hanafi yang saya kenal hanya lewat buku mereka, dan lewat internet. Saat itu, bahkan hingga sekarang saya menyadari bahwa ini pertemuan yang sangat berharga bagi kami, terutama diri saya sendiri. Sebab kami dipertemukan dengan orang-orang baik yang punya banyak pengalaman belajar, yang telah matang dalam proses belajar, dan tentu memiliki keluasan pengetahuan.

Masing-masing mengambil makanana lalu menyantapnya di sisi kiri beranda rumah. Sambil makan, saya memandang sisi kiri kanan rumah ini. Perabotnya seperti kursi, meja, dan arsitek rumah ini, saya merasa seperti berada di zaman kerajaan lalu. Ditambah dengan beberapa pendopo di sekitar rumah besar ini yang juga berornamen dan gaya arsiteknya yang sama. Entahlah, padahal saya sendiri tidak pernah hidup di zaman itu. Tapi sepintas saya merasakannya demikian. Rumah yang hampir delapan puluh persen bahan bangunannya dari kayu dengan ukirannya yang indah. Setelah selesai makan, beberapa menit kemudian kami berkumpul di salah satu pendopo. Pendopo inilah yang kami jadikan sebagai pusat berkumpul untuk kegiatan-kegiatan lainnya.

Sekitar sembilan belas orang kami berkumpul. Bercampur bahagia dan bingung saya bertanya-tanya dalam hati, dalam pertemuan ini apa yang akan dibahas, apakah kita akan menggagas satu program belajar, ataukah ini sekedar pertemuan sementara, seperti apakah nanti dalam pertemuan ini. Pak Afrizal Malna membuka pertemuan itu dengan membagi-bagikan sebuah buku puisinya kepada kami. Dan setelah itu, ia melanjutkan, berbicara mengenai apa maksud kita berkumpul di sini. Lalu satu-persatu mulai bercerita mengenai berbagai hal, tentang kampung, kami termasuk bercerita tentang Halmahera.

Inti dari perkumpulan itu, adalah kita sepakat menjadikan tanah Pak Tomy ini sebagai tempat belajar bersama, berkarya bersama, dengan dinamakan tempat belajar ini sebagai KALDERA SUNDA.

*Tulisan ini masih bersambung ke tulisan saya sebagian yang belum rampung

2 pemikiran pada “DARI SAINS KE KALDERA SUNDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s