Pulang Kampung

Dan kami hampir tak mengenal apa-apa kini

Suara-suara yang menabrak sukma hari ini

Di penuhi muatan basa-basi, dan rasa sakit hati

Sebab kami tak lagi mengenal bahasa

Dan meninggalkan majelis rasa

Hingga robohnya bangunan budaya

Beberapa bulan lalu, saya meninggalkan kota

Dengan kokoh niat menuju kampung kita

Pulang kampung adalah perjalanan menempuh makna

Menyapa damai dan bersenggama dengan bahagia

Tapi kawan, kini kita dapat apa dari bahasa itu, “pulang kampung”

Siapa yang akan membimbing kita menuju kampung

Menuju bahasa yang tak biasa, dua kata yang siapapun ia

Pasti mengenalnya, berdamai dengannya…

Alam dan manusia, mungkin akan sia-sia

Lihat saja pulau-pulau bersejarah itu

Atau pantai-pantai yang penuh kenangan di situ

Ditebang, digusur, dikeruk, dikotori

Tanpa penghormatan dan kemuliaan

Tanpa belas kasih kemanusiaan

Lihat pula seorang ibu tua di bawa terik itu

Menggendong anaknya dan mengais rejeki di tebing-tebing batu

Sedang di samping kiri dan kanan mereka, berdiri rumah-rumah ber-AC

Pulang kampung kini bukan  lagi bahasa kita

Kata-kata itu bagai sembilu

Bagai angin lalu

Yang menusuk-nusuk qalbuku

Saya bernasib pilu, berlapis luka, dan dikepung duka

 

Lalayon kini tak lagi mendapakan tempatnya

Kabata kini berlarian entah di mana, entah kemana

Belantara hutan dan gugusan gunung-gunung

Tidak untuk di keruk oleh tangan-tangan serakah

Tidak juga untuk penjilat tahta

Kawan, kini saya tak dapat pulang kampung

Sebab Haltim bukan kampung saya dahulu

Perahu Haltim telah ditenggelamkan kedalam lautan modernis

Sepanjang mata dan rasa memandang, hanya pemandangan miris

Bila dahulu modal kampung adalah keikhlasan dan kekeluargaan

Kini dirubah jadi transaksi untung rugi

Dan mengundang petaka

Maka dengan puisi ini saya bersaksi: bahwa sejarah dan budaya

Adalah jati diri ummat manusia, hakekat semesta raya

Bila hilang salah satu, hilang seluruhnya

Sungguh kawan, ini hari saya tak lagi pulang kampung…

Apakah dan Siapakah yang mesti di selamatkan?

Kampungkah?

Kotakah?

Manusiakah?

Atau alam?

Terimakasih!

Mabapura, 06-06-2014
Rachmat Marsaoly

*Puisi ini pernah dimuat dalam majalah Salawaku edisi 1 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s