Tuhan dan Manusia Modern

Dalam Tapak Sabda Fauz Noor menulis ‘’ Dalam kehidupan manusia, jauh di kedalam hatinya ada bahasa tersembunyi yang hanya dirinya saja yang mengetahuinya’’. Sudah tentunya Fauz Noor ingin memberikan satu pemahaman kepada kita bahwa sekalipun manusia dalam berkelimangan harta benda apalagi dalam keterpurukan, semua manusia berjalan dengan satu bahasa dirinya yang bersifat subjektif dan universal. Subjektif karena hanya dirinya yang mengetahui dan universal karena ia berada pada semua manusia. Inilah bahasa fitrah manusia yang senantiasa membimbing dan menjaga diri kita dari situasi dan kondisi apa pun. Seorang Filsuf sekaligus tokoh revolusi India Mahatma Ghandi menyebutnya ‘’ suara kecil hening di dalam hati’’. Begitu pula Hafiz menyebutnya “ suara kemenangan dari sebuah jiwa yang terjaga”. Dialah fitrah, nurani manusia.

Semua manusia di dalam bahasa teologi adalah wakil Tuhan. Ia adalah khalifah fil ard yang di utus. Olehnya itu sudah sepatutnya kita menyadari kehadiran kita di sini mempunyai suatu sebab dan tujuan yang jelas, bukan suatu kebetulan yang tanpa tujuan—penciptaan. Manusia kata Imam ‘Ali As adalah semesta yang tak terbatas. Inilah mengapa Qur’an menyebutnya pemimpin alam semesta. Lalu pertanyaan yang mesti dijawab, apakah semua manusia sudah menyadari hal tersebut? Apakah manusia telah mampu menemukan hakikat manusia itu sendiri?

Sedikit kita menolehkan pandangan kedalam realitas modern, fakta mengatakan banyak dari manusia yang lebih mementingkan dan mengutamakan kepentingan duniawi ketimbang memaknai hakikat hidup itu sendiri. Manusia senantiasa lebih mengutamakan hal-hal yang berada di luar dirinya—dengan tidak mengatakan menafikannya—dari pada yang berada di dalam dirinya sendiri. Manusia sibuk dengan dunia luaranya, manusia gembira dan menangis karena kejadian yang diluar, dan menjadi lupa sama sekali dan tak sadar akan satu dunia yang berada di dalam dirinya sendiri. Menjadi seakan-akan segala yang di luar itu adalah jati diri yang sesungguhnya. Sebagai contoh; seseorang yang memiliki mobil mewah ia terus menjaga dan melindungi mobil itu semaksimal mungkin dari segala yang dapat merusaknya. Alih-alih ketika semua yang ditakutkan itu jadi kenyataan (mobilnya rusak atau hilang dicuri) orang ini seakan-akan kehilangan daya cerianya seperti dirinya tidak lagi berharga.

Ironisnya lagi kejadian semacam ini ada yang sampai melakukan tindakan bunuh diri karena ketidaksanggupanya menahan beban kekecewaan terhadap sesuatu yang dijunjung tinggi nilainya melebihi nilai dirinya sendiri. Namun, di sini bukan berarti kita menafikan segala yang diluar diri kita, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita harus lebih melihat kesejatian diri kita yang sesungguhnya. Karena kesejatian diri tidak selamanya yang berada di luarnya, tapi juga yang berada di dalamnya. Logisnya adalah bagaimana mungkin kita menemukan makna kesejatian sesuatu itu di luar sesuatu (kesejatian diri di luar diri?)

Galibnya kita di zaman dewasa ini ada yang hanya mengisi kekosongan perutnya dan saling mengisi waktu dengan perebutan kekuasaan. Didukung dengan sistem sosial yang tak berpihak pada perikemanusiaan. Negara yang tak pernah mendengar jerit pahit kaum jelata di jalanan. Dan pemerintah yang hanya mengisi kantong-kantong mereka. Semuanya telah merasuk jauh kedalam batin kapitalisme dan imperialisme. Ketika segalanya menjadi seperti ini, maka di manakah makna kesejatian manusia itu, di manakah letak perbedaan manusia dengan binatang? Manusia modern tidak lagi menyadari tentang suatu hal yang paling penting dan substansial dari semuanya di dalam kehidupan ini. Sehingga banyak yang lupa akan suatu kuasa yang lebih tinggi dari kuasa manusia. Inilah kelalaian manusia dalam mengahadapi arus dunia yang ada pada dirinya sendiri maupun di luar dirinya. Manusia kini tak lagi punya pegangan (landasan iman) yang kokoh, penyembahan kepada-Nya hanya berisi doa-doa ngemis, ketundukan pada-Nya malah membuat perilaku hidup makin angkuh dan brutal (ekstrimisme).

Tuhan dalam manusia modern banyak yang mengenalnya sebagai sesuatu yang fiktif, dan tanmakna. Ada pula yang hanya mengenal-Nya sebatas konsepsi belaka. Lebih tragis lagi, Tuhan dianggap sesuatu yang berada di langit, atau berjarak dengannya. Tuhan semacam ini adalah Tuhan yang terbatas karena ke-takbermakna-anya dan hanya berada pada tataran konsepsional. Sayangnya lagi berbagai penafsiran tentang Tuhan telah disempitkan dalam sebuah penafsiran yang dangkal. Diskursus tentang Tuhan telah marak terjadi dari semula manusia hadir di muka bumi ini, Tuhan mulai diperbincangkan­­, dari disiplin ilmu yang bersifat aqliah hingga naqliah. Dari perenungan individu hingga pada kajian-kajian umum. Mengkaji tentang makrokosmos hingga mikrokosmos demi mengetahui relasi manusia dengan Tuhan juga hakikat Tuhan itu sendiri. Ketika Tuhan dikenal hanya sebagai yang fiktif dan tanmakna atau Tuhan sebagai sebuah konsepsi belaka, maka kebenaran tentang adanya Tuhan yang Maha dekat dan Maha meliputi, yang berkedudukan dalam diri seperti yang telah banyak dibicarakan dalam teks-teks Qur’an dan Hadits pun tidak lagi dihiraukan. Akhirnya Tuhan mengalami keterasingan dalam jiwa manusia atau Tuhan yang jauh dalam keyakinan manusia. Inilah Tuhan manusia modern. Tentunya yang dimaksud manusia modern di sini adalah manusia yang ditimpa keglamouran atau terbawa arus duniawi dan yang terpenjara oleh pengetahuanya sendiri. Kendati demikian, seperti kata Fauz Noor, manusia tetap terusik oleh bahasa dirinya atau fitrahnya. Sebab fitrah manusia tidak pernah hilang atau musnah, pula tidak pernah di kotori atau di lumuri oleh kotoran apapun. Ia adalah bawaan alami dan sesuatu yang melekat kuat dalam diri manusia. Dialah fitrah yang diciptakan Tuhan menurut fitrahnya. Karena itu dalam puisinya Rendra mengatakan; Fitrah manusia tidak pernah hangus dibakar oleh maksiat, sekalipun ditebang putus di batang, fitrah manusia tetap bersemi.

Terakhir dari tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan M.Said Marsaoly dalam pendahuluan jurnal Mulla Shadra; Tuhan sering dipahami sebagai sesuatu yang asing, jauh, abstrak, dan enigmatic. Tuhan dalam arti ini sering pula tidak luput dari tafsiran-tafsiran mental konsepsional yang akhirnya menelurkan slogan’mencari Tuhan’. Ia dipahami sebagai sesuatu yang lain, berjarak dengan kita, dan berada pada tempat tertentu.

Jogja , 19 Juni 2012

RM

2 pemikiran pada “Tuhan dan Manusia Modern

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s