Anik Renungan’i

Ketika penampilan ragawi luput dari tatapan mata, lalu kemudian kita memasuki relung-relung hati, maka segala yang bersifat ragawi menjadi di lupakan. Begitu tulis Rabindranath Tagore dalam Bimala1. Selanjutnya, yang nampak hanya sesuatu yang sederhana, halus seperti sutra dan lebih halus lagi, indah bagai pelangi dan lebih indah dari itu, membuat takjub dan takjub lagi, kemudian segalanya menjadi istimewa. Terkadang ‘sesuatu’ itu suka menyelinap: di balik imaji, di atas akal dan di dalam hati bahkan lebih dalam lagi. Ialah nurani. Dialah yang tersimpan jauh kedalam sekaligus diatas yang paling tinggi.

Pengabdian, terkadang diartikan sebagai pengorbanan. Entah pengorbanan yang dalam arti material atau inmaterial, bekerja atau berdoa, entah meminta atau memberi. Adalah penyerahan diri. Menyerahkan diri dalam bentuk materi maupun inmateri. Lebih halus dan lebih tulus. Seperti Al-Khalilullah (Ibrahim As) mempersembahkan atau memberikan Ismail As putranya kepada Al-Haq. Ibrahim As mempersembahkan putra terkasihnya dalam bentuk kurban sebagai jasad: materi. Dan dengan sepenuh ikhlas diri Ibrahim berserah pada perintah-Nya: Inmaterial. Adalah pengabdian Ibrahim dan Ismail kepada Al-haq. Inilah penyerahan total.

Atau “pengabdian bagi seorang perempuan adalah kecantikan dalam bentuk bathiniahnya,” tulis Tagore dalam Bimala. Persis yang di maksud Mahatma Gandhi, “kecantikan adalah wujud kesempurnaan jiwa, bukanlah fisik”.

Manusia tanpa mampuh mengabdi dengan penyerahan total (materi dan inmateri), mungkin saja manusia akan terjebak dalam hutan imajinasi yang membingungkan. Adalah lebih baik berjalan terus dengan spasi dan pasti, dengan rapih, agar dapat menyantap nikmatnya ‘sesuatu’ yang berada di balik imaji, diatas akal, dan di dalam hati. Dia yang halus, indah membuat takjub, yang rendah sekaligus paling tertinggi. Yang menjadikan segalanya indah sedemikian rupa. ‘Sesuatu’ yang membuat Al-khalil dan putra terkasihnya rela berkorban dan dikorban. Adalah hakikat suci dan sejati.

Filosofis

Dalam raga ada hati, dalam hati ada ruang kosong. Suatu ruang yang tak terusik. Dialah nurani itu, kecerahan itu, kejernihan sungai batin yang mengalir segar, dialah matahati. Dalam sajaknya Ws Rendra, “Nurani tak pernah habis ditebang dan tak pernah hangus dibakar, ia tetap kokoh berdiri.” “Dialah penguasa satu-satunya, dialah suara kecil hening di dalam hati”, tutur Gandhi. Atau berkata Imam Ja’far Ash-shadiq, “Dialah yang tersembunyi dalam penampakannya dan yang nampak dalam ketersembunyiannya. Barangkali!

RM, Jogja 14052012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s