Keterasingan Budaya Lokal di Tengah BudayaGlobal

Kini, masyarakat Indonesia disuguhkan pelbagai macam budaya dan gaya hidup baru: berbicara, berpakaian, makan, tidur, hingga gaya berteman. Semua ‘budaya gaya’ itu berhasil masuk ke dalam pikiran dan hati generasi zaman ini. Sehingga identitas kearifan lokal (local wisdom): bahasa, tarian, musik dan arca kebudayaan seakan karam di laut modernitas. Tak ayal lagi, bila seorang teman membawa budaya zaman dahulu, budaya daerah misalnya, ke tengah budaya zaman ini, semua mata akan berpaling, kemudian menghujamnya dengan sindiran dan tawa.

Seperti judulnya, tulisan ini berupaya mengulas kebudayaan Haltim yang makin hilang itu. Bila kita meluangkan waktu sejenak dengan pikiran dan hati terbuka, melihat kebudayaan Haltim kini. Teranglah, sendi kebudayaan Haltim perlahan dikikis arus budaya global. Problem yang kian pesat itu tidak lain, karena runtuhnya benteng kearifan lokal yang syarat makna, di bawah kaki globalisasi yang absurd nilai. Ini terjadi karena kita (baca: masyarakat Haltim) tidak faduli nilai kebudayaan. Di samping kurangnya perhatian instansi pendidikan dan pemerintah setempat.

“Kemajuan” dan perkembangan di Haltim yang kian pesat itu, entah dari politik, hukum, ekonomi, industri, teknologi dan lain-lain. Semua itu mesti dibangun di atas kebudayaan lokal. Jika tidak, segala gerak perkembangan dan kemajuan itu akan mengalami kekeringan nilai dan ketimpangan sosial. Fenomena Haltim kini, tak dapat disangkal, makin hari ia semakin kehilangan jati dirinya.

lingkungan-hidup

Pulau Gee: Salah satu pulau di Haltim, di depan kampung Buli. Sejak tahun 1990-an oleh perusahan (Pt. Geomin) melakukan pengerukan untuk biji nikel, hingga kini masih berlangsung. Hasil diambil perusahan tak beriringan dengan peningkatan (ekonomi) kesejahteraan rakyat Haltim. Kondisi Gee kini yang makin hari semakin rusak itu beriringan dengan nasib masyarakat yang saban hari makin miris dan tergerus terus.

Sebab, Haltim telah dimasuki pelbagai budaya asing yang tanpa sadar mengaburkan nilai-nilai luhur. Industrialisasi yang merajalela, koorporasi raksasa yang menancapkan kukunya, hampir merobek habis busana budaya Haltim.

Kilas sejarah

Secara historis, Kabupaten Halmahera Timur dimekarkan pada tanggal 31 Mei 2003 oleh para Tokoh-tokoh Haltim. Kawasan Haltim meliputi: desa Bicoli hingga Sondo-sondo. Masyarakat Haltim memiliki falsafah hidup: Ngaku Se Rasai, Budi Re Bahasa, Sopan Re Hormat, akal re wlou, fartelem re faparacaya, faisayang re fagogoru. Keenam falsafah ini telah mengakar kuat dalam relung masyarakat Haltim kala itu. Sebuah falsafah yang digagas dan diletakkan oleh para leluhur Haltim tujuannya satu: menjaga keseimbangan hidup.

Kita tahu, Haltim kaya sumberdaya alam darat maupun laut. Meskipun segi pembangunan Haltim tak seperti daerah lain. Dari segi perekonomian, para petani dan nelayan bertukar panen dan saling berbagi hasil. Dari segi pendidikan, para guru dan murid saling membantu, menghormati dan menghargai sesama. Bahkan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, masih ada mata pelajaran bahasa daerah dan bentuk kearifan lokal lain. Namun, perkembangan zaman, wajah kebudayaan perlahan pudar. Haltim dahulu tak dilihat lagi.

Haltim kini berada hampir di penghujung kehancuran kebudayaannya. Sekalipun di ruang lain, sisa kebudayaan Haltim masih bisa kita hirup. Kini teknologi semakin meningkat, industrialisasi melebar dan ruang kebudayaan makin tertutup. Keadaan ini tidak hanya mengancam tatanan kebudayaan tetapi juga mewabah hingga tatanan ekonomi dan pendidikan.

Menafsir industrialisasi

Untuk menafsir teknologi dan industrialisasi, dalam bukunya Kebudayaan Sosialis Soedjatmoko menulis, “Teknologi dan industrialisasi haruslah bertumpu pada semangat kebudayaan. Ketiadaan semangat kebudayaan hanya menjadikan teknologi tak lebih sebagai mesin-mesin alienasi dan bukan sahabat akrab masyarakat”. Tentu teknologi tak kita tolak. Namun, teknologi yang diperlukan adalah teknologi yang ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal.

Teknologi yang akrab dengan masyarakat, seperti keakraban petani dengan cangkulnya atau nelayan dengan jaringnya. Bukan teknologi merusak dan menghilangkan segala. Begitu pula industrialisasi. Oleh karena itu, kebudayaan harus kita pandang sebagai suatu tata kehidupan, pijakan awal suatu perubahan. Apabila kebudayaan kita pandang sebagai suatu tata kehidupan, dan kehidupan itu adalah prosesnya, maka kebudayaan sebagai suatu visi tertentu menuju suatu perubahan.

Sebab, kebudayaan bukan hal yang statis, melainkan sesuatu yang berproses dalam transformasi. Ironisnya, para elite politik dan pemerintah Haltim umumnya tidak dapat mengambil kebijakan menstabilkan situasi kebudayaan dan kondisi Haltim yang sangat memprihatinkan itu. Alih-alih mengambil keuntugan dan kepentingan mereka sendiri. Segala peraturan dan ketentuan pemerintah hanya menjadi alat dan fungsi untuk menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan menjadi bencana bagi kelompok lain.

Perlahan kebudayaan Haltim menjadi terasing di tengah-tengah maraknya kehadiran budaya-budaya baru. Segala polemik dan problema yang terjadi bukan untuk diselesaikan malah sebaliknya melahirkan kerakusan dan kebejatan kelompok pemuas hasrat dan merisaukan kehidupan masyarakatnya. Apabila fakta kebobrokan ini tidak dapat dibendung dan pemerintah hanya acuh tak acuh. Maka, di sinilah puncak keterasingan masyarakat oleh kebudayaannya sendiri. Sehingga Haltim kehilangan jati diri dan menjadi ‘diri yang lain’.

Dengan begitu, agen sadar sudah waktunya mejawab problem ini. Ditempuh dengan metode yang jelas dan terang. Berbasis kesadaran, pengetahuan, spritualitas dan kebudayaan. Itu bisa kita mulai dengan, menjawab soal-soal mendasar: Siapakah kita, apa itu Haltim? Berikutnya, meminjam Soedjatmoko, dalamKebudayaan Sosialis, pedoman manakah yang harus kita ikuti menghadapi segala hal yang menyimpang serta segala persoalan dengan tidak kehilangan pribadi dan identitas kita sebagai anak negeri.

Itulah pertanyaan dasar kita. Menjawab tantangan global yang mengancam itu. Semoga!

Rachmat. Jogja, 19, 06, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s